Budaya Untuk Sebuah Kemahasiswaan


Aku disini mau bilang masalah budaya. Budaya yang saya maksudkan disini yaitu masalah berorganisasi. Oke lah langsung saja.

Organisasi kemahasiswaan di ITB sudah selayaknya menganggap kita sebagai keluarga, benar tidak? Di himpunan, di unit, di Kabinet. Ya karena memang kita disebut sebagai Keluarga Mahasiswa ITB(KM-ITB). Lembagaku yang satu ini ya termasuk yang paling kucintai lah. Lembaga yang bisa dibilang punya impresi tinggi yang menanamkan kekeluargaan. Bukan saya ingin protes ataupun apa, justru saya sangat suka sekali, sangat betah sekali dengan keadaan kekeluargaan di sini.

Alasan aku menulis ini juga mungkin akar-akarnya dari kenyamanan berkekeluargaan(bukan keluarga ya, kita nggak pernah punya hubungan darah kali, :p). Berawal dari itu jadinya sekarang aku betah dan memutuskan untuk bertahan dan berniat untuk turut membangun serta meningkatkan unit kemahasiswaan ini.

Kalau hasil sebuah kaderisasi meski itu juga belum tentu, ada satu hal yang sangat penting bagi sebuah kekeluargaan, kata Mas Riza yaitu: Budaya. Kata Seniorku di lembaga lain juga sama. Jadi mengapa itu budaya penting? Mengapa kata yang digunakan bukan kebiasaan atau apapun itu?

Budaya, dari segi nama itu lebih luar biasa dibanding kebiasaan. Budaya lebih keren lah istilahnya. Budi dan daya, budi itu akal daya itu kekuatan. Jadi akal menciptakan sebuah perbuatan yang digerakan oleh kekuatan. Karena Budaya itu sebuah kata, maka itu cukup untuk mewakili sebagai kebiasaan yang berasal dari cipta, rasa dan karsa manusia yang menimbulkan sebuah perbuatan atas dasar kekuatan. Budaya menjadi penitng bagi keberjalanan sebuah kelompok masyarakat. Karena itu salahatu parameter sebuah lingkungan tersebut.

Ketika sudah tahu itu kebudayaan penting, kita langsung saja lah merambah kepada solusi. Oke kawan-kawan, kita sudah terlalu sering cekikikan di sekre sampe larut malam, kita sudah terlalu dalam mengubek-ubek masalah pribadi satu sama lain melalui curhat dan curhatan, kita sudah terlalu kebal untuk dikata-katain(dibuli-buli), bahkan kata Afri, resolusinya di tahun baru adalah untuk tidak dibuli lagi. Betapa sebuah pembulian adalah masalah yang amat besar bagi seorang Afri, :p (maksud saya becanda, hehehe)

Ya dari itu semua lah, kita kan udah dapet lah yang namanya kekeluargaan. Parameter yang sekarang harus dicapai ya profesionalitas bukan? Dari uraian Mas Sofyan sendiri kita sudah dapet penjelasannya. Kita nggak melepas profesionalisme dalam visinya, tapi melandaskan kekeluargaan dulu, abis itu baru betah dan nyaman selanjutnya kerja pun beres. Bagian terakhir kan yang profesionalitas. Tentunya..

Sorry kalo mubeng-mubeng, maksudku : KITA BUTUH BUDAYA DI ANGKATAN KITA!
Budaya seperti apa? Saya punya usulan, daripada bingung-bingung ya langsung aja : Keprofesionalitasan.
Itu bukan budaya yang jelek kan, setuju nggak?
Mungkin sebagian akan bilang, “Kan aku disini mau berkeluarga!”, Kujawab “udah, kamu udah dapet keluarga itu. Aku, pengurus inti, staf senior, karyawan, belum cukup sebagai keluarga?”. Ya kalo maksudmu lain, keluarga yang dimaksud adalah “pasangan” ya maaf saja, aku juga punya jawaban lain, “oh itu, ya bukan salah tempat sih, tapi timing sama kondisinya harus beda.”

