Asal Mula Markejon Fiawwam


Jika Anda mengikuti beberapa episode kompetisi Stand Up Comedy Indonesia season 3 (SUCI 3) dan sempat menyaksikan juri dan komentatornya si Jono, Anda beruntung akan segara paham tulisan saya. Kalau tidak mari saya jelaskan figur seorang Jono.

Jono adalah bule tapi bisa bahasa indonesia dikit-dikit. Latar belakangnya tidak jelas, suka sama lontong sayur, komentarnya berdasarkan riuh rendah penonton yang bersorak dari performancenya. “Kapal pecah bro!” ditengah yang lain bilang ‘kompor gas!’. ‘Ikan Asin, enak-enak!’ ditengah Om Indro ‘Kebakaran Fico!’.

Entah apa sebabnya Kompas TV memilih dia sebagai juri. Tapi perkiraan Raditya Dika mungkin karena stand up comedy juga perlu dinilai oleh orang awam. Ya, secara Om indro dan Dika komentarnya secara teknis. Ada kalanya guyonan cerdas harus dinilai oleh orang-orang yang kurang cerdas, atau sebenarnya ngga mendalami.

Sedang Markesot (penyamaran Emha Ainun Nadjib)  adalah perwujudan manusia yang cerdas dan tatas. Pandangan hidupnya jelas, tidak mencla-mencle, abang muni abang, ijo muni ijo. Seorang bijaksana yang mampu membaca situasi dari beberapa sudut bahkan dari yang tidak terduga-duga. Multireferensi, walaupun tidak menjamin obyektif namun mampu menampilkan dua sisi yang berlawanan.

Belakangan di media kita disuguhi berbagai berita yang bombastis kitis kitis, waah, konspirasi, ‘oh gitu?’, nah loh, ‘kok bisa?’, anjir..  Konfilik di mesir sana, kepremanan FPI, korupsi sapi, kontroversi gembong narkoba yang divonis mati, dll.

Banyak kali, analisis ini itu. Adu argumentasi pro dan kontra, dua duanya sama-sama kuat dan semakin membingungkan harus percaya yang mana. Pada saat itulah saya ingat Markesot yang tatas pemikirannya. Selanjutnya Jono. Jono yang awam. Jono yang mampu menilai bagaimana sebuah jokes itu memang lucu atau karena dibuat-buat melalui teknik ini itu supaya menjadi lucu.

Saya ingin menampilkan diri menjadi seorang Jono berotak Markesot. Ditengah orang berdebat tentang ini dan itu. Ditengah orang mengecam sikap dari orang lain, ditengah adu argumen dan alasan ini itu, saya ingin mengungkap bagaimana dari sekian data dan fakta saya nilai sebagai pandangan baru. Sebagai alternatif yang mampu mendamaikan, atau paling tidak memberi arah pada awam-awam lain supaya tak terjerumus pada arah yang menyesatkan.

Saya ingin mengungkapkan bahwa membunuh maupun perilaku yang menyebabkan kematian adalah dosa. Bahwa sesuatu yang dilakukan secara paksa, merampas, merebut, tanpa mengindahkan diskusi, tanpa mufakat, adalah menyalahi moral dan akhlak. Bahwa perselingkuhan merupakan kegiatan melukai hati pasangan, dan juga melanggar ajaran agama untuk menjauhi zina.

Bahwasanya kita yang membanding-bandingkan dosa, “cuma pembunuhan seseorang dan itu ngga sengaja daripada pembunuhan ratusan umat xxx” juga termasuk meremehkan dosa. Dan bila hendak hukum agama ditegakkan, lantas mati dibayar mati kah? Bersediakah kita-kita menerima hukuman atas segala kemunafikan-kemunafikan dan ‘penganggap ringanan dosa’ yang lalu-lalu kita lakukan?

Markesot mampu menyuarakan dosa adalah dosa, kelak akan ada penimbangannya. Allah yang Mahatahu. Kita, biarlah kita berdoa meminta ampun di setiap detiknya. Atas kesia-siaan waktu untuk mengecam tanpa menginsyafinya.

Pada dasarnya jika kita menginginkan sesuatu, jika sifatnya memaksa, mencurangi, mendustai, maka tak akan jadi manfaat apa-apa.

