Mereka Yang Berbondong-Bondong (Bagian 2)


Kereta mulai mendengus ke penjuru udara, derikan roda dan rel makin keras karena penumpangnya penuh sesak, berjejal, ada yang di kamar mandi pula, berdiri. Bel keras dari lampu sorot lokomotif membuat orang-orang yang ada di depan kereta langsung pergi mencari tempat yang aman. Kutojaya Selatan maju melaju.

Aku yang ada di dalam beserta orang-orang yang berhimpit-himpit di depan pintu gerbong saling mengumandangkan do’a. Semoga selamat sampai tujuan. Orang tua yang berdiri tepat di muka pintu ramai sekali dengan percakapan-percakapan sunda dan jawa ngapak. Tampaknya dia adalah rantauan yang sudah cukup lama, rambutnya sudah putih, mukanya kepala 60tahunan. Ketika dia berceloteh dengan bahasa ngapak, sesekali aku ikut nimbrung nyeletuk, tentunya bukan pakai percakapan Purworejo, melainkan dengan ngapak juga. Di dalam kereta itu sama sekali nggak ada yang saling berkenalan, namun akrab. Satu yang kulihat bahwa keakraban nggak selalu dimulai dengan perkenalan, keakraban dimulai dari kesamaan nasib.

Disetiap stasiun kami berhenti, selain naik turun penumpang, kereta menunggu kereta lain entah ada yang mau nyusul atau mau bersimpangan, andaikan kereta bisa berbicara seperti manusia, maka pastilah dia akan bilang bahwa mereka merasa kesepian, tiap jalanya tak ada yang menemani, saat jalan tak pernah dia bertemu. Paling-paling bertemu hanya di stasiun. Khusus yang ekonomi, mereka akan mengadu kenapa dirinya ekonomi yang selalu didiskriminasikan keberadaanya, selalu dinomorakhirkan ketika berada dijalan, ketika musim liburan dia akn menjerit keberatan, kereta selalu overloaded dan pihak stasiun tetap saja menjual tiket, sampai-sampai ada yang tak dapat terangkut. Namanya Kutojaya Selatan, memakai nama sebuah kota kecil di daerahku: Kutoarjo.

Sejam berdiri membuatku capek, apalagi sambil berdesak-desakan dengan manusia-manusia dengan ukuran badan lebih besar, menyengsarakan. Dari arah dalam gerbong terdengar ribut-ribut, seorang tua mendekat kea rah kami, setelah sampai di depanku orang itu bilang,

“Awas, permisi, saya mau ke kamar mandi” Umurnya kepala 6.

“Wah, nggak bisa Pak, di dalam ada orangnya, banyak pak ada lima orang di dalam.” Bantahku yang ada di depan pintu toilet itu.

“Udah kamu minggir dulu, saya mau masuk.” Orang tua itu mulai memaksa.

“Wah, bapak benar-benar ya, ini udah susah gerak Pak, gimana yang di dalam nanti nggak bisa keluar. Di luar aja udah desak-desakan gini.” Lobbyingku coba.

“Saya sudah tidak tahan ini, ayo lah.” Sambil mukanya memelas memaksa.

“Nanti aja lah Pak, bentar lagi sampai stasiun bapak turun dulu. Lagian yang didalam juga ada perempuan, 3 orang itu.” Kucoba melobby lagi.

“Udah kamu minggir,” nadanya sambil marah menahan perutnya.
Kemudian aku ditarik olehnya,

“Susah pak, benar. Nanti yang di dalam gimana?”

Yang ada di sekeliling hanya heran dan mengeluarkan sindiran yang bertubi-tubi keBapak tua itu. Terutama Lelaki yang berbaju rapih dan pak tua yang ada tepat di pintu gerbong yang ramai itu.”Mbrojol”, “awas mambu”, “buang bae”, “metkona nang jaba bae ngana”, “wis ngene metu bae”, seperti itu. Sesekali sindiran orang-orang itu mengundang tawa. Aku tertawa juga, namun bapak-bapak yang kebelet ini sungguh tak punya kepekaan atau saraf kepekaan lingkungan dan perkataannya telah ditutup di hipotalamus oleh saraf kebelet dari duburnya.

Semakin banyak sindiran-sindiran itu semakin kasian diriku, walau letih aku terpikir bagaimana rasanya itu kebelet, jujur saja aku salahsatu orang yang tidak bisa menahan hal yang seperti itu. Karena itu aku coba ajak diplomasi dengan yang lain,

“Ya sudah Pak, silahkan bapak masuk. Tapi bagaimana caranya kegiatan bapak tidak mengganggu orang lain, baunya jangan sampai tersebar di area sini. Terus bapak bisa kondisikan oramg-orang yang ada di dalam supaya tidak terganggu.”

“Ya sudah minggir kamu cepat.” Katanya seakan mampu melakukan semua pengondisian yang aku inginkan.

Aku akhirnya minggir, masuk sela yang lebih sempit, selanjutnya ditekan perempuan yang tadinya ada di dalam kamar mandi. Kini posisi berdiriku tidaklah tegak, bawahku ada orang yang sedang duduk. Desakan semakin banyak karena si lelaki yang berbusana rapih itu ikut keluar. Apalagi ada lelaki yang sebelumnya telah menempati posisi aku sekarang semakin mendesak karena ingin melindungi pacar/istrinya yang mulai terganggu oleh keributan orang-orang yang keluar dari toilet itu. Sudah kuduga bakal begini jadinya, hanya akan bikin suasana runyam. Badanku meliuk tak kembali, meliuk kebelakang sakit. 15 menit begitu sampai orang tua tadi keluar.

Bukannya menyelesaikan masalah, keluarnya orang tadi justru menambah masalah. Sudah kembali berdesak-desakan, kemudian tidak ada lagi yang mau kedalam kamar mandi itu. Tapi untungnya stasiun pemberhentian pertama itu tiba: Cipendeuy. Si bapak-bapak tua yang didepan pintu gerbong yang ramai itu menyuruh bapak yang kebelet tadi untuk segera turun, ternyata hasratnya belum tuntas di toilet kereta api. Bapak yang kebelet tadi turun juga, diikuti sebagian orang yang ingin mencari angin. Lumayan renggang kondidi dekat pintu kini. Pendeitaanku meliuk berakhir, aku bisa mengulet.

Pelajaran :
Sakit perut itu memang menyusahkan, lain kali berpikir positif ketika ada orang lain yang sakit perut/kebelet. Sakit perut/kebelet bisa membuat orang menjadi hilang kepekaan, rasa malu, dan pikiran jernih. Jadilah orang-orang yang dewasa yang bisa tahu keadaan, jangan memaksakan sesuatu yang efeknya tidak baik ke banyak orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s