Sebuah Potensi Yang Terkubur Arus


Bangsa Indonesia, sebagian besar rakyatnya adalah petani dan nelayan. Kenyataan itulah yang muncul akibat Indonesia sejak dahulu dikaruniai hamparan daratan luas nan subur yang tersebar menjadi pulau-pulau serta laut-laut bak kolam susu yang menghubungkan daratan-daratan tersebut sampai terbentuk sebuah kesatuan negara yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah mengajarkan kita bahwasanya Majapahit dan Sriwijaya berjaya mempersatukan seluruh nusantara dengan laut. Mataram berjaya dengan kesuburan tanah dan hasil buminya hingga mampu menarik Belanda masuk untuk menjajah.

Masalah apa sih?
Melihat kenyataannya yang seperti itu, apakah rakyat benar merasa bahwa petani dan nelayan adalah suatu pekerjaan yang tepat untuk mereka? Tahun 2010 dari data BPS, 41,5juta dari 108juta yang tercatat, mereka pekerjaannya petani dan nelayan (www.bps.go.id) Mengingat justru kemiskinan dan ketidaksejahteraan selalu menjadi polemik di kalangan mereka.

Nelayan dan petani merupakan urutan nomor satu untuk pekerjaan yang biasanya dicontreng mahasiswa pencari beasiswa untuk melengkapi data pekerjaan orang tua mereka. Artinya apa? Artinya sekian banyak pencari beasiswa adalah mereka anak-anak petani dan nelayan. Kalian sendiripun tahu, anak petani dan anak nelayan yang ada disekeliling kalian kebanyakan adalah orang-orang kurang mampu. “…kini terdapat sekitar 40 juta orang petani miskin,” kata pakar Pertanian dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Mursalim di Makassar, Senin [27/12] .

Permasalahan yang dihadapi dalam dunia pertanian dan kelautan bukan hanya masalah cuaca ekstrim yang baru akhir-akhir ini terjadi. Masalah kesejahteraan petani dan nelayan bukannya semakin membaik justru semakin buruk sejak orde baru berakhir. Kuncinya yaitu fokus pembangunan dari masa ke masa tidak pada kedua aspek tersebut, yaitu pertanian dan perikanan. Mana kepedulian pemerintah dalam mengatasi permasalahan rakyat kecil itu?

Sadar potensi

Perlu kita kaji dahulu tujuan pembangunan nasional itu sendiri apa. Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, merata materiil maupun spiritual seusai undang-undang dan Pancasila dalam suasana aman, dinamis, damai dalam lingkungan pergaulan yang merdeka, tertib serta bersahabat.

Pembangunan di bidang pertanian dan kelautan paling tidak harus menjadi prioritas. Sumber ekspor kita yang dulu hanya rokok saja harus ditambahi dengan ekspor beras, jagung hasil agrikulutural, ikan, serta hasil laut yang lainnya. Pada kenyataannya, bahkan beras yang dulu sempat kita ekspor malah sekarang impor. Bukankah sebuah ironi besar bagi negeri khatulistiwa sesubur Indonesia?

Saya heran dengan mindset orang-orang Indonesia yang bisa dibilang kurang mawas diri. Mereka belum bisa memetakan potensi bangsanya secara benar dan baik. Pembawaan dari era Belanda barangkali yang mendoktrin bahwa kita harus selalu berkiblat ke eropa dan amerika dalam hal pembangunan. Padahal potensi yang kita dan mereka miliki sangatlah berbeda. Mereka tak punya tanah sesubur kita, mereka tak punya iklim semenguntungkan kita.

