Soal Titip Absen (Lagi)

April 20, 2012
Lagi-lagi saya mau ngomongin soal nitip absen. Tapi memang saya benar-benar anti soal titip absen, walaupun kalau lagi ngerjain tugas saya suka nyontek teman. Saya anggap tugas memang pekerjaan yang masih bisa dianggap pekerjaan yang bisa didiskusikan dengan teman, bukan pekerjaan sendiri. Begitu bukan? Wajar.

Nitip absen ini sering saya lihat di kuliah-kuliah walaupun nggak banyak, baik di prodi sendiri atau di prodi luar atau yang bareng prodi luar. Rasanya apa banget gitu lihat anak-anak dengan gampangnya nitip basen sama temannya. Mungkin dasarnya solidaritas? Hmm tunggu dulu. Bertolong menolonglah dalam hal kebaikan, tidak dalam kemungkaran.

Beberapa hari yang lalu saya ngerasain hal yang nggak ngenakin soal nitip absen. Bukan saya yang coba-coba untuk nitip absen lalu ketahuan, tapi saya ngerasain bagaimana dititipabsenin sama karyawan sendiri.

Sebagai seorang kadiv Tokema, segala hal yang berkaitan tentang operasional Tokema menjadi tanggungjawab saya. Termasuk dalam hal kontrol kedisiplinan karyawan Tokema. Ceritanya gini,

Jum’at jam setengah 3 siang saya masuk Tokema, menyapa beberapa karyawan yang sedang bertugas. Basa-basi mengenai bagaimana hari ini, ada apa? Ramai nggak? Seberapa omset? Wah nggak sesuai target ini, dll. Di waktu saya beranjak masuk, tiba-tiba salahsatu karyawan memanggil lagi, ada hal yang ingin dia laporkan.

Panggil saja itu Pak P. Pak P ini memberikan laporan kalau Pak I sore ini telat lagi buat datang. Dan ajaibnya dia bilang absennya sudah terisi. Kata dia tadi siang ada yang ngabsenin dia. Maksudnya nitipin absen dia. Jadilah saya langsung cek absensi di sekre Tokema. Rupanya memang sudah terisi. Kata Pak P juga katanya ternyata Pak I baru datang jam 3.

Kebetulan juga ini masih jam setengah 3, coba saya buktiin. Apa akan sesuai infonya? Tepat! Ternyata pas jam 3 baru Pak I ini datang. Dengan muka lusuh, dia datang. Kemudian saya tanyain dia, kenapa baru datang, ternyata alasannya macem-macem. Belum sempet saya nyerang soal titp absen saya sudah diserang diskusi soal lain sama  dia, ujung-ujungnya debat. Ya sudah akhirnya saya skip ngomongin titip absen dan mencoret absennya.

Rasanya amat sangat getir bung. Kita telah berjuang mikirin bagaimana mereka kami usahakan naik gajinya supaya makin sejahtera, tapi nyatanya buat disiplin aja susah. Untuk absen aja nitip. Mana usaha ini akan bagus? Akan kembali sukses? Dan sekali lagi saya tekankan saya membenci titip absen. Saya menghargai kerjasama, asal itu produktif. Boleh solidaritas, tapi kalau buat bohong, apa gunanya? Rugi. Setidaknya kalau anda pekerja disebuah perusahaan, yang rugi perusahaan anda. Jika anda mahasiswa, yang punya perusahaan ya diri anda sendiri.

Setidaknya saya sudah merasakan betapa merugikannya perbuatan tidak jujur ini. Apalagi kemudian melibatkan teman lain? Nyontek pakai contekan sendiri saat ujian walaupun itu buruk menurut saya lebih baik daripada harus mencontek teman sempingnya. Saling minta diajari soal tugas itu fine dan bagus-bagus aja. Tapi kalau sudah ada aturan yang melarang, ya harus dipatuhi. Cobalah mengerti mekanisme yang mereka buat tentulah sudah disediakan supaya mengakomodasi kepentingan bersama, atau paling tidak tidak memihak pada salahsatu kubu di level bawah. Masa kita cederai dengan berlaku timpang dan tipu-tipu dalam satu level?

Yang satu enakan tidur di kosan yang satu susah payah pagi-pagi ngampus buat paling tidak dengerin beberapa patah kata dosen yang mengajar, walaupun terus tidur. Mari kita berlaku adil sejak dalam pikiran hingga tindakan.

Touring : Goa Pawon – Waduk Jangari

April 20, 2012
Sabtu (07042012) 16 orang anggota grup touring berangkat ke Goa Pawon (Kabupaten Bandung Barat) dan Waduk Jangari (Cianjur), Jawa Barat. Ada 9 motor yang kami pakai. Keberangkatan dijadwalkan jam 8 pagi.

Jam 8 pagi kita belum lengkap, sedikit menunggu sampai jam 9an. Sampai akhirnya lengkap, kami berangkat.

image

Goa Pawon sendiri merupakan bagian dari Karst Citatah, salahsatu situs geologi yang cukup unik. Jalan ke Gua Pawon didominasi oleh jalanan ramai dari ITB sampai Padalarang. Dilanjutkan jalan kecil yang bermaterialkan batu-batu. Naik turun cukup terjal, untungnya cuma sebentar, tidak seperti pas dari Citambur.

Sampai disana tersembul singkapan batuan-batuan yang unik. Suasananya sepi dan cuaca panas, hari yang mendung. Kira-kira kita di sana jam 11an. Baru masuk, aroma tai kampret sudah kemana-mana. Goanya cukup besar, sayangnya tidak dalam. Tidak ada stalagtit atau stalagmit yang bagus seperti di goa alami tempat lain, tapi segi lika-likunya cukup bagus.

Sampai siang kami berada di sana, sambil nyantai di saung kita mikirin habis ini mau kemana. Sambil nungguin pada gantian sholat ada juga yang minta jambu biji ke rumah penduduk. Kebetulan di dekat musholla terdapat pohon jambu biji yang sedang berbuah dan buahnya lebat. Hmm cukup berkesan, bisa menemukan buah yang bisa ngambil langsung dari pohonnya.

goa pawon

Jam dua kira-kira kami cabut. Keputusannya kita akan terus pergi ke arah Cianjur, baru kalau nemu tempat makan yang bagus dan sesuai minat, kita mampir. Beberapa anak ingin makan Gurame bakar, termasuk saya. Akhirnya kita berangkat ke sepanjang jalan ke Cianjur.