Jatuhnya Tunggul Ametung oleh Ken Arok bukan untuk dicari siapa yang sebenarnya salah. Kita cukup mengambil jarak untuk melihat bagaimana hikmah bahwa pemberantasan kejahilan menggunakan kelicikan dan tumpah darah akan terus menimbulkan dendam. Bukankah Rosul memerangi kejahilan melalui kelemahlembutan dan kesabaran.

Terima kasih ‘sosok Markesot dan sosok Jono’. Jadilah Markejon Fiawwam..

Pada dasarnya dunia hanyalah panggung sandiwara. Kita perlu memberi jarak dengan konflik untuk mengambil hikmah. Di panggung sandiwara juga kadang terselip humor, maka tertawalah untuk membuat kamu lebih ceria dan muda.

 

Sengkuni Dadi Ratu (Sengkuni Jadi Raja)


sengkuni

 

(ilustrasi : sedjatee.wordpress.com)

Hari ini di ujung hari berakhirnya Perang Bharat, Sengkuni tertawa terkekeh-kekeh. Dia mengenang peristiwa Duryudana ketika memecat dirinya sebagai penasihat perang kubu Kurawa. Duryudana paham, permainan Dadu bersama Yudhistira dulu merupakan trik Sengkuni yang licik. Ksatria seperti Duryudana tak butuh orang-orang licik seperti Sengkuni untuk melawan Pandawa. Duryudana yang perkasa maju perang tanpa strategi melawan Pandawa. Hari-hari bodoh untuk Kurawa, kenang Sengkuni terkekeh-kekeh.

Sengkuni yang turun kasta jadi jelata-jelata seperti Punakawan. Sengkuni memilih jadi pelawak independen daripada bergabung dengan Punakawan. Kelicikan dalam dirinya takkan cocok bergaul dengan pribadi mulia macam dewa-dewa yang diturunkan ke bumi itu.

………………..

Tanpa Sengkuni, Kurawa hanyalah kumpulan ksatria gagah yang rela mati demi Duryudana. Duryudana sendiri bukanlah pemimpin yang cakap. Tanpa Sengkuni, dia hanyalah ksatria yang haus kekuasaan, tanpa tahu jika menang nanti mau diapakan Astina. Yang ada dalam benaknya, menyingkirkan Pandawa sebagai wujud bakti bangsa Kuru sang pewaris sejati Astina.

Kurusetra telah membara dan masih tak ada yang memenangkan peperangan. Sengkuni datang sebagai rakyat jelata. Menghasut Karna untuk melakukan siasat licik berperang gerilya malam hari. Adipati Karna memang dungu, mau saja dihasut Sengkuni. Harusnya dia tahu Sengkuni sudah tak jadi bagian dari Kurawa dalam perang ini.

Malam hari yang sunyi terbukti dia melakukan aksi. Bimasena yang berjaga-jaga di camp mengetahuinya. Bimasena mengajak Nakula membereskan Sengkuni yang berani-beraninya mengadakan penyusupan.

Sayangnya Sengkuni berhasil melarikan diri. Bima takkan terima menyaksikan Kurawa berbuat curang berperang malam hari. Dengan emosi, tanpa meminta izin pada Yudhistira Bima melabrak kamp Kurawa.

“Keluarlah wahai Kurawa, hadapilah aku Bimasena sebagai ksatria atau sebagai hewan saja” Teriak Bimasena membuat kegaduhan.

“Jika jalan perang ksatria telah kalian nodai dengan gerilya, maka kita habiskan saja malam ini sebagai perang, tinggalkan norma ksatria, jadilah kita hewan-hewan peliharaan Baharata di Kurusetra ini” lanjutnya berang.

Seluruh Kurawa terbangun dari tidurnya, Adipati Karna memilih menyingkir karena malu akan jadi terdakwa. Dia sadar, kecerobohannya mendengarkan Sengkuni akan membawa petaka bagi Kurawa. Duryudana masih gagah sebagai pemimpin Kurawa tak terkejut dengan tingkah Bimasena yang berandal itu.

“Wahai Bimasena, apa gerangan yang membuat engkau ke sini?” Durna sang Guru Pandawa yang sedang berperang bersama Kurawa ini adalah salahsatu orang tua yang bijaksana memulai semuanya dengan diskusi.

“Maafkan Aku Durna, tak ada waktu untuk berdiskusi, saat ini juga akan aku habisi kalian yang berbuat licik dalam peperangan” Jawaban Bima seperti tak kurang dari amarah.

