Kontradiksi Kampus


Beberapa waktu yang lalu membaca sebuah status seorang teman saya, dia menyatakan kekecewaannya atas perusakan atas karyanya secara semena-mena oleh sekelompok oknum di kampusnya. Sebut saja, karyanya berupa pahatan, lukisan dan tulisan. Kukira yang dia maksud adalah tulisan, soalnya dia memang setahuku dia jago menulis.
Kuberikan sebuah komentar : seorang penulis harus siap dengan perusakan atas karyanya.

Lalu dia balas : Iya kalo itu tulisan, itu tuh pahatan dan lukisan yang menghabiskan malam-malamnya.

Lalu aku berpikir untuk menjawabnya kembali. Aku jadi teringat sesosok Pramoedya, seorang penulis yang karya-karyanya dibakar di penjara oleh opsir-opsir itu. Sebuah pelajaran sebagai orang yang punya obsesi penulis satu lagi. Seorang penulis harus kuat ddan sabar, bukan lemah. Apabila kita bercermin seorang sosok Pram, dia berkali-kali dirobek dan dibakar tulisan-tulisannya di penjara. Bahkan setelah karya-karyanya dipublish, masih harus lewat pembredelan oleh orde baru, kecaman dari sejumlah tokoh nasional waktu itu.

Yang harus kita teladani ternyata memang untuk menjadi penulis besar harus bisa sabar. Tulisan-tulisan yang diacuhkan, dilecehkan, apalagi kalau dikritisi. Sudah saatnya kita anggap itu bukan sebuah kekecewaan, tapi motivasi untuk tetap menulis. Sebuah pujian bukan untuk mengendurkan penggalian terhadap aspek menulis, tapi justru semakin keras menggali potensi, ilmu dan sense untuk menulis yang lebih bermanfaat.

Lalu kubalas lagi komen temanku: hahaha, iya sih memang beda. Ya kamu yang sabar aja. Hahaha eh tapi kamu juga akan terkejut kalau kamu ke ITB. Baru tadi sore kita pasang poster. Eh besok paginya sudah ditimpukin poster lain.

Keadaan kemahasiswaan antara dua yang berbeda antara kampusku dan kampus temanku itu. Kampusku mungkin bisa dibilang kampus yang sangat dinamis. Kemahasiswaaannya sangat aktif dan sangat membara. Ibaratnya dari sejarahnya kita pernah melawan rektorat sampai kita dipaanggilkan Kodam Siliwangi untuk mengepung.

Beda dengan mungkin kampus temanku itu yang kemahasiswaan menjadi barang sunah muakad, asal ada stakeholder dalam format BEM, maka sudah tuntaslah kewajiban mereka menjadi mahasiswa dan hanya belajar rajin dan menunggu lulus lalu ditempatkan di seluruh penjuru Indonesia. Orang-orang seperti temanku yang ingin mendinamisasikan kampus melalui madding yang dia buat harus berhadapan dengan oknum yang mungkin bisa disebut orang-orang yang tergolong tidak peduli dan cenderung menganggap madding sebagai sampah.

Jelas beda landasan mungkin, kita disini menjadi maahasiswa dituntut untuk membangun bangsa dengan cara mencari jalannya sendiri. Mereka, dari golongan teman-temanku, mereka jelas punya trek yang jelas tinggal bertindak ‘jangan salah’ untuk sampai ditujuan mengabdi sebagai pejabat-pejabat yang nantinya menempati jabatan fungsional di departeman-departemen yang telah ditentukan.

Kita disini saling timpuk-menimpuk poster demi kemeriahan kegiatan yang mereka buat. Disini kita over acting untuk bisa ngeksis dan membuktikan dirinya layak mencantumkan berbagai jabatan dan dalam organisasi kemahasiswaan maupaun kepanitiaan dalam CV-nya. Baik yang sesuai keprofesian yang dia jalani di himpunan-himpunan maupun sekedar minat di acara-acara lain yang sifatnya membangun.

Kita bisa belajar dari kalian, kalian juga bisa belajar dari kami. Kami harusnya menyadari bahwa esensi kerapihan dan kebersihan kampus alan sampah-sampah poster yang sifatnya acakadut bisa dihilangkan melalui kesadaran bersikap tidak berlebihan dalam mendinamisasikan kampus. Tak perlu satu madding full dengan tutupan publikasi sebuah acara lalu bessok harinya sudaah ditimpuk acara lain.

Kalian juga harusnya bisa lah mengambil pelajaran, bahwa meleklah sedikit terhadap kemahasiwaan. Banyak saya rasa dari kalian yang suka mengkaji tentang sosial politik, kajilah. Yang kalian suka jurnalistik kampus maka buatlah media kampus seramai mungkin mengompori mahasiswa-mahasiswa kalian untuk bisa mengaktualisasikan diri mereka dalam sebuah wadah yang jelas.

Dan sebagai penulis yang sok tahu, saya hanya bisa mengompori kalian-kalian dengan kesoktahuan saya.

Saya bilang, belajar doang, mau jadi apa kita? Gayus-gayus berikutnya? Wakil-wakil rakyat berikutnya yang selalu menuntut seperti demo mahasiswa jaman sekarang?

2 thoughts on “Kontradiksi Kampus

  1. nobody mengatakan:

    Kekuatan FreeMason Yahudi di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utama tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada orang yang bisa menangkap, mengadili, dan menghukum Gembong tersebut, selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

    • iqul mengatakan:

      nah mungkin anda bisa memberi sebuah penjelasan apa itu FreeMason secara detail itu apa?
      Maaf, saya kurang setuju dengan pendapat anda mengenai
      “Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada orang yang bisa menangkap, mengadili, dan menghukum Gembong tersebut, selain Mahkamah Khilafah!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s