Terus terang ke jalan menuju Cianjur adalah pertama kali bagi saya. Dulu pernah lewat namun menggunakan bis dan itu malam. Jadi waktu itu tidur. Sepanjang jalan lumayan lancar, motor kita pacu diatas 60 kmpj. Cukup teratur barisan kami.

Di jalan kami juga cukup terhibur, ada dua sungai paling tidak yang menurut saya menarik. Citarum, dalam dan lebar. Sungai yang mengelilingi Bandung. DASnya sebagai penopang kehidupan Bandung. Dari air minum sampai limpasan banjir.

Sampai pertigaan Selajambe kami berhenti. Khai terpikirkan sesuatu. Ke kanan ada objek yang menarik sepertinya. Akhirnya kami belok ke kanan.

Jalanan mulus dan sepi kami libas dengan menyenangkan. Rupanya kami bertemu sebuah objek wisata. ‘Waduk Jangari’ namanya. Plang selamat datang, dan kita harus bayar 20 ribu. Ya 20ribu untuk 16 orang. Waduk Jangari ternyata bagian dari Waduk Cirata.

Kami sampai juga di waduk itu. Waduknya tidaklah kecil, isinya cuma air yang penuh dengan budidaya ikan. Di pinggir jalan nampak tempat makan yang cukup menarik untuk disinggahi. Kesemuanya menawarkan ikan bakar. Tepat sekali dengan kebutuhan kita yang ingin makan ikan bakar.

Akhirnya kami singgah di tempat makan yang letaknya di tepi waduk. Tapi sayangnya di sini memang tidak ada Gurame. Akhirnya kami cuma beli 2 kilo untuk Nila dan 2 kilo untuk Bawal.

Akhirnya semua makan, semua kenyang. Dan kita pulang maghrib. Berkali-kali dengan mudahnya kita nyalip mobil dan truk. Diakui beberapa teman langganan rutin Touring, pola touring kali ini paling enak. Kecepatannya stabil diatas 50 kmpj dan posisinya tidak jauh-jauh.

Walau tempatnya tidak terlalu spesial, touring kali ini sangat menyenangkan. Selain karena jumlahnya yang banyakan, juga karena kita naik motor dengan pola yang yang pas mantap. Ide-idenya pun banyak bermunculan di sini. Termasuk membuat Grup Touring Magazine ini lebih terstruktur. Memiliki pembiayaan rutin, sampai mau bikin rompi atau jaket.

photo by @alkindirizky

Opini : Kaderisasi Pengobyek

Maret 14, 2012

Fenomena ngobyek di even kampus semakin menguat. Hal ini cukup menggelitik dan unik untuk dituliskan. Terutama jika dikaitkan dengan mental para pemimpin kita. Ya, mental para menteri dan wakil rakyat kita yang sukangobyek proyek pemerintah.

Sudah setahun saya menjadi staf souvenir Tokema, kerjaan saya mencari proyek pembuatan souvenir di even-even kampus. Hasilnya tidak memuaskan, atau memang usaha saya yang masih kurang jadi proyek yang bisa saya tangani baru beberapa saja. Kendala yang saya hadapi paling banyak ada di internal kepanitiaan itu sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan, soalnya ada di luar sistem.

Kepanitiaan sebuah acara setingkat mahasiswa akan jadi obyek nomplok bagi beberapa ENTREPRENEUR MUDA kampus ini. Ambil saja kasusnya pengusaha pembuatan kaos atau merchandise. Acara kampus pastilah menjadi sasaran empuk percobaan diri menjadi pengusaha tingkat pembuat kaos.

Ketika saya coba tawarkan Tokema sebagai vendor pembuatan atribut kegiatan atau identitas, seringkali jawaban yang saya dapat dari divisi produksinya sudah mendapat vendor. Tergelitik merasa penasaran, brand manakah yang mampu mengalahkan pamor Tokema di kampus ini? #sombong

Telisik mengusut, ternyata ada oknum tertentu dalam internal kepanitiaan yang sudah pasang badan di depan divisi produksi “saya bisa bikin tuh kaos”. “Saya punya brand, bisa murah dan hasilnya oke”, katanya. Pas saya tanyakan apakah ada semacam buka tender buat vendor produksi tersebut? Jawabnya mengecewakan. Untuk kegiatan kecil mungkin bisa ditolerir, tapi untuk yang skalanya nasional atau menyangkut hajat hidup seluruh massa kampus, ternyata tidak ada open tender. Padahal dari tetua dulu bilang biasa kita Tokema masuk tender produksi, walau kadang kalah oleh produsen sebelah, tapi setidaknya ada.

Mungkinkah fenomena pemimpin yang suka ngobyek adalah hasil dari masa muda yang seperti ini? Sering kita mendapat laporan kalau proyek-proyek milik pemerintah menjadi makanan empuk perusahaan milik pemimpin-pemimpinnya. Inikah fenomenanya?

Hukumnya ngobyek itu apa saya juga kurang tahu. Haram seperti korupsi, atau mubah? Mungkin jika memang dia jujur ngobyek untuk kepentingan umum dan tidak mengambil keuntungan pribadi mungkin itu boleh, tapi tidak jarang saya pikir ada penambahan nilai atau marginasi harga. Lebih oke lagi kalau bilangnya itu harga dari produsen, tapi nantinya dia dapet insentif khusus dari produsen. Ya yang cukup parah ya apabila perusahaan yang menanganinya memang perusahaan milik salahsatu panitia, persis para dewan-dewan yang duduk di kursi panas senayan pastinya. Seperti proyek-proyek pembangunan fasilitas macam WC, gedung baru dan lain-lain.