“Keluar kau Sengkuni, Karna!” Teriak Bima memanggil orang yang tadi dia temui ditempat penjagaannya.

“Sengkuni tak ada di sini Bima, Karna ada di dalam” Jawab Durna dengan masih tenang.

“Apa yang kau katakan Sengkuni tidak ada di sini? Jelas-jelas dia bersama Karna datang ke kamp kami untuk bergerilya.”

“Sengkuni bukan bagian dari Kurawa dalam peperangan ini Bima, dewa telah menurunkan kastanya jadi Sudra. Dia takkan mungkin di sini Bima” Duryudana ambil bagian dalam pembicaraan ini.

“Bedebah, inilah kelicikan kalian. Aku habisi saja nyawamu Duryudana!” Dengan sekali lompatan, Bima dengan Kuku Pancanakanya menggaruk wajah Duryudana. Duryudana terhempas.

Melihat kejadian ini, Karna keluar dan memukul mundur Bimasena.

Tak disangka-sangka juga, ternyata Pandawa telah berkumpul dibelakang Bimasena. Nakula diam-diam sejak sampai di kamp Kurawa menyuruh seorang prajurit untuk kembali ke kamp Pandawa, mengabarkan bahwa Bimasena dan dirinya sedang di kamp Kurawa untuk menumpas kelicikan Kurawa.

Dengan hati merasa dikhianati oleh Kurawa, para Pandawa menyusul Bimasena dan Nakula menuju kamp Kurawa. Dengan ini, resmilah Pandawa dan Kurawa saling berhadapan pada malam hari, waktu di mana dalam peraturan Ksatria, tidak boleh ada interaksi dua kubu yang berperang. Jika hal ini dilanggar, maka pihak keduanya akan mendapat kutukan bagi para dewa. Dua-duanya akan kalah perang.

Menyadari hal ini, Durna dan Bhisma menangis memohon ampun pada para dewa. Dari pihak Pandawa juga ada Kresna yang mengerti apa yang ditangiskan oleh para tetua Kurawa ini. Kresna turut meminta ampun pada para dewa.

Dengan kondisi seperti ini, pecahlah perang maha dahsyat malam hari. Seperti sudah digariskan bahwa bagi siapapun yang melakukan perang malam hari, maka kutukan dewa adalah kekalahan untuk keduanya.

Yudhistira bersimpuh lemas ditumpukan mayat Pandawa dan Kurawa yang bercampur baur. Tak ada lagi panji-panji perang Kurawa maupun Pandawa yang berkibar. Dewa-dewa telah melenyapkan keduanya dalam semalam.

Mendengar kabar seperti ini, sontak Sengkuni pecah tawa terkekeh-kekeh khasnya.

“Kehkehkeh”

“Siapa sangka, Kurawa lebih bodoh dari yang kukira. Adipati Karna memang sakti, aku yang sudah bukan bagian perang dari Kurawa ini masih dipercaya. Kehkehkeh”

“Wahai Pandawa, akhirnya kau pun masuk dalam perangkapku. Akhirnya kau termakan juga fitnah. Bimasena yang sombong telah mencoreng wajah Duryudana. Padahal sebenarnya Duryudana tak bersalah apa-apa. Kehkehkeh” Sambungnya.

“Akhirnya pun kalian, Pandawa-Kurawa dikutuk dewa karena berperang pada malam hari. Waktu di mana memukul satu sama lain adalah haram hukumnya. Kehkehkeh.”

…………..

Sementara Astina beku dan dipegang para dewa. Perdebatan dalam dewan dewa akan menarik. Tentu faktor asal-usul mereka yang dulu pernah jadi Kurawa dan Pandawa menjadi kepentingan. Mungkin saatnya mereka kembali Bagong, Petruk, Semar, dan Gareng ke kahyangan untuk membuat damai dewan para dewa.

Hari ini sengkuni jadi raja. Raja dalam kerajaan kelicikan. Dia menempati singgasana tertinggi dalam hidupnya selama jadi manusia licik. Tawa puas ‘kehkehkeh’ menghiasi istana yang hanya diisi oleh dirinya sendiri.

Sengkuni oh Sengkuni. Dua kali engkau menghianati nurani kami, engkau tetap lolos dari karma. Semoga tak bahagia sisa usiamu. Semoga tak ada yang menangisi kepergianmu. Semoga tak ada yang mau menguburkan jika engkau mati kelak. Sengkuni, kehkehkeh!

