Satgas Pendidikan Untuk Isu SNMPTN ITB


Satgas Pendidikan Kabinet KM ITB terkait isu SNMPTN
Latar Belakang : Tahun ini, ITB mengambil kebijakan bahwasannya seleksi masuk ITB dilakukan secara nasional bekerjasama dengan panitia SNMPTN. Kebijakan yang diambil berimbas pada ITB memberikan kuota masuk 100% untuk SNMPTN. Nah, berarti USM dihilangkan.
Masalah yang muncul : Dengan adanya kebijakan itu ITB membagi menjadi dua kuota masuk, yaitu : 60% SNMPTN jalur undangan, 40% jalur seleksi test.
Yang paling mencuat dari keputusan itu adalah, bahwasannya ITB membebankan biaya pendidikan kepada seluruh calon mahasiswanya sebesar 55juta untuk BPPM dan 5juta tiap semester untuk BPPP. Hal itu dirasakan memberatkan sekali. Menyebabkan kontroversi diberbagai media dan kajian di beberapa elemen masyarakat terutama masyarakat mahasiswa.
Sebenarnya ITB dibalik memberikan pembebanan itu semua juga merumuskan biaya keadilan bagi beberapa calon mahasiswa. Antara lain; 20% dari total untuk yang mendapat subsidi 100% seluruh biaya, ada subsidi dengan kelipatan 25% mulai 25-75% BPPM. Namun pada kenyataannya ITB tidak memeberikan semacam pencerdasan kepada masyarakat sehingga terbentuk sebuah opini dalam masyarakat bahwa ITB itu mahal sekali.
Oleh Siapa Gerakan Ini?
Oleh seluruh massa kampus ITB yang merasa hal diatas bukan hal yang pantas untuk diremehkan. Melalui gerakan pencerdasan ditargetkan hal ini bisa dirasakan seluruh elemen kampus ITB.
Apa wujudnya?
Gerakan masip seluruh massa kampus untuk mendobrak Rektorat segera menjawab opini yang sudah terbentuk di masyarakat.
Dalam hal ini Kabinet KM ITB dari beberapa kementrian di dalamnya mengadakan gerakan sinergis dalam usaha mewujudkan sikap mahasiswa sesungguhnya yang tanggap, kritis, dan solutif atas masalah yang terjadi dalam masyarakat terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan kampusnya.
Dalam hal itu dibentuklah beberapa Satuan Tugas(SATGAS) dari beberapa himpunan yang concern atau tanggap terhadap isu ini. Dalam satgas dibagi mnjadi 3 satgas pokok yang akan menjalankan fungsi dan tugas-tugasnya masing-masing.
1. Satgas Petisi
Bersama kementrian Kajian Strategi kita membentuk langkah awal berupa petisi yang nantinya bakal digunakan sebagai alat utama mengatasi masalah yang timbul di atas.
2. Satgas Media
Bersama kementrian Kominfo mereka akan membuat rangkaian media komunikasi yang dapat mensuasanakan gerakan ini kepada masa kampus sekaligus membantu publikasi yang nuansanya lebih mengarah ke ‘mengajak’ siswa-siswi untuk tidak takut masuk ITB.
3. Satgas Aksi
Bersama kementrian Sospol dan Penkesma mereka mengadakan segenap kegiatan yang sifatnya aksi(bukan turun ke jalan, meski mungkin akan seperti itu) seperti teatrikal, panggung seni yang sifatnya menyinggung dan sekaligus eksekutor yang dikaji oleh Satgas Petisi dan konten yang disampaikan oleh satgas media. Tim inilah yang akan menjadi titik berat satgas selaku perwakilan massa kampus yang bersentuhan dengan pihak rektorat.

