Amnesia


Tiba-tiba saja ini dunia menjadi agak mencekam, sepi. Aku masih diburu oleh polisi-polisi. Mungkin aku telah amnesia dalam sebuah kejadian yang menyeramkan di sebuah episode kehidupan ini. Denis, Adam, Sona, Adit, Alfadh, Dida dan yang lain masih berlari, aku mengikuti mereka. Gang-gang Taman Hewan masih menjadi labirin tempat kami berkejar-kejaran dengan polisi. Aku masih berpikir dalam lari. Kenapa dunia ini masih mencekam begini?

Rasanya, aku telah sampai pada sebuah tempat persembunyian yang tidak asing. Entah siapa yang tiba-tiba membaringkanku, aku lemas dan mungkin kekurangan air, aku depresi dan dehidrasi, lemas seketika.

Dalam mimpi itu entah apa yang terjadi. Wanita-wanita yang tidak aku gemari lakonnya muncul dalam mimpi itu. Allysa Soebandono, ya yang paling jelas kelihatan dia. Yang lainnya aku lupa, kan mimpi. Aku keringatan nggak jelas. Gila!

Aku terbangun, aku dikejutkan dengan dua buah test-pack yang ada di kasur kamarku. Alat uji kehamilan itu berjumlah dua dan menjijikkan. Ah, kubaca di salahsatunya karena ditempek dengan sebuah note : Bagaimana hasilnya Mas?

Aku terheran-heran, aku kaget, aku teriak kencang. Dari luar ada keramaian. Kamar masih terkunci dari dalam. Aku dengar suara Ibu, astaga Ibu. Ya, Ibu disini, dikosanku. Ah, macam mana pula ini ada testpack segala. Segera saja kusembunyikan benda yang tak berasal-usul itu.

Kubuka pintu, ya memang benar, dia Ibuku.

Lama setelah itu, rupanya ada gerombolan yang tadi. Denis, Adam dan kawan-kawannya. Mereka memberitahu bahwa tempat ini sudah tidak aman. Kita harus segera lari. Aku masih tak tahu apa-apa. Yang kutahu, aku harus cari tahu apa maksud dua testpack di kamarku. Aku ikut mereka.

Kami akan lari ke Jalan Cihampelas. Keluar dari labirin Taman Hewan. Segera memcuci nama, entah masih kurang masuk akal apayang teman-teman usulkan. Dari kosanku itu, rut eke Cihampela lumayan dekat. Pas mau nyebrang sungai Cikapundung ternyata semua dijaga oleh polisi. Semuanya menyapkan siasat. Aku yang lemah dan amnesia hanya menjadi objek atau barang bawaan, teman-temanku itu hanya meyakinkanku bahwa aku akan segera tahu jawabannya.

Teman-temanku beraksi, aku masih menunggu ditempat yang aman. Mereka tampak bejibaku, tapi aku masih sendiri memikirkan apa yang terjadi. Aku kaget bukan main, aku dibangunkan oleh seorang polisi berhelm prajurit tertutup full face. Apa? Teman-temanku sudah kalah, aku tak bisa apa-apa. Aku mungkin pasrah. Aku akan menjadi terdakwa dalam kasus yang dalam ingatanku itu hilang. Aku akan bersaksi dalam pengadilan yang aku tidak tahu apa-apa. Aku akan dicela semua public karena pura-pura amnesia, padahal aku benar-benar tak tahu apa-apa.

Apalagi mengingat dua testpack itu, aku akan makin dicela. Pertanggungjawaban apa yang akan mereka tuntut apabila aku tertangkap. Jangan-jangan Allysa akan datang meminta itu. Oh mungkin bukan, aku benar-benar amnesia.

Aku bengong melihat polisi tadi gara-gara berpikir macam-macam itu. Aku tak sadar bahwa polisi yang tadinya memakai helm sekarang sudah melepas helmnya. Ya rupanya dia Adam. Aku kaget, ah mereka melakukannya dengan baik. Mereka telah mengalahkan polisi penjaga sungai Cikapundung, ujung dari Labirin Taman Hewan.

Kami nyebrang sungai itu, kami tak lupa untuk melucuti senjata dari polisi-polisi yang telah kami kalahkan itu. Aku kini memegang sebuah AK-47 asli. Kami mungkin sekarang jadi gerombolan paling dicari di Negara ini. Sampai di Cihampelas, naik mobil yang telah dibajak oleh seorang teman barangkali.

Kami, aku masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Lalu perlahan aku mulai sedikit terbayang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mulai mengingat ada sebuah kerusuhan yang melibatkan Polisi dan kami. Ada bakar-bakaran di sebuah tempat yang sudah hampir rata dengan tanah. Napaknya itu stadion yang runtuh. Mungkin Siliwangi. Ah aku masih belum bisa membayangkan lebih jauh lagi.

