Untung jalanan tidak sepi. Semilir angin yang menerpa kami begitu menyegarkan lagi. Udara sejuk menyelimuti tubuh kami sehingga tidak ada kegerahan samasekali. Oh iya, kawan-kawan belum tahu ya. Sweaterku hilang, sweater favorit karena coraknya yang belang-belang dan tipis. Sangat nyaman untuk kondisi tropis yang panas.

Jalan Pantai Kuta
Kini andalanku tinggal kemeja flanel yang ku beli di gasibu seharga sepuluhribu itu. Entah kenapa aku suka sekali, tiap hari selama perjalanan kain itu tak pernah aku masukkan dalam tas, kalau tidak aku pakai ya aku pegang dan gantungkan di lengan. Walaupun sudah berapa hari pun, aku selalu memakainya.
Motor Kindi yang Mio baru saja diisi bensin, semoga bisa sampai Mataram dan pas habis bensinnya di tangan Pak Hamdan. Hahaha. Sedangkan Revo kita nampaknya masih berisi. Baiklah, pas tukar dua-duanya harus kosong. Seperti pas pertama nyewa, kita juga dapet motor dalam keadaa kosong. Fair kan?
Motor kami melaju, jalanan yang sudah kami tempuh pas berangkat juga kami lewati lagi. Dusun Sade, lalu Sengkol dan akhirnya sampa juga di Praya. Jalan Praya – Mataram cukup ramai seperti jalanan biasa. Kanan kiri kami juga banyak rumah-rumah.
Aku dan Mas Kun agak jauh di depan, Kindi masih tidak terlihat. Kusuruh Mas Kun buat agak pelan saja. Jaga-jaga barangkali da sesuatu dengan Kindi.
Pelan pun Kindi tak hendak menyusul, kami agak gusar. Akhirnya berhenti. Nampaknya juga bensin motor kita sudah minim ini. Tak lama juga akhirnya Kindi menyusul.
“Kok lama Kin, ada apa?”
“Bensinnya habis nih.”
“Hah benar kan?”
“Yaudah ayo beli bensin.”
Kindi dan Mas Kun dengan revonya beli bensin eceran di belakang. Aku menunggu di depan bersama Mio yang tak berbensin ini. Ah. Ini suasana jalan di Lombok. Tak beda dengan jalanan lain, cuma di sini lebih mirip Purworejo dibanding Bandung. Banyak motor dan sedikit mobil. Tidak macet dan kanan kiri masih banyak pohon-pohon tinggi.
Mas Kun dan Kindi kembali membawa satu botol bensin dengan volume satu liter. Kami bagi dua buat dua motor ini. Lalu kami berangkat kembali.
Alhamdulillah sampai lagi di kota. Cakranegara sudah terpampang jelas plangnya. Namun kita terbawa arus. Kita jadi kebawa ke Mataram. Ah, ibukota ini rapih memang. Adanya Cuma kantor ini kantor itu, pasar jarang sekali. Kata sopir yang mengantarkan kami dari Lembar ke Cakra ini benar berarti. Ya, sebuah tata-kota, aku tak tahu apa itu bagus atau buruk. Aku juga merasa biasa saja.
Hai, ini kita kesasar tau. Kita terbawa jalan searah yang melintang panjang dari Cakra sampai Mataram. Akhirnya memang kita harus bertanya juga ini mah. Akhirnya kami tanya, setelah bertanya memang kita kesasar dan untungnya depan ada belokan untuk putar balik. Yosh!
Kami putar balik, kembali jalan searah. Belok kiri malah kesasar kemana-mana. Diputuskan untuk kembali bertanya, kali ini kita sudah di Cakranegara. Cakra memang rumit. Ah kenapa begitu banyak jalan searah.
“Permisi mbak, kalau mau ke pasar Cakranegara jalannya mana ya?” Tanyaku pada seorang penjaga Londrian.
“Belok kiri saja ini mas, nanti ada banyak perempatan. Nah masnya belok kanan saja di perempatan ke 3.” Kata dia mnjelaskan pada kami dengan logat lokal.
“Sebentar-sebentar mbak, ini belok kiri lalu lurus sampai ke perempatan ketiga.”
“Mas ada kertas nggak?” Tanya mbak-mbak tadi.
“Aku yang memegang peta menunjukkan kertas padanya.”
“Ini mas jalannya,” kata dia sambil menggambar jalan sebagai rutenya.
“Oke terimakasih mbak.”
Kami jalan lagi dengan sebuah peta baru. Peta buatan manusia ini semoga bisa mengantarkan kita ke Hotel Internasional yang menjadi meeting point kami bersama Pak Hamdan untuk bertukar motor.