Mental. Semuanya kembali pada mental bangsa kita, manusianya. Mental yang dibentuk di jaman kuliah adalah mental pengobyek, tidak bisa disalahkan bila nanti dia memegang jabatan di eksekutif atau legislatif mereka akan menjadi manusia-manusia penggerogot anggaran. Bahkan bila memang menggiurkan, cara-cara seperti suap menjadi alternatif mendapatkan obyekan.

Segalanya masih penuh misteri, apakah iya mental pengobyek tersebut sudah tumbuh sejak masa kuliah kini? Saya pikir iya. Inilah pembelajaran yang mesti kita pertanyakan. Kadang pembelajaran menjadi pengusaha di kampus begitu kuat, tapi ketika mereka sudah menjalankan bisnisnya, mereka akan bertemu dengan fenomena-fenomena semacam ini. Lalu apakah mereka akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ringan? Lalu enteng-enteng saja menerobos demi kelangsungan bisnisnya? Atau berpikir panjang dulu, merasa menjadi sebuah beban dosa?

Kepada manusia yang mengaku entrepreneur muda, apakah kalian memahami ini? Ini bukan hal yang remeh, ini soal moral dan mental. Semoga kalian menjadi orang yang bijaksana menentukan pilihan. Mari kita hidup dalam sebuah kejujuran dan keterbukaan, menyambut indonesia yang jujur, tanpa obyek mengobyek.

Opini : Menilik Kembali Ancaman

Februari 26, 2012

Sebuah ancaman itu kian nyata, sudah dekat seperti maut. Sekali sentuh, mati.

Beginilah dunia jika manusia sudah lupa pada sesama. Jerat modal membuat negeri memikirkan diri sendiri. Modal yang bagimana? Modal atas segala pembangunan di eranya. Salah? Pasti. Pernah kulihat di sebuah tayangan kabar buruk, bahwa dunia nanti akan dikuasai korporasi, bukan pemerintahan. Sekali lagi ancaman terbesar ada pada dunia ekonomi. Neoliberalisme menantang dengan congkak. “Siapa lawan kami selanjutnya setelah kita mampu mengontrol kebijakan?”

Bukankah kalian sudah mengamati, sekian banyak orang terkaya di dunia itu berdarah zionis. Mereka bukan lama lagi akan menguasai dunia melalui pemodalan. Uang yang mana menjadi tujuan hidup kita. Di tanah indonesia bukan hal yang baru, tentu sudah muncul sedari kemerdekaan. Kini kalau kalian melihat Papua, melalui Freeport mereka memodali eksploitasi. Hingga ketika ada perselisihan dengan gampangnya mereka mengerahkan polisi yang mutlak pertanggungjawabannya ke pemerintah cukup dengan pemberian insentif yang menggiurkan.

Dari platform perjuangan organisasi kami jelas nyata sekali bahwa kedaulatan politik bukan lagi yang utama untuk kita perjuangkan. Yang perlu mendapat perlu mendapat perhatian utama yakni kedaulatan ekonomi. Bagaimanapun terbentuknya era imperialisme dan kolonialisme baru yang kita sering sebut neokolonialisme dan neoimperialisme itu berawal dari neoliberalisme.

Manusia dibuat miskin dengan konsumsi maksimal, atau ketika sedang dimiskinkan oleh Tuhan atau maksud saya terkena bencana alam, diberi asupan yang maksimal dalam bentuk pinjaman lunak. Dengan segala keterbatasan manusia yang berkodrat individualis, gampang saja pemodal mengatur dan menggerakkan yang di sana. Lambaian tangan yang memikat dan anggun. Dewi pemuas ambisi pribadi tersenyum manis.

Kembali kekalahan bangsa sudah kian dekat. Ketika wajah politik kita rombeng oleh korupsi, lagi-lagi individualisme di atas kepentingan bangsa. Mati rasa mungkin kian menjangkit jiwa-jiwa pemikir yang gampang terlukai hatinya. Apatisme terhadap perjuangan nasib bersama kian ditinggalkan. Manusia-manusia lebih gemar mengembangkan komunitasnya. Yang di sana kini menjadi pertunjukan sandiwara kucing-kucingan. Bergilir menjadi kucing, bergilir menjadi tikusnya.

Yang paling sadis dari perilaku manusia beralih ke komunitasnya adalah ketika idenya mulai disusupi neoliberalisme. Melalui pesan sponsor mereka mendekati masyarakat. Akan sangat bahaya jika pemerintah tak turut mengulurkan dan memilih melanjutkan sandiwaranya. Privatisasi komunitas kian berkembang menjadikan sponsor sebagai juru selamat dan akhirnya dianggap sebagai Tuhan. Penuhanan ini berlanjut kepada kepatuhan menjalani kehidupan manusiawinya. Tiap korporasi punya pasar masing-masing.

Wajar jika nantinya bangsa akan berganti menjadi perusahaan. Para intelektual juga kian hari kian berorientasi pada korporasi. Perusahaan atas dasar rasa lapar. Manusia pemikir yang cerdas yang kini kita sebut sebagai insan cendikia itu sudah siap menggantungkan nasibnya pada perusahaan. Makin bonavide itu perusahaan, makin cantik hidupnya kelak. Betapa bangsa dilupakan. Atas nasib dan masa depan yang gemilang, manfaat hanya kita pakai untuk diri sendiri. Untuk kepuasan individu dan keluarganya.

Apa jadinya bila para pengambil kebijakan terkontrol korporasi dan cenderung menikmati sandiwara yang sedang diketawai oleh pemilik korporasi itu sendiri, rakyat jelata dimagneti pemodal-pemodal, dan kaum intelektual bakal menggantungkan nasibnya ke perusahaan bonavide? Sepi, negara menjadi sepi. Lalu kian hari menghilang. Benar, bangsa akan hilang. Bangsa akan mati.

Nantinya negara-negara kian bernama General Motor, Facebook, Google, Allianz, Vodafone, Conoco Philips, Santander, dan lain-lain. Terlihat kini di timur tengah muncul korporasi Qatar Foundation, ingin menjadikan negara sebagai foundation.