Kami sampai disebuah tempat. Sebuah rumah, agak besar tapi mirip Pabrik. Kami disambut Irfan Bachdim. Dia rupanya orang kenalan salahatu dari kami. Nampaknya dia salahsatu yang tahu apa dibalik semua ini. Kami mendapatkan servis yang cukup. Dia orang penting dalam kasus ini rupanya.

Kami mulai merencanakan suatu pergerakan itu, segala dana didanai oleh Irfan Bachdim. Aku masih bingung dengan rencana-rencana itu, kita mau ke Bioskop, kita mau ke sebuah bukit di Lembang. Memancing polisi dan tentara untuk bertempur. Komandan kami benar si Adam.

Rencana kami pertama yaitu ke Mall lalu ke Bioskop. Aku hanya sebagai umpan. Aku sengaja ditampilkan di public. Sampai orang-orang pada tahu. Termasuk Bapak Kos pas SMA dulu pun tahu. Ah ini mulai tak masuk akal, semua orang mencari, termasuk orang-orang SMA barangkali.

Aku tahu apa yang harus kulakukan, aku setelah itu menghindar dari mereka-mereka. Pura-pura tidak tahu sesuatu dan tidak kenal. Aku lari di Parkiran, di sana sebagian teman sudah menunggu di mobil. Aku segera masuk, namun pas kubuka pintu dari belakang Pak Untung(Bapak Kos jaman SMA itu) memanggilku, bilang bahwa aku dicari sekali.
Teman dari dalam mobil menarikku lalu dari dalam mobil ada yang mengacungkan pistol pada Pak Untung. Kami langsung kabur, kembali ke markas kami.

Hari berikutnya kami benar ke sebuah bukit di lembang. Baru aku tahu kejadian yang sebenarnya, pas mereka(polisi dan tentara) datang dan mengajak diplomasi kepada kami untuk menyerahkan diri.

Kami adalah penyebab kekacauan di Stadion Siliwangi yang mengakibatkan banyak korban jiwa sampai Stadion itu luluh lantah.

Aku mulai ingat itu. Menurut teman-teman dari markas. Kami bukan penyebabnya, kami hanya oknum yang terpancing melihat ketidakadilan. Ada penyanderaan seorang anggota kami yang akhirnya di tempat itu juga kami habisi.

Instruksi dari komandan bahwa kita akan bertempur. Baiklah, aku sudah siap dengan AK-47 rampasan di sungai cikapundung dekat kosan kala itu. Yang lain menggunakan juga namun berbeda-beda. Ada yang pakai sniper. Ini mirip di di Counter Strike! Namun kami banyak, mereka banyak. Kita bertempur di sebuah bukit layaknya di Dota.

Kami menang, kami memenangi peperangan itu, melawan polisi dan tentara. Dalam hatiku kini makin keras, aku lalu berkata dalam hati. “Maaf polisi, tentara, kami terpaksa memukul mundur kalian karena kalian nggak mau mengerti posisi kami. Kami bukan pihak yang bersalah. Kami tahu kami bakalan tetap kalah kalau kami menyerahkan diri. Kalian sudah dib eking oleh orang besar Negara ini. Ada pemegang kekuasaan yang menggunakan kalian.

Kami lalu kembali ke markas. Kami istirahat bergantian. Misi selanjutnya menyiapkan pembersihan nama kami. Kami akan melakasanakan operasi itu. Aku menyamar bersama teman-teman yang lain. Pergi ke Bioskop dan bermain-main. Ternyata, film yang sedang tayang sudah kutonton, kami tidak tertarik. Sebagian teman pada nonton aku diluar.

Aku duduk disebuah café. Minum dan makan. Aku dalam keadaan menyamar saat itu. Tapi ada yang tidak pangling denganku. Dialah teman-teman SMAku, teman sekelasku. Yudha yang paling pertama mengetahuiku. Keluar dari bioskop dia mendekatiku. Dia Nampak tidak terkejut, lalu kemudian Duli, Rohmad, Wiwit menyusul. Kita terlibat dalam obrolan. Sampai akhirnya kuceritakan semuanya. Mereka tahu apa yang terjadi padaku. Namun mereka tidak akan melaporkan diriku atau menangkapku.

Ini nyata sekali, aku pikir. Apa yang sebenarnya terjadi. Tentang dua test-pack tadi, tentang insiden di Stadion yang porak-poranda, tentang kejadian di lembang. Irfan Bachdim, Allysa Soebandono.

Aku lalu bangun, aku masih bingung, aku kini ingat segalanya. Ini semua mimpi. Ini semua tidak nyata. Kuraba kasurku, tak kutemukan testpack itu. Aku bersyukur. Oh iya, ini sudah jam setengah 6. Subuh hampir habis. Aku bangkit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s