Lamaranku


Hargo Dumilah masih bisu,
ketika angin lembah menyapu wajah dengan bekunya.
Sang saka berkelebat gagah tertinggi di singgasananya.

Kabut putih mengisi ruang di lembah yang gelap.
Sekelompok manusia tampak kepagian,
menggigil penuh haru dalam pencapaiannya hari ini.

Hargo Dumilah adalah puncak yang membelah Mataram-Singosari.
Memisahkan kerajaanku kerajaanmu.

Perlahan kekuningan sinar terbit,
menandai tegas cakrawala timurku.
Memberikan harapan akan kemunculanmu.

Bayang hitam menyembul memotong sinar kuning itu.
Arjuno, Bromo dan Semeru tampak di sisi timurku di sampingmu.
Kemilau cahaya emasi, datanglah wujud sang dewi matahari.

Aku membawa saksi, Merbabu, Merapi, Sumbing dan Sindoro.
Ingin melamarmu di medan Lawu ini.
Medan yang menyiksa kita dalam perbedan jawa ketimuran dan ketengahan.
Mataraman dan Singosaren.

Dipayung langit biru,
disaksikan Dewi Matahari dan pihak-pihak gunung,
di medan Hargo Dumilah ini,
aku ingin kita bersatu.
Tinggalkanlah rajamu karena kita akan membangun kerajaan baru!

 

Hargo Dumilah, Pucak Lawu
17 Februari 2012

Pendakian : Gunung Lawu


Kereta Kutojaya Selatan seperti biasa mengantarkan saya menuju Kutoarjo. Alih-alih target sampai di Kutoarjo tepat waktu yakni jam 05.15 karena Prameks jadwal paling paginya jam 06.34, ternyata sudah beberapa bulan ini tidak ada. Jadi, percuma saja walau kereta nyatanya tepat waktu datang, saya harus menunggu 3 jam sampai jam 08.15 buat prameks. Beruntung sambil menunggu ketemu temen SD-SMP, Bangun yang sekarang kuliah di UNS. Sampai Solo saya ngobrol dengan dia.

Di Solo saya ketemu rombongan juniornya Deka (penggagas pendakian Lawu) di terminal Tirtonadi. Setelah ngobrol jelas dengan junior-juniornya Deka, ternyata Deka sendiri bakal terlambat datang karena dia masih tertahan di Sindoro. Misi 3S (Slamet-Sumbing-Sindoro) nya mengalami kendala. Akhirnya saya berangkat bersama 5 orang juniornya Deka di MAPALA AMG (Akademi Meteorologi dan Geofisika) : April, Fadiah, Mahdi, Herlan dan Cahya atau baisa dipangil Cay.

Setelah makan siang, tanpa basa-basi, kita berenam naik bus menuju Tawangmangu. Jam 2 siang tepatnya. Biayanya 10 ribu saja perorang. Dengan harga segitu, ya terimalah fasilitas bus ekonomi alakadarnya. Baru keluar kota Solo ternyata penuh dan rombongan anak SMA membuat bus penuh manusia berdesak-desakan. Untung saya dan rombongan sudah mendapat tempat sedari di Tirtonadi.

Sesampainya di Tawangmangu kita istirahat buat nyari logistik, tepatnya jam 4 sore. Setelah beres dan siap semua, kita naik kendaraan omprengan L300 untuk naik ke Cemoro Sewu. Kami memilih jalur Cemoro Sewu karena relatif cepat, walau memang tanjakannya lebih ekstrim. Sebagai gambaran awal, lewat Cemoro Sewu kita akan ketemu 5 pos, masing-masing berupa gasebo. Setelah pos terakhir ada Sindang Drajat, dimana kebanyakan orang camp di situ. Ada satu lagi campsite yakni Mbok Yem, namun lokasinya lebih dekat ke Puncak lain yakni Hargo Slamet. Sedangkan puncak tertinggi yang ikin kita capai adalah Hargo Dumilah.

Kita memulai pendakian sekitar jam setengah enam sore.