Lalu siapa perdana menteri, presiden, parlemen itu? Mereka hanyalah kartu remi yang sedang dimainkan. Mereka akan kita tertawakan dalam sebuah permainan tepok nyamuk atau gebrakan. Atau akan bermain Werewolf dimana disebuah kampung terdapat penjahat bernama werewolf dan polisi yang mengungkap kejahatan. Pada umumnya politik bukan lagi jadi komoditas, melainkan permainan untuk cucu dan buyut kita.

20022012

Konkritkan Lombok : Monyet Indonesia

Januari 17, 2012

Ba’da jum’atan kami tidak lupa untuk makan. Kali ini kita makan di warungnya bapak petugas keamanan masjid yang malam-malam itu cerita. Letaknya pas tepat di depan masjid. Aku dan Mas Kun memesan gado-gado, Kindi memesan soto lagi. Ah anak itu tak kapok apa makan soto yang hambar ala Lombok lagi? Haha

Semua diluar dugaanku. Gado-gado kami ternyata lumayan enak, soto kindi juga katanya oke. Bahkan di habis, ya meski emang porsinya tak sejumbo yang di warung sederhana seberang. Mungkin juga karena kami lapar soalnya tadi pagi kami memang jujur tidak sarapan, milo segelas apa-apaan sih.

Harganya, kalau dibilang murah, tentu saja. Ini lebih murah dibanding di Bandung malah. Ya, agaknya jangan dibandingkan dengan Jogja. Satu porsi gado-gado dibayar enam ribu, tambah sesisir pisang ambon jadi tujuh ribu. Kekenyangan meliputi keadaan siang ini.

Jam dua kurang seperempat kita jalan. Tujuan kami tentu bukan Senaru, tapi Bangsal. Ada dua jalur, yang pertama lewat gunung pusuk, yang kedua lewat pinggir pantai senggigi, batu bolong dan seterusnya, pokoknya lewat pinggir pantai saja. Kami memilih lewat hutan gunung pusuk. Ya dari peta infonya disitu adalah daerah wisata juga, yaitu konservasi monyet.

Kembali dengan berbekal peta besar dan peta kecil pulau lombok kami memulai backtouring kami. Aku gunakan istilah ini, sebuah touring di dalam backpacking. Mngendarai motor, namun membawa tas punggung penuh dengan perlengkapan hidup.

Baru sampai Mataram kami sudah kebingungan. Ya kita lewat jalan yang tadi menyasarkan kita, jalan lurus searah, seperti Slamet Riyadi di Solo saja. Lagi-lagi kami harus bertanya. Peta tidak cukup membantu di jalan yang rumit ini. Peta cuma jadi ancer-ancer benar atau tidaknya jalan ini. Pada kenyataannya, peta yang kami pegang juga tidak benar, bahkan peta besarnya pun.

Kali ini kita lewat jalan di taman kota. Ancer-ancernya benar, depan adalah Bandara Selaparang. Dari situ harusnya belok kanan lalu kiri lalu kanan lagi. Nah di peta nunjukinnya bisa langsung diterobos, ada jalan lurusnya. Itu yang membuat sebal kali ini. Di sisiku, aku sebagai anak kebumian, mau tak mau kudu percaya peta. Dan aku suda melakukan itu dengan baik. Namun ternyata peta ingkar pada kebenaran. Si pembuatnya punya kesalahan. Di sisi lain, ada orang yang punya insting soal jalan, ketika ada kondisi seperti ini, maksudku kebingungan terhadap jalan mana yang akan dilewati, akan menimbulkan berbagai perdebatan.

Keluar kota aku yakin kembali pada peta. Ketidakdetailan di daerah Mataram sudah berlalu menjengkelkan. Kali ini kita sudah masuk daerah pegunungan. Udara mulai dingin dan segar. Kanan kiri kami pohon-pohon besar, lebat dan hijau. Gunung Pusuk masih jauh. Apalagi jalannya yang naik, setengahjam kita akan melewati jalan naik turun yang mirip jalan Tangkuban Perahu ke Ciater. Bedanya kalau ke Ciater adalah kebun the di sini hutan lebat.

Jalanan asik ini cukup merefresh semangat kami setelah kejadian bodoh pagi tadi di Cakranegara. Kali ini kita harus menikmati alam. Udara segar, pandangan mata hijau, jalanan mulus belak-belok naik. Ahh…

Puncak Pusuk mudah kami jangkau, cuma limabelas menit barangkali. Hutan hijau ini konon banyak hewan-hewan berkeliaran, salahsatunya monyet. Monyet yang di maksudkan belum nampak juga rupanya. Atau memang harus turun dan masuk dalam hutan? Wah, tidak ada waktu lagi kalau begitu.

Setelah puncak kosong tidak ada satwa yang dimaksud jalanan kini menurun. Ah, setelah berbelok-belok itu aku mendengar jeritan-jeritan monyet itu. Pada akhirnya didepan sebelah kiri kami sedang bergelantungan monyet-monyet warna putih dan berambut mohawk. Welcome to the jungle! The real jungle.

Kanan kami tebing, kiri kami jurang. Turun lagi satu belokan nampak satu sudut ramai sekali oleh monyet-monyet itu. Sisi kiri kami sebelum jatuh ke jurang ada tempat agak lapang, disitu berserakan kulit kacang. Di ujungnya ada beberapa orang bule yang sedang asik bermain dengan monyet itu. Lalu kami turun di tepi jalan dekat tempat lapang tersebut.

Seekor monyet di hutan pusuk

Seekor monyet di hutan pusuk


Monyet dan bule

Monyet dan bule


Monyet itu lalu semburat menjauh dari arah kami. Orang asing masuk dalam area mereka, pikir mereka barangkali. Aku yang terdepan di antara bertiga langsung berpose. Ah cekatan, Mas Kun dan Kindi langsung keluarkan kamera mereka. Lalu aku jongkok, mengamati tingkah laku satwa mirip manusia ini. Memang mirip, apalagi buat anak dengan mode rambut mohawk dan dicat putih.

Rasanya iri melihat orang asing itu lebih dekat dengan monyet-monyet ras indonesia ini. Bagaimana bisa seorang yang entah dari benua mana bisa-bisanya mau bermain dengan mereka, sedangkan kita yang masih satu negara saja malah dijauhi.