Perempatan pertama yang di maksud sudah lewat, ini sudah hampir perempatan kedua. Ah, lampu traffic juga sedang tidak merah, Mas Kun paling depan maju. Entah kenapa kita seakan salah langkah, rombongan kendaran dari depan kami seenaknya menerabas jalan kami. Jalan di sebelah kiri ini.
Teriakan itu mulai terdengar dari mulut seorang tua selang beberapa detik aku merasakan hal aneh itu.
“Woy…. Puter balik, puter balik..”
Beberpa orang juga langsung meneriaki hal yang sama. Aku langsung menoleh kebelakang. Benar mereka sedang meneriaki kami, ya kami bertiga dengan dua motor. Hows bad, kami puter balik. Karena crowdednya jalan sehingga ini jadi kacau, kami juga susah putar balik.
Sayang sekali, peluit sudah buruan berbunyi. Aku menyerah. Ah, Mas Kun yang ada di depan belum. Kindi mengikuti kita di belakang. Aku toleh ke belakang, seorang polisi dengan gesit menaiki motornya. Ya, dia mengejar kami. What – the – hell.
Ah dengan mudahnya Kindi disalip polisi itu. Aku masih cari-cari ide, kanan atau kiri supaya polisi itu tidak bisa menangkap kami. Mas Kun ambil kiri, jalannya mudah namun berbelok-belok. Aku suda tak berani menoleh ke belakang untuk memperhatikan seberapa dekat polisi itu. Dan, sesudah belokan maut itu, ziitttt rem sebuah motor yang dinaiki oleh seorang polisi itu tiba di depan kami, mas Kun juga langsung ambil rem. Kami berhenti. Dua detik serasa lama, polisi itu tampak lebih sigap.
“Mas, mau lari kemana?” Kata Polisi itu bengis.
“Ya kami blep blep blep blep….” Suara Mas Kun makin kebelakang makin lirih. Aku yang dibelakangnya semakin nggak jelas.
“Udah, kamu ikut saya.” Kata polisi itu lagi masih bengis. SIM dan STNK Mas Kun ditahan.
“Baik pak,”
“Loh, temen kamu mana? Tadi kalian bertiga toh? Thu nggak kalian dimana? Buruan suruh ke TKP tadi.”
“Lho, nggak tahu pak.”
Diam-diam kau kirim SMS ke Kindi.
Kin, langsung ke masjid IC aja. Biarin aja, kan motormu doang yang mau diganti. Langsung ketemu Pak Hamdan di sana.
Artinya, Kindi tak usah balik ikut kami, biarkan kami yang berurusan dengan polisi itu.
Kami, Aku dan Mas Kun digiring ke TKP. Perempatan itu, apakah kita sudah terlewat jauh? Atau kita seharusnya belok kanan supaya bisa sampai ke pasar cakra?
“Kamu sini saja, jagain motor.” Kata pak polisi itu sambil nunjuk-nunjuk ke motor kami dan motor dia yang diparkir berjajar..
Lalu Mas Kun dibawa ke sebuah warung kopi seberang jalan. Ah, pos polisinya ada di dalam warung kopi. Ahaha kamu jangan kaget gitu. Di Bandung aku sudah pernah kayak gini. Di jalan Ahmad Yani sebelum jalan Kiaracondong tepatnya.
Aku menunggui Mas Kun sambil koordinasi dengan Kindi tentang apa yang harus dilakukan kedepannya melalui sms. Sampai beberapa saat Mas Kun muncul kembali ke luar dari warung kopi.
“Ada dua puluh ribuan nggak?”
“Nggak ada mas, gimana?”
“Ntar kuceritain.”
Dia berlalu ke sebuah warung, nampaknya menukar duit dulu.
“Kindi gimana?” Tanya dia balik dari menukar uang.
“Belum ngebales lagi, tapi tadi katanya udah di Majid.”
“Oke, tunggu sebentar.”
Tak lama setelah pergi menuju ke warung kopi itu lagi, dia kembali diantar pak polisi itu. Mukanya sudah kembali menjadi baik, seorang pelayan masyarakat. Dalam langkah jalan ke arahku tak lupa Mas Kun ucapkan terimakasih.
“Kena berapa Mas?”
“Haha dua puluh ribu.”
“Masukin anggaran bersama aja mas.”
“Iyo.. Kindi di masjid toh?”
“Iyo..”
Kami meninggalkan pos dengan penuh kekecewaan sekaligus kelegaan hati. Kecewa karena kami merasa tidak bersalah, Mas Kun aja yang di depan tidak melihat ada tanda verboden (jalan searah) apalagi aku, dan setelah di lihat kembali tanda nggak boleh lurus itu memang ada namun kecil sekali tak terlihat, atau penempatannya kurang terlihat. Sedangkan kata tukang londrian yang ngasih peta tadi katanya pun malah belok kanan, belok kanan kita malah semakin salah. Lega karena urusan ini beres tanpa harus ada sidang dua minggu lagi, ya kami nggak mungkin menunggu 2 minggu lagi di Lombok.