Foto Bareng Sebelum Pendakian

Foto Bareng Sebelum Pendakian

Pendakian yang kami lakukan termasuk pendakian santai. Rata-rata 5-6 jam untuk sampai pos 5 kita habiskan 6 jam. Pemandangan sampai pos 4 tidak ada yang menarik, ya karena kita pendakian malam. Namun setelah lewat Pos 4, pemandangan bagus datang dari bawah. Lampu-lampu perkotaan dan pedesaan nampak sangat eksotis. Karena dari ketinggian lebih dari 2800 mdpl, jauh terlihat bagus sekali berkelap-kelip lampu di bawah. Waktu di Gede Pangrango tidak sebagus ini pemandangan malam lampu-lampu dibawahnya. Tentu karena vegetasi di atas tidak dipenuhi oleh pohon-pohon rindang seperti di Gede-Pangrango.

Akhirnya sampai juga di Sindang Drajat. Kami camp di situ. Karena keterlambatan Deka, akhirnya kami harus berela-diri satu tenda ber-6. Mahdi bahkan tidur di teras tenda. Satu hal yang sangat disesalkan di Sindang Drajat ini, sinyal telepon menghilang, apapun operatornya. Padahal kami sedang butuh komunikasi dengan Deka dan temannya biar bisa ada kejelasan apakah kita akan tunggu di camp, apa kita duluan saja pulang.

Kami pikir, puncak Hargo Dumilah itu masih jauh dari camp sindang darajat ini. Akhirnya kami putuskan untuk bangun jam 4. Kasian beberapa anak sleeping bagnya basah, sehingga ada yang tidur ada yang tidak. Ada yang tidur kedinginan, ada yang tidur hangat karena sleepingbagnya kering.

Jam 4 pagi. Saya paling pertama bangun. Dingin menusuk, wajah bagai tersayat-sayat. Maklum memang, perkiraan saya, ini sudah ketinggian 3000. Yang lain masih sibuk dengan tidurnya yang nyaman. Hanya saya dan Mahdi yang letak tidurnya paling luar yang keluar duluan. Kalau saya sendiri, orang yang sudah tidak sabar buat berjumpa dengan Hargo Dumilah, puncak gunung api ketiga setelah Gede dan Bromo.

Dengan pakaian rapat, hanya wajah yang terbuka akhirnya rombongan siap untuk Summit! Jam menunjukkan 04.15, beberapa tenda masih sepi. Hanya ada satu rombongan yang sudah duluan meninggalkan Sindang Drajat.

Hanya setengah jam perjalanan, selebihnya suara kibaran bendera sudah terdengar. Dingin yang sedari tadi merasuk berubah jadi panas kobaran semangat. Itulah kibaran bendera merah putih tugu Hargo Dumilah. Akhirnya diri ini sampai juga di puncak Lawu. Sorakan menggema untuk Herlan, akhirnya dia mencapai puncak pertamanya. April juga, walaupun sudah pernah ke Lawu sebelumnya, baru kali ini dia sampai puncak. Dulu hanya sampai tengah dan sakit.

Tugu Puncak Hargo Dumilah

Tugu Puncak Hargo Dumilah

Puncak yang kepagian. Sesampainya di Puncak, angin yang kencang sangat menyiksa. Walau matahari belum menyingsing, langit membiru terhampar di atas kita. Gumpalan awan-awan tampak memberi batas langit dan bumi disekelilingnya. Kami iri dengan rombongan yang lain, dikala kepagian mereka membawa logistik kompor dan sebagainya. Di tengah dingin dan angin lembah yang menerpa, ada kopi dan susu jahe di rombongan mereka. Sedangkan kami tak berbekal apapun.

Saya memutuskan untuk turun kembali, berlindung dibawah pohon dari terpaan angin. 15 menit berlalu, saya dibangunkan Herlan, namapaknya saya tertidur. Haha. Akhirnya, cahaya kemuning muncul dari ufuknya. Awan-awan tersorot jadi keemasan. Sunrise akan datang sebentar lagi. Nikmatilah.

Ketika Cakrawala Timur Mulai Menguning

Ketika Cakrawala Timur Mulai Menguning

Matahari Yang Menyilaukan Tapi Hangat

Matahari Yang Menyilaukan Tapi Hangat

 

Pemandangan tidak hanya Sunrise, rupanya dari Lawu ini lamat-lamat akan tampak Gunung Arjuno, Semeru, dan mungkin Bromo. Sedangkan di sisi barat, akan bertemu dengan Merapi, Sumbing, Merbabu, dan mungkin juga Sindoro. Bagai medan perang, kita ada ditengah-tengah dua kerajaan besar. Mataram dalam harmoni Sumbing, Merbabu, Sindoro dan Merapi. Sedangkan Singosari yang hidup dalam pangkuan Bromo, Semeru dan Arjuno. Lawu yang juga gunung yang membatasi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sungguh bagai di medan perang.