Pikiranku mengawang kemana-mana, aku menerka-nerka apa yang sebenarnya mejadi penyebab orang asing itu dekat dengan monyet-monyet kita. Yang pertama mereka lebih mirip dengan si monyet dibanding kita orang indonesia. Ya, orang asing itu kulitnya kan putih, rambutnya juga putih atau pirang dan ada juga yang kaki dan tangannya berbulu lebat, atau bahkan karena potongan rambutnya mohawk? Sedangkan kita orang asli indonesia kulitnya coklat, bulu di tangan dan kaki tidak lebat, rambutnya lurus atau keriting dan tidak mohawk. Ah serasis itukah monyet-monyet itu?

Yang kedua adalah, orang asing itu punya kacang dan permen. Seperti tadi sudah kubilang, spot ini ramai dengan monyet juga karena banyak kulit kacang disini. Mereka (bule) itu yang membawa kacang dan kulitnya di sini. Bersama dengan monyet-monyet itu mereka memakannya. Baik, ya maaf kalau kami lupa bawa kacang Nyet. Dasar monyet otaknya perut doang, nggak ada sebersit rasa nasionalisme sedikit saja di otak mereka. Mereka tinggal di Indonesia, berpijak dan bernafas di tanah Indonesia. Adakah teman-teman yang mau saya samakan dengan monyet ini? Tak punya nasionalisme dan cenderung cuma mikirin perut?

Yang ketiga adalah bahwa kami diblacklist karena kami orang Indonesia. Cap yang menempel dalam tubuh kita yang mereka lihat adalah cap manusia-manusia pembawa kerusakan. “Orang-orang kulit coklat dan rambut hitam itu orang Indonesia, kerjaannya memburu teman-teman kami dan membunuh teman-teman kami untuk diambil organ otaknya lalu dijual entah kemana. Duitnya dimakan sendiri.” Begitu doktrinasi yang mereka percayai barangkali. Padahal kalau kalian tahu, yang makan otak-otak teman-teman kalian adalah juga orang-orang yang berkulit putih dan berrambut putih atu pirang itu Nyet.

Monyet-tetaplah monyet, semirip apapun dengan manusia, mereka takkkan mampu berpikir secerdas manusia. Mereka tak perlu peduli tinggal dimana dan harus berwatak apa, nasionalisme bukan apa-apa yang seharusnya mereka punya, karena mereka Cuma berpikir bagaimana bertahan hidup untuk dir sendiri dan keluarganya, iming-iming kacang dari tangan asing pun mereka terima. Alasan nomor dua menjadi yang paling masuk akal. Nyet Nyet, sekali lagi adakah dalam jiwa teman-teman yang masih seperti Monyet? Maaf kalau tersungging.

Kami melanjutkan perjalanan, kenangan bersama monyet-monyet tadi hanya terabadikan oleh sebuah kamera handphone Android milik temanku itu. Tak ada foto berpelukan, tak ada foto bermesraan, bahkan bergandeng tangan pun tidak. Sedih sekali.

Jalanan menujukkan kesegaran udara yang terus menerus. Jalanan yang sepi, namun tak sesepi jalanan ke Kuta. Sebelah kiri jalan terdapat banyak tiang-tiang untuk lampu penerangan jalan. Walaupun memang ada banyak yang rusak. Maksudku rusaknya karena dirusak manusia, dicolong kabel dan lampu-lampunya. Hutan Pusuk, selamat tinggal.

Di ketinggian sekitar 50 meter dpl kami bertemu dengan pemandangan menakjubkan, jauh mata memandang, nampak dua pulau berjajar di sebelah kiri kami. Kami dari bukit bisa merasakan betapa indahnya pulau itu. Ya, itulah Gili Trawangan dan Gili Meno. Akhirnya kita sampai juga di Bangsal. 10 menit dari palabuhan kira-kira.

Biaya masuk pelabuhan ke Bangsal dihitung per motor, karena kita menggunakan dua motor, kita bayar dua ribu. Hawa laut mulai terasa, namun kita masih mampir dulu di warung, barang membeli air mineral, ancang-ancang barangkali di dermaga atau di Gili Trawangannya lebih mahal. Air yang khas, mereknya Narmada. Sebuah produk lokal yang memonopoli, hmm baguskah? Tentu.

Sesampainya di pantai peyebrangan kami parkir, bukan sembarang parkir karena jam-jam segini namanya bukan parkir lagi tapi penginapan motor. Nama tempat parkirinya “Ojo Lali”. Dalam bahasa jawa artinya jangan lupa.. Jangan lupa untuk parkir dan nitipin motor di situ barangkali.

Hal yang terlupa adalah membeli nasi bungkus. Yap, beruntung ada warung yang jualan makanan disitu. Harganya takkan semahal di Kuta. Cukup dengan 3ribu perbungkus. Yap murah sekali bukan? Tinggal empat bungkus kebetulan, kami borong semuanya itu. Sembari bertanya-tanya sama yang punya warung dan orang lokal situ mengenai penyebrangan ke Gili Trawangan ataupun Gili Meno.

Hasil pembicaraan kami adalah bahwa di Gili Meno yang katanya lebih murah panganannnya ternyata lebih mahal dibanding Gili Trawangan. Lagipula Perahu penyebrangan publik (kedepannya kami sebut ‘publik’ saja) sudah tidak ada. Karena ke Gili Meno cuma dua kali publik. Dengan informasi itu sah kita akan ke Gili Trawangan saja malam ini. Hell yeah!!!!!

Konkritkan Lombok : Wisata Jalanan

Januari 12, 2012

Untung jalanan tidak sepi. Semilir angin yang menerpa kami begitu menyegarkan lagi. Udara sejuk menyelimuti tubuh kami sehingga tidak ada kegerahan samasekali. Oh iya, kawan-kawan belum tahu ya. Sweaterku hilang, sweater favorit karena coraknya yang belang-belang dan tipis. Sangat nyaman untuk kondisi tropis yang panas.

Jalan Pantai Kuta

Jalan Pantai Kuta


Kini andalanku tinggal kemeja flanel yang ku beli di gasibu seharga sepuluhribu itu. Entah kenapa aku suka sekali, tiap hari selama perjalanan kain itu tak pernah aku masukkan dalam tas, kalau tidak aku pakai ya aku pegang dan gantungkan di lengan. Walaupun sudah berapa hari pun, aku selalu memakainya.