Progres masing2 satgas akan dipaparkan oleh uraian sebagai berikut:
Untuk seluruh satgas dari masing-masing lembaga sudah harus melakukan konsolidasi dan pencerdasan mengenai isu yang akan kita angkat. Bentuknya bisa semacam forsil atau kopsor.
Satgas petisi dalam hal ini bisa juga disebut sebagai konten maupun materi telah sampai pada pembuatan rancangan petisi yang akan kita ajukan ke Rektorat. Adapun kontennya sebagai berikut:
1. Rektorat wajib memberikan klarifikasi resmi mengenai transparansi dan pertimbangan tentang beban biaya pedidikan kepada calon mahaiswa baru.
2. Rektorat wajib menginformsikan perihal syarat-syarat apa sajakah yang harus mereka penuhi untuk mendapatkan subsidi yang berbentuk potongan sebesar kelipatan 25 persen.
3. ITB wajib mengedepankan kemampuan akademik dalam menyeleksi mahasiswa baru dan mensosialisasikan adanya subsidi-subsidi yang bisa diterima oleh calon mahasiswa yang diterima.
4. Rektorat dalam menjalankan tuntutan ketiga diatas diwajibkan mengadakan Konferensi Pers.
5. Rektorat harus mengadakan forum evaluasi terbuka bersama terkait dengan penerimaan mahasiswa baru tahun 2011.
Tim satgas petisi belum menentukan tenggat waktu maksimum yang harus dipenuhi oleh Rektorat untuk menjalankan petisi diatas. Hal itu akan dibahas dalam pertemuan satgas hari berikutnya.
Keyword : Massa kampus yang massiv, solid dan satu suara!!
Informasi tambahan yang penting sebagai bahan pengetahuan massa kampus perihal kajian diatas.
Kata seorang dosen Material(lupa siapa namanya saya), bahwasanya di ITB itu nggak jelas aliran pembiayaan kuliah dari ITB dari sektor kemitraan. Misalkan ada sebuah riset dimana melibatkan seorang dosen, dana hak cipta yang harusnya jelas alirannya ke ITB dan ke dosen itu sendiri menjadi samar. Pasalnya pada kenyataannya ada dosen yang melakukan riset dia tidak mendapatkan royalty karena masuk ke kas ITB, ada juga riset yang justru dana royaltinya masuk ke perusahaan dan pribadi dosen itu sendiri. Hal ini yang menyebabkan ITB kewalahan mengatur biaya perkuliahan yang harusnya dibebankan kepada mahasiswanya.
Adapun partisi sumber pembiayaan yang dikeluarkan oleh ITB: 30% dari pemerintahan, 70% dari mahasiswa. Secara nominal sekitar 108jutaan dan mahasiswa dibebani sekitar 90jutaan. Harusnya ITB bisa menutupi subsidi untuk biaya dari mahasiswa melalui sumber pendanaan kemitraan dengan pihak luar.
Hal ini yang berbeda dengan kampus-kampus lain yang telah banyak mengadakan mitra dengan berbagai pihak luar dengan berbagai program misal UI dengan program non regulernya, vokasi, ekstensi, UGM dengan D3, ekstensi dll. ITB benar-benar tidak ada hal sepert itu.
Atas hal itu, kita sebagai mahasiswa tidak perlu takut karena kita memegang peranan penting dalam keberjalanan pendidikan di kampus ini(kita membayar mahal). Kita ini bukan inferior, tapi kita ini superior. Semangat kawan-kawan.
Sekian saja pemaparan dari saya, karena sifatnya masih subyektif maka mohon maaf bila banyak kata-kata yang kurang berkenan, itu semua murni dari saya. Dan apabilaa ada kesalahan penyampaian fakta-fakta, mohon koreksinya. Itu akan sangat membantu sekali dalam perbaikan-perbaikan untuk saya ke depannya.
Oh iya satu saja pesan saya, kita jadi mahasiswa udah mahal-mahal segitu masa lulus cuma mau jadi buruh-buruh di perusahaan multinasional dan asing dengan gaji yang bisa dibilang sekedar cukup? Jadilah lulusan yang benar-benar siap merubah wajah bangsa ini ke arah yang lebih baik. Mau jadi buruh aja ngapain bayar mahal?

Thoriqul Huda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s