Foto Bersama di Puncak Menghadap Sunrise

Foto Bersama di Puncak Menghadap Sunrise

Awan-awan juga menarik untuk di saksikan. Bermacam-macam, Glory Morning, cumulus humilis, hingga Cumulonimbus yang jauh di sebelah selatan sana.

Habis, siang menjelang. Kabut semakin banyak meyelimuti dan dingin. Jam 7 pagi kami turun. Di tenda kami menyiapkan sarapan. Apa boleh buat, karena logistik yang kami bawa hanya makanan instant macam kentang instant, roti polos, sosis, dan sup instant, akhirnya kami membuat makanan campur aduk. Saya membuat roti isi kentang rebus yang diaduk dengan sosis dan susu kental manis. Entahlah, tapi habis.

Teringat sebuah kutipan percakapan dari Fadiah, “Di gunung, hanya ada dua rasa makanan : enak dan enak banget.” Dia nilai sarapan kita dengan ‘enak’. Yap, sangat bijaksana.

Pada kesempatan lain, saya coba hubungi Deka. Namun nyatanya sinyal tak kunjung muncul. Akhirnya saya coba jalan agak jauh, namun tak muncul juga sinyal itu. Ironisnya, ketika kembali ke Sindang Drajat sinyal itu mucul. Dari tadi malam, kemana sajakah kalian wahai sinyal? Walau cuma sebentar, cukup untuk membalas SMS Deka. Sayangnya ketika ditelpon, HP Deka sendiri sedang di luar jangkauan.

Karena menjelang siang, kabut semakin tebal aku tawarkan untuk turun duluan. Semua menyepakati. Namun perdebatan muncul apakah kita akan pulang lewat Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang? Tujuannya jelas, supaya bertemu dengan Deka. Setelah bertanya tentang medan yang akan kita tempuh, ternyata jalur Cemoro Kandang cukup jauh yakni 13 km dari titik sekarang kita beridiri. Akhirnya kita putuskan lewat Cemoro Sewu. Perihal ketemu Deka, kita berjudi, lagipula Deka sendiri tidak bisa dihubungi.

Jalanan pulang terasa cepat. Tau-tau pos 4 sudah sampai dalam 1 jam. Maklum turun tanpa istirahat. Jalanan sampai di Pos 2 berupa bebatuan. Baru tahu ketika jalan pulang, trek yang kita lalui begitu ekstrim tinggi. Apalagi dari pos 3-4 lebih dari 75 derajat. Batu-batu vulkanik akibat letusan menutupi seluruh muka gunung. Hanya tanaman khas yang tumbuh.

Saya, Cay dan Fadiah sampai duluan di Cemoro Sewu, sedangkan Harlan nampak kesusahan karena kakinya yang cidera. Dia paling belakang. Sambil menunggu Harlan beberapa mandi di Cemoro Sewu, luar biasa dinginnya, bagai mandi air es. Air di ketinggian 1800 ini segar.

Touring Magazine : Sanghyang Taraje


Sanghyang Taraje, bukan Anyeong Saranghae lho. Bukan, ini bukan touring ke Korea atau nonton musik Korea seperti yang lagi ngetren baru-baru ini. Sanghyang Taraje ini adalah sebuah Curug (Air Terjun) yang letaknya di Garut Selatan (Garsel bukan Korsel).

Touring Magazine! Kamis, 15 November 2012. Jam setengah lima selepas subuh kami berkumpul di gerbang depan ITB. Yang hadir ada 7 motor dan 13 orang. Cukup ramai lah ya Touring kali ini. Pengantar singkat dari bos Touring Magazine aka Bang Khai kemudian lanjut jalan ke Cileunyi, kita menjemput Cupsy.

Nampaknya agak sedikit kesiangan karena sampai di Ujung Berung dan Cibiru sudah mulai macet karena aktivitas pasar pagi. Tapi tidak terlalu jadi masalah, karena nyampe Cileunyi bisa cuma setengah jam. Jalanan mulai ramai tapi lancar. Beberapa kali disalip rombongan Touring yang lebih pro semisal rombongan Pulsar atau rombongan Piaggio.