Motor Kindi yang Mio baru saja diisi bensin, semoga bisa sampai Mataram dan pas habis bensinnya di tangan Pak Hamdan. Hahaha. Sedangkan Revo kita nampaknya masih berisi. Baiklah, pas tukar dua-duanya harus kosong. Seperti pas pertama nyewa, kita juga dapet motor dalam keadaa kosong. Fair kan?

Motor kami melaju, jalanan yang sudah kami tempuh pas berangkat juga kami lewati lagi. Dusun Sade, lalu Sengkol dan akhirnya sampa juga di Praya. Jalan Praya – Mataram cukup ramai seperti jalanan biasa. Kanan kiri kami juga banyak rumah-rumah.

Aku dan Mas Kun agak jauh di depan, Kindi masih tidak terlihat. Kusuruh Mas Kun buat agak pelan saja. Jaga-jaga barangkali da sesuatu dengan Kindi.

Pelan pun Kindi tak hendak menyusul, kami agak gusar. Akhirnya berhenti. Nampaknya juga bensin motor kita sudah minim ini. Tak lama juga akhirnya Kindi menyusul.

“Kok lama Kin, ada apa?”

“Bensinnya habis nih.”

“Hah benar kan?”

“Yaudah ayo beli bensin.”

Kindi dan Mas Kun dengan revonya beli bensin eceran di belakang. Aku menunggu di depan bersama Mio yang tak berbensin ini. Ah. Ini suasana jalan di Lombok. Tak beda dengan jalanan lain, cuma di sini lebih mirip Purworejo dibanding Bandung. Banyak motor dan sedikit mobil. Tidak macet dan kanan kiri masih banyak pohon-pohon tinggi.

Mas Kun dan Kindi kembali membawa satu botol bensin dengan volume satu liter. Kami bagi dua buat dua motor ini. Lalu kami berangkat kembali.

Alhamdulillah sampai lagi di kota. Cakranegara sudah terpampang jelas plangnya. Namun kita terbawa arus. Kita jadi kebawa ke Mataram. Ah, ibukota ini rapih memang. Adanya Cuma kantor ini kantor itu, pasar jarang sekali. Kata sopir yang mengantarkan kami dari Lembar ke Cakra ini benar berarti. Ya, sebuah tata-kota, aku tak tahu apa itu bagus atau buruk. Aku juga merasa biasa saja.

Hai, ini kita kesasar tau. Kita terbawa jalan searah yang melintang panjang dari Cakra sampai Mataram. Akhirnya memang kita harus bertanya juga ini mah. Akhirnya kami tanya, setelah bertanya memang kita kesasar dan untungnya depan ada belokan untuk putar balik. Yosh!

Kami putar balik, kembali jalan searah. Belok kiri malah kesasar kemana-mana. Diputuskan untuk kembali bertanya, kali ini kita sudah di Cakranegara. Cakra memang rumit. Ah kenapa begitu banyak jalan searah.

“Permisi mbak, kalau mau ke pasar Cakranegara jalannya mana ya?” Tanyaku pada seorang penjaga Londrian.

“Belok kiri saja ini mas, nanti ada banyak perempatan. Nah masnya belok kanan saja di perempatan ke 3.” Kata dia mnjelaskan pada kami dengan logat lokal.

“Sebentar-sebentar mbak, ini belok kiri lalu lurus sampai ke perempatan ketiga.”

“Mas ada kertas nggak?” Tanya mbak-mbak tadi.

“Aku yang memegang peta menunjukkan kertas padanya.”

“Ini mas jalannya,” kata dia sambil menggambar jalan sebagai rutenya.

“Oke terimakasih mbak.”

Kami jalan lagi dengan sebuah peta baru. Peta buatan manusia ini semoga bisa mengantarkan kita ke Hotel Internasional yang menjadi meeting point kami bersama Pak Hamdan untuk bertukar motor.

Perempatan pertama yang di maksud sudah lewat, ini sudah hampir perempatan kedua. Ah, lampu traffic juga sedang tidak merah, Mas Kun paling depan maju. Entah kenapa kita seakan salah langkah, rombongan kendaran dari depan kami seenaknya menerabas jalan kami. Jalan di sebelah kiri ini.

Teriakan itu mulai terdengar dari mulut seorang tua selang beberapa detik aku merasakan hal aneh itu.

“Woy…. Puter balik, puter balik..”

Beberpa orang juga langsung meneriaki hal yang sama. Aku langsung menoleh kebelakang. Benar mereka sedang meneriaki kami, ya kami bertiga dengan dua motor. Hows bad, kami puter balik. Karena crowdednya jalan sehingga ini jadi kacau, kami juga susah putar balik.

Sayang sekali, peluit sudah buruan berbunyi. Aku menyerah. Ah, Mas Kun yang ada di depan belum. Kindi mengikuti kita di belakang. Aku toleh ke belakang, seorang polisi dengan gesit menaiki motornya. Ya, dia mengejar kami. What – the – hell.

Ah dengan mudahnya Kindi disalip polisi itu. Aku masih cari-cari ide, kanan atau kiri supaya polisi itu tidak bisa menangkap kami. Mas Kun ambil kiri, jalannya mudah namun berbelok-belok. Aku suda tak berani menoleh ke belakang untuk memperhatikan seberapa dekat polisi itu. Dan, sesudah belokan maut itu, ziitttt rem sebuah motor yang dinaiki oleh seorang polisi itu tiba di depan kami, mas Kun juga langsung ambil rem. Kami berhenti. Dua detik serasa lama, polisi itu tampak lebih sigap.

“Mas, mau lari kemana?” Kata Polisi itu bengis.

“Ya kami blep blep blep blep….” Suara Mas Kun makin kebelakang makin lirih. Aku yang dibelakangnya semakin nggak jelas.

“Udah, kamu ikut saya.” Kata polisi itu lagi masih bengis. SIM dan STNK Mas Kun ditahan.