Konsep Profesionalitas yang saya tawarkan sih sederhana, mulai dari lingkungan sekre. Sekre adalah tempat paling utama kita untuk saling berinteraksi, dimanapun organisasinya. Kita ubah kebiasaan di sekre becanda nggak jelas itu, yang biasanya cuma ejek-ejekan ya sekarang diubah lah, mungkin terlalu kaku untuk bilang itu kajian, tapi cobalah ajak ngobrol soal permasalahan kokesma sendiri lah paling tidak. Misalkan bertukar pendapat soal solusi-solusi, sharing pengalaman-pengalaman dan ilmu dengan format ngobrol biasa seperti kekeluargaan.

Dampak kita tidak melakukan itu masalahnya sudah kelihatan gitu, contohnya kemarin pas RAT. Panitia kita dari orang yang itu-itu juga, yang di sekre-sekre juga, yang ketawa-ketiwi juga(termasuk saya). Hasilinya kan kelihatan lah, berantakan kalo aku bilang. Evalnya bisa dibaca di postingan bawah ini yang berjudul RAT. Padahal kita harusnya tidak akan kecolongan mengenai masalah teknis. Karena kita disini toh harusnya sudah dapet gambaran mengenai Rapat Anggota Tahunan dari senior-senior yang sudah pernah melakukannya. Aku yang jadi pimpinan sidang harusnya sudah punya gambaran nanti pas mimpin sidang, tapi kemarin-kemarin benar-benar blank.

Ya aku sekarang cuma mau negasin aja lah, budaya apa yang ingin kita bentuk? Aku sudah nyampein mengenai profesionalitas, ya terserah kalian juga kalo punya usul lain. Lets us discuss!

Oh iya, kemarin sempet kependam gara-gara jadi pimpinan sidang nggak bisa nyampaiin sesuatu. Kalian ngerasain nggak? Anak-anak yang betah di sekre adalah anak-anak yang mayoritas Sanguinis?
Begini analisi saya :
80% yang suka nongkrong di sekre : Sanguinis,
10% yang suka nongkrong di sekre : Koleris,
5% yang suka nongkrong di sekre : plegmatis,
5% yang suka nongkrong di sekre : melankolis,

Ya buat yang 80% itu jelas lah ya, orang sanguinis butuh keramaian, butuh becanda-becandaan, butuh yang namanya didengar lah intinya. Buat yang 20% non sanguinis itu aku punya analisi alasan mengapa mereka betah di sekre,
1. Mereka memang punya niatan kuat untuk eksis dan cenderung tuntutan,
2. Mereka suka memanfaatkan sekre untuk pemenuhan kebutuhan jasmani dan ruhani : internet, tempat tidur, televisi, tempat ngerjain tugas, tempat untuk sholat, dll.
3. Tempat sharing film, MAKAN, main game.

Pada akhirnya, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa “Sekre hanya untuk anggota yang sifatnya Sanguinis”.
Lalu dimana keadilan untuk anak-anak melankolis, plegmatis, dan koleris? Mereka anggota juga kali, mereka punya hak yang sama. Mereka harusnya juga ikut turut meramaikan(bukan bikin gaduh) sekre kita gitu. Mereka bisa disebut tersisih dari lingkungan kita. Setuju nggak kalo kubilang, orang-orang yang resign dari kokesma kebanyakan adalah orang-orang melankolis? Ambillah contoh di divisi masing-masing. Bukan masalah filosofi roti, kita menyediakan roti yang enak, atau memberi secuil roti yang enak itu ke semua anggota, trus kita bilang roti yang lebih enak dan lebih banyak ada di sekre. Ya jelas yang mau yang sanguinis-sanguinis lah, mana ada orang melankolis ditawarin gitu langsung mau. Perlulah digandeng dulu. Apalagi sama anak plegmatis, perlulah diajak curhat dulu tentang rasa enak atau tidaknya roti itu, lalu distimulus buat mau ngambil yang di sekre.

Kalau kita cuma diam saja, artinya kita menindas kaum yang tidak setipe. Masuk organisasi berarti hanya untuk koleris dan sanguinis. Koleris sebagai pimpinannya, sanguinis sebagai tukang humornya. Orang-orang yang tidak termasuk itu ya pulang lah, ngapain juga.

