Menebang Hutan : Simalakama Era Rumah Kaca



Kita Nggak Akan Tebang Hutan Asal Kita Dibayar Sesuai Harga.

Begitulah rupanya kondisi Negara kita menanggapi Kyoto Protocol. Di tengah kondisi global yang kini sedang gencar-gencarnya menguak isu perubahan iklim yang salahsatu penyebabnya adalah Gas Rumah Kaca berlebih yang diproduksi negara-negara maju, Indonesia masih terjebak dalam keadaan sebagai negara berkembang.

Tulisan saya di atas memang kurang bisa dimenegerti tampaknya. Jadi begini sederhananya:
Global Warming Potential(GWP) adalah ukuran seberapa besar sebuah negara berpotensi menimbulkan global warming yang diparameteri jumlah Carbondioxide, Methane, NO, CFC, dll. Dari situ, terlihat Negara mana yang ada dalam daftar penyumbang gas rumah kaca dari yang terbesar sampai yang harus mengeluarkan gas rumah kaca. Dari Protokol Kyoto, negara yang masuk dalam kategori penymbang gas rumah kaca terbesar harus membayar Negara yang dalam tanda kutip mengurangi gas rumah kaca.

Di sini Indonesia dengan segala kekayaan hutannya adalah negara yang seharusnya bisa mendapat devisa akibat meminimalisasikan gas rumah kaca tersebut. Namun pada kenyataannya, Indonesia kunjung enggan jadi menandatangani itu Protokol. Sampai protokol itu hampir expired besok tahun 2012.

Dinamika Negara ini yang menyebabkannya teman-teman. Negara Indonesia sebagian besar devisanya dihasilkan oleh ekspor kayu. Pembangunan (desentraliasi) mau tidak mau harus mengorbankan deforetasi. Semakin tenggelamnya Jakarta, mau tidak mau menyebabkan isu pemindahan ibukota menyebabkan investor-investor berspekulasi untuk mulai membuka lahan baru di kawasan hijau.

Menebang itu ibaratnya adalah buah simalakama. Dilakukan akan semakin menekan kondisi bumi, kalau tidak menebang, bagamana bangsa ini bisa hidup. Terlebih lagi Amerika sebagai negara dalam koridor Annex 1(Negara paling diharuskan melakukan penekanan gas rumah kaca) justru membatalkan Protokol Kyotonya.

Pada dasarnya, pahamilah bumi kita kawan-kawan, jangan terlalu apatis dengan lingkungan. Hidup ada di bumi tapi lihatlah bumi kita yang semakin panas ini. Hujan terus-terusan, banjir, kekeringan silihberganti terjadi dengan nama yang tidak berbeda : PERUBAHAN IKLIM.

2 thoughts on “Menebang Hutan : Simalakama Era Rumah Kaca

  1. andihendra mengatakan:

    Iqul, perubahan cuaca udah ekstrim banget di bandung
    tahun 94, suhu bandung masih 22-24 celcius tapi sekarang udah 32..
    Edan banget lah
    oiya, blog kamu dilengkapi widget alexa nampaknya baik.
    hehe

    • iqul mengatakan:

      ah iya gitu bang? suhu rata2 kan tahunan bang. Kalo akhir2 ini 32 ya memang karena suhunya dalam level tertinggi dalam satu tahunan, tapi kalau dirata2in ga mungkin lah sampai 32 derajat.. hmm

      yang seperti apa bang widget alexa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s