“Baik pak,”

“Loh, temen kamu mana? Tadi kalian bertiga toh? Thu nggak kalian dimana? Buruan suruh ke TKP tadi.”

“Lho, nggak tahu pak.”

Diam-diam kau kirim SMS ke Kindi.

Kin, langsung ke masjid IC aja. Biarin aja, kan motormu doang yang mau diganti. Langsung ketemu Pak Hamdan di sana.

Artinya, Kindi tak usah balik ikut kami, biarkan kami yang berurusan dengan polisi itu.

Kami, Aku dan Mas Kun digiring ke TKP. Perempatan itu, apakah kita sudah terlewat jauh? Atau kita seharusnya belok kanan supaya bisa sampai ke pasar cakra?

“Kamu sini saja, jagain motor.” Kata pak polisi itu sambil nunjuk-nunjuk ke motor kami dan motor dia yang diparkir berjajar..

Lalu Mas Kun dibawa ke sebuah warung kopi seberang jalan. Ah, pos polisinya ada di dalam warung kopi. Ahaha kamu jangan kaget gitu. Di Bandung aku sudah pernah kayak gini. Di jalan Ahmad Yani sebelum jalan Kiaracondong tepatnya.

Aku menunggui Mas Kun sambil koordinasi dengan Kindi tentang apa yang harus dilakukan kedepannya melalui sms. Sampai beberapa saat Mas Kun muncul kembali ke luar dari warung kopi.

“Ada dua puluh ribuan nggak?”

“Nggak ada mas, gimana?”

“Ntar kuceritain.”

Dia berlalu ke sebuah warung, nampaknya menukar duit dulu.

“Kindi gimana?” Tanya dia balik dari menukar uang.

“Belum ngebales lagi, tapi tadi katanya udah di Majid.”

“Oke, tunggu sebentar.”

Tak lama setelah pergi menuju ke warung kopi itu lagi, dia kembali diantar pak polisi itu. Mukanya sudah kembali menjadi baik, seorang pelayan masyarakat. Dalam langkah jalan ke arahku tak lupa Mas Kun ucapkan terimakasih.

“Kena berapa Mas?”

“Haha dua puluh ribu.”

“Masukin anggaran bersama aja mas.”

“Iyo.. Kindi di masjid toh?”

“Iyo..”

Kami meninggalkan pos dengan penuh kekecewaan sekaligus kelegaan hati. Kecewa karena kami merasa tidak bersalah, Mas Kun aja yang di depan tidak melihat ada tanda verboden (jalan searah) apalagi aku, dan setelah di lihat kembali tanda nggak boleh lurus itu memang ada namun kecil sekali tak terlihat, atau penempatannya kurang terlihat. Sedangkan kata tukang londrian yang ngasih peta tadi katanya pun malah belok kanan, belok kanan kita malah semakin salah. Lega karena urusan ini beres tanpa harus ada sidang dua minggu lagi, ya kami nggak mungkin menunggu 2 minggu lagi di Lombok. 

Tinggal 500 meter lagi. Di tengah jalan pasar buah, motor kami oleng. Mas Kun suruh aku liat ban belakang motor ini. Dan yak ternyata kita kebocoran ban belakang. Hai, sebuah kebetulan kah? Sebuah rencana? Ya Allah, baiklah.

Penambal Ban

Penambal Ban


Beruntung seratus meter bahkan tak sampai kita langsung ketemu sama bengkel tambal ban. Kecil, kecil sekali. Bengkel yang Cuma punya satu pompa kompressor dan satu alat tambal ban itu numpang di emperan toko orang yang nampak tutup. Alat-alatnya memang cukup buat tambal ban, tukangnya seorang muda, kulitnya hitam, usianya lebih muda dari kami.

“Double strike!” Kataku seperti ekspresi mancing mania.

“Jackpot!!!” Kata Mas Kun.

Akhirnya Mas Kun cerita apa yang terjadi di dalam warung kopi tadi.

Jadi seperti biasa ditanyain ini itu. Dari mana, cerita kami dari jawa sedang berlibur. Motor yang kami sewaan dan ini itu. Dan Polisi juga ngasih nasihat ini itu, bilang soal harus menaati aturan lalu lintas, nanti kalau tidak bisa mengganggu lalu lintas bahkan korban jiwa. Enaknya gimana, ga enaknya giminu. Dan akhirnya sampai pada obrolan duit. Berapakah kita harus ngasih?

Berapapun, asal uang pas. Ah, dua puluh ribu aja ya? Punyanya cuma segitu Pak. Yaudah dua puluh ribu. Pas Mas Kun cari-cari uang dalam sakunya, ternyata tidak ada. Dia Cuma temukan 50ribu. Nah, katanya Cuma punya uang dua puluh ribu? Yaudah pak, ini kembali 30 ribu ada kan? Ah, apa-apaan. Cari tukeran sana. Temenmu barangkali ada. Ya, itu pas aku ke kamu nanyain.

Pas udah dapet, ya udah. Dikasihin dua puluh ribuannya, cuma ngelihat entah dia sedang nulis apa di lembar kerjanya, SIM dan STNK dikasihin lagi. Bebas.

Ah, begitu sekali itu polisi.

“Urusan jalanan selesai di warung kopi. Ah, Pak polisi Anda baik sekali. ”

Begitu status yang aku pasang di facebook.

Jadilah begitu ceritanya. Aku tertawa miris, tetawa sekenanya saja. Mas Kun masih menyesalkan petunjuk si mbak-mbak itu tadi di loundrian. Apalagi petunjuk lalu lintasnya begitu kecil dan tidak terlihat. Pahamkah pendatang seperti kami?

Motor beres ditambal. Jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas. Fake, ini hari jum’at pula. Apakah kita akan lanjut ke Senaru? Aku terus terang tidak menyarankan.

Sampai di Masjid IC Cakranegara, kami bertiga sudah berkumpul kembali. Kindi sedang ngobrol dengan Pak Hamdan, orang yang punya motor. Nah, para jamaah mulai berdatangan. Jam berapakah jum’at di sini? Setengah satu baru dimulai.