Ya analisis saya sih masih cetek lah, maklum bukan PSDA. Ya mungkin jangan langsung diacuhkan juga, gini-gini saya juga nggak ngasal, ya walaupun cuma dari ilmu-ilmu yang didapat di diklat taplok.

13 thoughts on “Budaya Untuk Sebuah Kemahasiswaan

  1. andihendra mengatakan:

    Saya tidak bilang diri saya sanguinis meskipun banyak orang yang bilang begitu. Saya setuju bila kokesma ada agenda kajian tentang kehidupan, organisasi dan perkoperasian. Tapi, menurut saya tidak harus selalu dengan suasana formal. Informalpun bisa. Mungkin harus didefinisikan ulang tentang makna profesionalitas, setidaknya di kalangan kalian sendiri. Kalau bisa, definisinya diterima oleh semua keluarga KOKESMA 2011. Sehingga mampu menjadi budaya kedepannya

    • iqul mengatakan:

      itu yang aku maksudka bang. Kita lakukan kajiannya dengan suasana kekeluargaan lah.. Menurutku kita kadang cuma sebatas becanda nggak jelas. Yang paling saya sesalkan ya hal saling buli-buli itu bang.

  2. Oknum A*k*nd* mengatakan:

    Saya juga setuju sh klo masalah pengkajian dan diskusi itu, walau saya sndiri belum benar2 melaksanakan. setuju jg dengan mas Andi, g harus formal. Namun menurut saya harus ada pemicu, atau sesuatu yg membuat diskusi itu tercipta walau tidak secara formal.
    Terlebih lg mngenai perkoperasian yg saya rasa masih cetek di angkatan 2009 (krg tau klo angkatan lain).
    Proker mas selo yang mengenai kajian itu juga bagus menurut saya,bisa djadikan salah satu sarana.
    klo becanda g jelas dan saling buli – buli itu g buruk2 amat kok, toh dibaliknya juga tercipta kedekatan di antara warga Kokesma.

    • iqul mengatakan:

      iya kin, kalo cuma sekedar ngobrol-ngobrol kecil kayak pas forum curhat kan bisa tuh buat ngadain ya obrolan-obrolan yang lebih berbobot dikit dibanding membuli-buli.. hahaha

      Masalahnya untuk kedekatan diantara kita tuh udah ada, aku juga udah ngrasain. Kita nggak perlu sih terlalu mikirin itu, nantinya yang namanya kekeluargaan bisa muncul dengan adanya kajian-kajian..

      • Oknum A*k*nd* mengatakan:

        ada untuk beberapa orang saja, tidak semuanya menurut saya. ada yg belum tersentuh dgn kedekatan trsbut.

        kalo kata Rasulullah orang akan menjadi dekat ketika melakukan perjalanan bersama atau bekerjasama. saran saya yg sperti uda saya utarakan lalu2, berikan posisi2 yg cukup penting pada kegiatan kokesma pada yg belum pernah merasakan.
        alhamdulillah sudah mulai dilaksanakan, namun jangan melepas bgtu saja, perlu ada pndekatan.

        mgkin ada usul lain?

      • iqul mengatakan:

        hehehe oke, mungkin dari teman2 lain ada yang memberi usul?

  3. ener mengatakan:

    setuju banget dengan ‘keluarga’ dan ‘profesionalitas’, 2 alasan untuk di kokesma. yang jadi masalah adalah, jika salah satu tidak didapat, maka yang satunya akan jadi alasan satu2nya. ada orang yang pingin dapet keluarga dulu baru bisa profesional (dia jd selalu dateng rapat, on time, kontribusi di acara2 Kokesma,etc). ada juga yang merasa nyaman dengan profesionalitas itu dulu baru dia merasa mendapatkan keluarga. misal ada staf atau penguin yang belum ngerasa ‘dapet feel’ keluarga di kokesma, mungkin orang ini akan jarang dateng ke sekre, tapi dia tetap mengusahakan datang kumpul divisinya ataupun jika ada rapat2 terpusat (artinya dia profesional). tapi saya nilai sendiri profesionalitas itu belum ada di kokesma (ex : not on time), maka orang yg profesional pun lama2 berhilangan, karena capek dikecewakan. ada juga beberapa orang yang masih bertahan tapi hanya di divisinya saja.