Sambil menunggu Cupsy yang memang belum bangun ternyata, kita mampir Alfamart buat barang mengisi perut supaya nggak kosong. Sampai akhirnya si Cupsy yang baru bangun itu bergabung juga ternyata memakan waktu yang cukup lama. Jam 6 lebih lah kita baru mulai jalan lagi.

Perjalanan lancar sampai Samarang, Garut. Kita mampir salahsatu warung nasi yang sudah buka. Sekitar jam 7an kita di sana. Agak lama makan, setengah jam lebih. Akhirnya perjalanan dilanjutkan. Tidak ada checkpoint lagi sampai di Sanghyang Taraje, begitu rencananya.

Sampai di pertigaan Cikajang kita masih lancar dan jalanan Kota Garut menuju Cikajang sudah sering saya lewati. Tidak terlalu spesial.

Dari pertigaan Cikajang kita ambil kanan, ya paling tidak masih dua puluh kilo lebih. Jalanannya pertama-tama mulus, lalu medium, lalu mulus lagi ketika melewati sebuah markas Yonif, kemudian kembali medium, lalu mulus lagi ketika sebelum dan sesudah melewati sebuah gardu induk listrik lokal wilayah kecamatan. Sampai jalanan terjal cukup panjang sekitar 5 kiloan, terakhir jalan halus lagi sampai pintu gerbang hutan. Sepanjang perjalanan didominasi oleh perkebunan teh yang cukup luas milik PT PN VIII. Feeling baik, kalau jalan lewat perkebunan teh pasti akan nemu curug yang bagus seperti Citambur.

Gerbang hutan, maksud saya di sini hutan itu tempat tidak adanya pemukiman, tapi jalan selebar 2 meter masih ada. Menurut penuturan masyarakat sekitar, jalan menuju Curug mulai dari gerbang hutan katanya sangat ekstrim.

Benar, ternyata ekstrim banget. Sebuah turunan dengan kemiringan 450 benar adanya. Wah, ngeri juga, untung motornya masih dalam performa baik remnya. Terhitung ada 3 turunan ekstrim yang harus kita lalui, dan turunan yang pertama nampak paling ekstrim karena panjang sekali lintasannya. Semua jadi terpikir, bagaimana nanti kita naiknya? Gila! Ini sudah main skill, beruntung tidak ada yang bawa metic.

Pemandangan menarik sepanjang perjalanan tengah hutan sekitar 2 kilometer. Di seberang bukit ada sebuah lokasi pertambangan liar, entah penambangan batu gamping atau pasir biasa. Rasanya menyedihkan karena tanah longsorannya turun ke sungai dan mengakibatkan tercemar. Bisa dilihat perbandingannya dua aliran sungai di sisi kanan kami yang tercemar dan sisi kiri kami yang masih bersih.

Setelah turunan ketiga, lega rasanya bertemu dengan pemandangan sebuah Curug, tingginya MasyaAlloh. Namun tak kunjung kami temukan spot motor ataupun rumah untuk berhenti. Maklum ini kan hutan. Akhirnya cuma ada satu saung yang sudah hampir rusak dengan sampingnya agak kosong dan cukup buat parkir delapan motor.

Hampir mirip dengan Curug Cimahi, kita harus turun ke lembah dulu untuk sampai di spot air terjunnya. Dan meen, ini curug tinggi sekali. Perlu kalian tahu juga, Curug ini punya legenda. Kian Santang (berasa lihat sinetron di SCTV, kayaknya) yakni putra Prabu Siliwangi yang hendak mengambil bintang untuk kekasihnya Dayang Sumbi di langit. Makanya Curug ini dinamai Sanghyang Taraje, Sanghyang artinya langit, dan Taraje artinya tangga. Jadi inilah tangga menuju langit yang harus dilewati oleh Kian Santang untuk mengambil  bintang demi persembahan untuk Dayang Sumbi. Romantis sekali..

maps

maps

Guru, Mereka Ujung Tombaknya


Di tengah training software manajemen pendidikan yang agak kacau secara teknis ini saya nemu beberapa titik inspirasi. Saya tertarik dengan sosok guru yang sangat antusias dan berdedikasi. saya pikir ga usah sebut nama ya. Semoga sosok yang saya gambarkan menginspirasi kalian juga.