Akhirnya kami saling berdiskusi. Entah aku sudah agak males kalau mau mnegejar Senaru. Selain jauh, ini nanti kita bisa nggak dapet kapal buat ke Gili Trawangan. Ini nanti Jumatan selesai jam satu. Trus sama makan dan macem-macem paling berangkat jam dua, sampai senaru jam setengah lima, sudah sore dan kita buat ke Gili Trawangan pasti kesorean.

Dengan berat hati, usulanku itu kita ambil. Kita menskip Senaru gara-gara peristiwa sialan tadi. Coba kita sampai di sini jam 9. Lalu langsung berangkat ke Senaru sampai jam 11.30, lalu menikmati banyak curug atau air terjun di sana lalu jam empat berangkat ke Gili Trawangan, sampai di Pelabuhan Bangsal jam lima langsung nyebrang ke Gili Trawangan. Bermalam di Gili Trawangan memang tujuan kami hari ini.

Semua sudah terjadi. Kami cuma bisa berencana, tapi jalan adalah lapangannya backpacker. Sesuatu yang tidak terduga-duga adalah biasa.

Pada akhirnya, kita menyebut ini wisata jalanan. Inilah jalanan pulau lombok, terutama di Mataram dan Cakranegara. Banyak verboden alias jalan satu arah, namun rambu-rambu yang tidak jelas. Polisinya, polisi dimana-mana sama. Dididik sama dan untuk tujuan yang sama. Di Jawa ataupun di Lombok sama.

Konkritkan Lombok : Siluet

Januari 10, 2012

Ditemani lagunya Sheila On Seven – Pria Kesepian bangun pagi kami terasa lebih asik. Ini sudah hari keberapa kah? Ketiga di Lombok. Rencana kami pagi ini adalah menikmati sunrise di Pantai Kuta, lalu jam tujuh langsung cabut kembali ke Mataram mengganti motor dengan bebek semua sehingga harganya sama murah dan irit. Lalu dari Mataram rencana kami mau ke Senaru, menikmati wisata kaki gunung rinjani.

Ah, jam setengah enam di Kuta masih gelap. Ya, Lombok termasuk indonesia tengah bagian barat. Paling-paling sunrise juga jam enam lebih. Kami jam enam kurang seperempat sudah sampai di Kuta. Benar kata kepala keamanan masjid islamic center Kota Cakranegara itu. Elok, putih, bersih dan ombaknya tidak terlalau besar. Ya, kuta pagi ini tidak ramai, tapi kalau di banding Mawun lebih rame. Paling tidak kulihat beberapa bule juga ada sepagi ini. Orang lokal yang kulitnya gelap juga banyak, apalagi ada perahu-perahu nelayan yang dari jauh nampak mulai merapat. Pelajaran mengenai angin darat dan angin laut adalah pelajaran sekolah dasar, tapi menjadi mahasiswa meteorologi ini hal dasar seorang meteorologi mengenal laut.

Yap, kalau di meteorologi, arah angin itu bisa di lihat arahnya dari. Jadi angin laut adalah angin yang datangnya dari laut. Angin darat adalah angin yang datangnya dari darat. Seperti angin lain juga begitu. Angin gunung adalah angin yang datang dari gunung, angin lembah juga angin yang datangnya dari lembah. Nah pagi ini karena anda angin laut jadilah para nelayan pulang dari melaut. Ah, dunia ini maha adil. Tuhan ciptakan angin dan gelombang untuk membantu manusia di bumi ini. Subhanallah.

Kami menanti sebuah sunrise yang indah, namun rupanya aku juga baru sadar. Ini kan juni, matahari ada di belahan bumi utara. Kita sedang menanti sunrise di pulau bagian selatan, that’s impossible. Why? Karena sebelah utara kita adalah pulau itu sendiri yang senantiasa menutupi datangnya matahari. Ini pelajaran berharga hari kemarin, failed sunset takkan terjadi apabila kita sadar musim. Barangkali si orang di internet ke Lombok bulan-bulan Desember, dimana matahari ada di belahan bumi selatan, sehingga sunset dapat dilihat di arah serong kanan pantai yang menghadap ke selatan. Saat kau pergi kemanapun, jangan lupa untuk tahu bagaimana cara navigasi. Setidaknya navigasi mengantarkanmu keluar dari kesesatan. 

Orientasi adalah bagian penting dan pertama dalam navigasi. Orientasi berupa letak di mana kita berada dan sedang menghadap kemanakah kita, dan mau kemanakah kita. Selanjutnya terserah anda. Hahaha

Kami sadar kami takkan menemukan sunrise di sini. Kami tahu itu sekarang. Bersiluet adalah hal yang asik, arahkan kameramu berlawawanan dengan matahari. Pagi ini matahari menghadap ke barat, maka kamu harus menghadapkan kameramu ke arah timur. Atur mode timermu sepuluh detik, lalu lihatlah. Foto siluetmu akan muncul. Hahaha

Ah, yasudahlah, saatnya kita bermain dengan pasir. Menulis dalam pasir adalah hal iseng yang menjadi pilihan lain dibanding berfoto siluet, lagipula makin lama makin siang matahari makin meninggi membuat distribusi sinarnya makin merata. Membuat efek siluet makin tidak terlihat.

Indonesia ini, selalu punya tempat dan suasana yang menarik dan menyenangkan.

Siluet itu, wayang dalam kenyataan. Siluet pertama yang indah.

Jam setengah delapan rupanya sudah mulai terang, buru-buru kami kembali ke homestay untuk packing dan cabut ke Mataram, Senaru telah menanti kami.

Sampai di homestay kami disuguhi masing-masing segelas Milo. Ah, segarnya pagi ini. Semuanya langsung pada mandi dan packing. Jam setengah sembilan akhirnya kami check out. Petualangan di selatan Lombok. Mas Kun menyampaikan kesannya juga akhirnya,

“Kalau memang ingin berlibur, butuh paling tidak seminggu di sini. Masih banyak yang belum kita eksplor. Sayang waktu kita tidak banyak. Lets go!”

Kami semua mengangguk setuju. Selamat tinggal Kuta Lombok.

2011 in review

Januari 1, 2012

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 29.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 11 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 241 pengikut lainnya.