Tinggal 500 meter lagi. Di tengah jalan pasar buah, motor kami oleng. Mas Kun suruh aku liat ban belakang motor ini. Dan yak ternyata kita kebocoran ban belakang. Hai, sebuah kebetulan kah? Sebuah rencana? Ya Allah, baiklah.

Penambal Ban
Beruntung seratus meter bahkan tak sampai kita langsung ketemu sama bengkel tambal ban. Kecil, kecil sekali. Bengkel yang Cuma punya satu pompa kompressor dan satu alat tambal ban itu numpang di emperan toko orang yang nampak tutup. Alat-alatnya memang cukup buat tambal ban, tukangnya seorang muda, kulitnya hitam, usianya lebih muda dari kami.
“Double strike!” Kataku seperti ekspresi mancing mania.
“Jackpot!!!” Kata Mas Kun.
Akhirnya Mas Kun cerita apa yang terjadi di dalam warung kopi tadi.
Jadi seperti biasa ditanyain ini itu. Dari mana, cerita kami dari jawa sedang berlibur. Motor yang kami sewaan dan ini itu. Dan Polisi juga ngasih nasihat ini itu, bilang soal harus menaati aturan lalu lintas, nanti kalau tidak bisa mengganggu lalu lintas bahkan korban jiwa. Enaknya gimana, ga enaknya giminu. Dan akhirnya sampai pada obrolan duit. Berapakah kita harus ngasih?
Berapapun, asal uang pas. Ah, dua puluh ribu aja ya? Punyanya cuma segitu Pak. Yaudah dua puluh ribu. Pas Mas Kun cari-cari uang dalam sakunya, ternyata tidak ada. Dia Cuma temukan 50ribu. Nah, katanya Cuma punya uang dua puluh ribu? Yaudah pak, ini kembali 30 ribu ada kan? Ah, apa-apaan. Cari tukeran sana. Temenmu barangkali ada. Ya, itu pas aku ke kamu nanyain.
Pas udah dapet, ya udah. Dikasihin dua puluh ribuannya, cuma ngelihat entah dia sedang nulis apa di lembar kerjanya, SIM dan STNK dikasihin lagi. Bebas.
Ah, begitu sekali itu polisi.
“Urusan jalanan selesai di warung kopi. Ah, Pak polisi Anda baik sekali. ”
Begitu status yang aku pasang di facebook.
Jadilah begitu ceritanya. Aku tertawa miris, tetawa sekenanya saja. Mas Kun masih menyesalkan petunjuk si mbak-mbak itu tadi di loundrian. Apalagi petunjuk lalu lintasnya begitu kecil dan tidak terlihat. Pahamkah pendatang seperti kami?
Motor beres ditambal. Jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas. Fake, ini hari jum’at pula. Apakah kita akan lanjut ke Senaru? Aku terus terang tidak menyarankan.
Sampai di Masjid IC Cakranegara, kami bertiga sudah berkumpul kembali. Kindi sedang ngobrol dengan Pak Hamdan, orang yang punya motor. Nah, para jamaah mulai berdatangan. Jam berapakah jum’at di sini? Setengah satu baru dimulai.
Akhirnya kami saling berdiskusi. Entah aku sudah agak males kalau mau mnegejar Senaru. Selain jauh, ini nanti kita bisa nggak dapet kapal buat ke Gili Trawangan. Ini nanti Jumatan selesai jam satu. Trus sama makan dan macem-macem paling berangkat jam dua, sampai senaru jam setengah lima, sudah sore dan kita buat ke Gili Trawangan pasti kesorean.
Dengan berat hati, usulanku itu kita ambil. Kita menskip Senaru gara-gara peristiwa sialan tadi. Coba kita sampai di sini jam 9. Lalu langsung berangkat ke Senaru sampai jam 11.30, lalu menikmati banyak curug atau air terjun di sana lalu jam empat berangkat ke Gili Trawangan, sampai di Pelabuhan Bangsal jam lima langsung nyebrang ke Gili Trawangan. Bermalam di Gili Trawangan memang tujuan kami hari ini.
Semua sudah terjadi. Kami cuma bisa berencana, tapi jalan adalah lapangannya backpacker. Sesuatu yang tidak terduga-duga adalah biasa.
Pada akhirnya, kita menyebut ini wisata jalanan. Inilah jalanan pulau lombok, terutama di Mataram dan Cakranegara. Banyak verboden alias jalan satu arah, namun rambu-rambu yang tidak jelas. Polisinya, polisi dimana-mana sama. Dididik sama dan untuk tujuan yang sama. Di Jawa ataupun di Lombok sama.
0.000000
0.000000