Umurnya 40 lebih, guratan wajahnya sudah berlekuk-lekuk. Pas saya sampai di ruangan, dia sudah ada di sana siap dengan leptopnya. Saya disambut dengan senyum, senyum penuh antusias. Ya, dia hanya seorang guru SD. Kalau menilik sikapnya, saya salah sekali beranggapan ‘hanya’ di kalimat sebelumnya.

Pas saya mulai menerangkan, dia sangat helpful sekali. Dia tidak menganggap remeh kami walau kami bnyak nggak bisa jawab pertanyaan kritis mereka. Saya yang minim sarana seperti ga bawa flashdisk dipinjeminnya. Saya jadi semangat ngetrainingnya, bicara saya menggebu-gebu, sebeluymnya tidak.

Siang hari, ketika saya ajak untuk istirahat yang lain protes minta diterusin biar selesai cepet, tapi dia nurut-nurut saja ga banyak komplain.

Taukah teman-teman ketika semua istirahat, beliau ke mana? Ke sekolahnya lagi, buat ngajar. Padahal yang lain nyantai saja di luar makan, bahkan ada yang pulang duluan.

Dan ketika jam setengah 1 masuk lagi, dia dengan buru-buru masuk kelas. Wajahnya basah, nampak air wudhu karena wajahnya cerah. Isi kelas yg tadinya 30 orang jadi cuma 8, dia salahsatunya. ketika yang lain mulai bosan dia masih paling semangat dan aktif.

Sampai akhir yang lain sudah pada facebookan dia masih semangat belajar dengan antusiasnya bertanya. Mengikuti instruksi dengan baik, dan bahkan ketika pertanyaan yang diajukan mulai tidak bisa saya jawab, dia dengan baik tidak meneruskan pertanyaannya. Kelas lain malah, ada yang dapet komplain hingga diejek-ejek trainernya.

Ya, andai saja semua guru punya kualitas seperti dia. Terutama guru daerah yang mana profesi guru hanya jadi komoditas penghasil gaji bagi kehidupannya.

Tanpa mengesampingkan jasa guru sejauh ini, menurut saya bukan kurikulum yang diubah-ubah seperti yang terjadi belakangan ini. Kualitas dan determinasilah sumber daya pengajarnyalah yang perlu ditingkatkan.

Karena, guru ujung tombak dari segala pergerakan.


d
iambil dari 1cak.com

Garut
06112012

Catatan Hidup : Berbahasa


Istilah ini saya dapatkan dari pertemuan privat dengan karyawan saya. Konteksnya karyawan yang mengeluh pada bosnya.

Dalam keluhannya, seorang manajer berperilaku tidak mengenakkan. Masalahnya komunikasi, klasik sih namun kali ini diungkapkan secara tidak wajar. Ya penuh dengan emosi yang meletup-letup. Hasilnya saya sendiri cukup takut. Untung suasana masih bisa saya kendalikan.

Suatu kebijakan jangka panjang, mungkin pada awalnya sudah disampaikan. Namun tidak cukup itu saja kawan. Anggap saja ini soal larangan X. Kita tak hanya memberitahu ‘jangan X’ di awal. Namun follow upnya harus berjalan terus. Kebijakan yang jangka panjang itu tentu butuh evaluasi dan pensuasanaan lagi secara periodik.

Kasusnya, larangan X mempunyai konsekuensi terhadap hak karyawan. Ketika pemberian konsekuensi itu kita tidak hanya sekedar memberi konsekuensi semata. Kita juga wajib mengkomunikasikan mungkin betapa pentingnya ‘jangan X’ ini. Lalu kalau sudah merasa ingat, coba motivasi lagi karyawan kita.

Nah istilah di atas tersebut menurut karyawan saya yang disebut berbahasa. Ya, sebagai manager, kita tak hanya perlu ‘do the thing right’, tapi mengkomunikasikan ‘what the things that are’.  Atau mungkin ‘why that thing must be done right’. Sekali lagi ya periodik, nggak melulu. Ya tapi itu butuh kawan-kawan.

Karena sebagai manager kita juga mempunyai bawahan manusia. Manusia perlu berbahasa, manusia perlu diperlakukan seperti manusia. Cara memanusiakan manusia ya berbicara ala manusia. Level spesifiknya, berbicara dengan sesama insan  akademis ya berbicaralah seperti layaknya insan akademis. Kalau bicara dengan insan akademis caranya seperti preman, lawan bicara akan membalas dengan cara preman, bahkan secara tindakan juga.

Selamat berbahasa kawan-kawan!