    tantangannya, bagaimana cara memenuhi keduanya?jika ada permasalahan tentunya kita tidak bisa memecahkan secara parsial, harus menyeluruh.kekeluargaan saya kira cukup baik, terlihat sekali kehangatan yang ada di sekre. perlu banyak rangkulan sepertinya, biasakan teman2 yang lain ada di sekre. misalnya untuk kumpul divisi sekali2 di sekre gitu. profesionalitas ini yg benar2 perlu dirombak total. ada contoh bagus dari Pakdumaru 2010 : rapat2 dibagi sesuai kepentingannya. jadi orang yang dateng tidak merasa GJ. agendakan apa saja yang akan dibicarakan, batas waktu, dll. hal ini bisa dikaji lebih lanjut, jika memang ingin melaksanakan kajian😀

    berencana ga jadi berguna jika tidak ada eksekusi. bisakah kita komitmen baru?bukan cuma kompak dan berkarya, tapi juga profesionalitas, dengan jabaran profesionalitas adalah on time, konfirmasi, atau apapunlah, ini bisa dibicarakan ke depan.

    saya sangat senang saat ada acara kekeluargaan waktu itu yang semua angkatan diundang bersama DESF untuk games di KBL, rencana yang bagus untuk keakraban. tapi eksekusinya? lagi2 ngaret. (mohon maaf, tapi hal itu sangat merusak mood, terutama untuk orang yang biasa on time, dan hal ini bisa terjadi saya kira karena memang sudah budayanya seperti itu).

    siapa bilang orang melankolis ga suka di sekre? mereka betah untuk mendengarkan curhatan orang2 sanguinis,haha. melankolis kan tipe pendengar. kalau semuanya sanguinis, berarti semuanya ingin didengar. percayakah klo hidup kita ini saling melengkapi?kenyataannya kita memang diciptakan seperti itu ko🙂
    so, let’s move, dari yang terdekat yaitu teman akrab atau teman sedivisi. “Kalau kita cuma diam saja, artinya kita menindas kaum yang tidak setipe.”

    • iqul mengatakan:

      oke, siapapun anda yang mengaku ‘ener’ oke kita mulai hal itu..

    • Oknum A*k*nd* mengatakan:

      hmm.. saya apa y. keliatannya cuilan2 dari 4 kepribadian mnurut Florence trsebut ada di saya. #oot

      benar kata ener, konsep kadang benar2 bagus. namun lemah di eksekusinya, tantangannya disini.
      gimana cara memperbaikinya? ada usulan?

      • iqul mengatakan:

        memang kin, orang pada dasarnya punya semua dari empat kepribadian itu, cuma ada yang dominan ada yang enggak. Nah masalah tes juga menurutku itu nggak Valid. Buktinya aku, orang lain itu punya pandangan terhadap diriku itu Plegmatis, tapi pas dites ternyata enggak. Yang bener itulah pandangan orang lain.. Tes kan sifatnya kondisional.. Klo pas galau mungkin dia nantinya melankolis, pas lagi seneng mungkin dia jadi sanguin.. hahaha

        Oke, eksekusinya mulai dari angkatan kita aja lah.. hahaha

  4. ener mengatakan:

    tiba-tiba saya mendengar kata-kata yang cukup mengena baru-baru ini..
    “kita tidak bisa membahagiakan semua orang. semua orang punya kebutuhan dan kehendaknya masing-masing”

    pada kenyataannya memang sejak awal kita mendaftar di kokesma hingga sekarang banyak yang resign, sepertinya itu adalah hukum alam yang tidak bisa dipungkiri.

    tapi tetap ada yang harus kita lakukan : perbaiki budaya. budaya yang akan mencerminkan identitas kita. nah, budaya seperti apa yang akan kita bentuk???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s