Dalam Lembaga Pertanian Itu Sendiri

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab ironi-ironi di atas selain fokus pemerintahanya itu sendiri yang kurang pada sektor pertanian dan perikanan. Menurut pakar pertanian UGM, Ilham yang cukup bisa saya rangkum:

Kegagalan pembangunan ekonomi, termasuk pembangunan sektor pertanian tidak lepas dari 2 penyakit kronis bangsa:
• Rutinitas
• Budaya jalan pintas dan instan

Dalam penjelasan poin-poin diatas, beliau memaparkan bahwa rutinitas akan membawa petani dan nelayan-nelayan menjadi kurang kreatif. Mereka selalu terpaku pada tanaman itu-itu saja. Bisa kita ambil contoh kampung saya sendiri dimana mayoritas penduduknya merupakan petani. Mereka terpaku pada kebiasaan musiman yang mereka lakukan sejak dahulu kala. Menanam cabai merupakan rutinitas bulan-bulan kemarau, saat bulan-bulan hujan turun dengan harga tinggi seperti belakangan ini, mereka justru tercekik sendiri. Padahal teknologi penanaman cabai di musim penghujan sudah ada, antara lain dengan metode penutupan tanah dengan mulsa.

Budaya jalan pintas dan instan yang dimaksud ada dalam posisi pemerintahannya. Budaya koruptif menyebabkan kurangnya daya saing pemegang keputusan dilingkup depertemen sehingga mudah dibawa ke sini dan ke situ oleh oknum yang punya kepentingan.

Peran Ilmu dan Teknologi

Salahsatu asas yang paling penting dalam pembangunan nasional yaitu asas ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa agar pembangunan dapat memberikan kesejahteraan lahir dan batin yang setinggi-tingginyanya, penyelenggara perlu menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi serta mendorong pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan ilmu dan teknologi secara seksama dan bertanggungjawab.

Pada kenyataannya hanya sebagian kecil saja minat orang-orang untuk melanjutkan jenjang kuliahnya pada bidang pertanian dan perikanan. Kebanyakan anak-anak SMA yang hendak lulus pasti berminat pada kuliah-kuliah seperti teknik, manajemen, hukum, dan lain-lainnya. Jarang sekali diantara mereka yang memprioritaskan minatnya ke bagian pertanian ataupun kelautan dan perikanan. Padahal seharusnya distribusi mahasiswa pada tiap-tiap jurusan itu merata bahkan seharusnya harusnya lebih banyak masuk dalam pengembangan teknologi untuk memaksimalkan potensi. Kapan lagi insinyur digadang-gadang rakyat karena mereka insinyur pertanian.

Kenyataannya memang sektor industri menjadi primadona dikalangan siswa-siswi yang akan melanjutkan jenjang kuliahnya. Jurusan-jurusan favorit siswa-siswi yang akan mereka masuki ya sebatas jurusan yang akan lagi-lagi mencetak buruh-buruh industri. Memang untuk sekedar memikirkan kepentingan pribadi, mengikuti arus yang seperti ini adalah hal yang menyenangkan. Padahal apakah kenyataannya industri kini menjadi penolong Indonesia di era seperti ini? Saya pikir tidak.

Solusi Apa Yang Mungkin?

“Bangkit! Keluar dari arus!”

Solusi yang paling benar adalah yang pertama meningkatkan prioritas pembangunan bidang ekonomi di sektor pertanian, kelautan, dan perikanan. Keluar dari arus industrialisasi yang perlahan-lahan merugikan. Bagaimanapun itu, yang namanya pembangunan harus didukung oelh pemerintahan yang peduli, entah dalam bentuk seperti apa, yang jelas kepedulian dan prioritas harus ditingkatkan. Tren seperti ITB yang akan membuka jurusan yang mengkaji pertanian dari basis teknologi harus terus ditingkatkan. Terakhir melalui tulisan-tulisan ini saya juga ingin membangkitkan mimpi-mimpi orang Indonesia yang ternyata kejayaan bangsa ini tidak mutlak dilihat dari Industri. Seperti dalam uraian di atas, Indonesia akan jaya apabila kita semua sadar akan apa yang kita miliki.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis essay dalam rangka acara Panggung Rakyat ITB 19 Maret 2011 kemarin. Ya walaupun belum sempat mendapat juara, ya anggap aja sebagai latihan. Semangat menulis…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s