Belajar Partisipasi


Kebetulan sekali beberapa waktu yang lalu mendapat tugas menghadiri penghitungan suara pemilu raya KM ITB 2011 mewakili himpunan. Bertempat di selasar GKU Timur itu, jam 9 malam mulai dihitunglah hasil suara yang bakal menentukan siapa Presiden KM ITB selanjutnya yakni tahun 2011/2012.

Sampai di tempat dimana menurut undangan, penghitungan suara dimulai pukul 20.30 malam. Namun agaknya telat 15 menit pun adalah sesuatu yang menyebalkan. Lagi-lagi tidak siapnya panitia. Kayaknya memang sumberdaya manusia panitia pemilu raya kali ini kurang sekali akibat adanya masalah internal panitia.

Baru jam 10an semua sudah siap dimulai. Semuanya berjalan lancar, tidak ada kerusuhan, dihadiri oleh perwakilan-perwaklian himpunan dan promotor dan tim sukses. Terjadi dominasi suara oleh calon no urut satu. Hanya beberapa jurusan yang dimenangkan oleh calon no 2.

Peran tim promotor dan tim sukses sangatlah besar di sini. Saya melihat serunya Hearing, banyaknya tempelan poster, dll. Dua kubu yang sangat kuat di tim promotor dan tim sukses. Buktinya, misalkan di jurusan A dimenangkan oleh calon no 2. Hal ini ada faktor juga bahwa mantan kahim himpunan A menjadi promotor calon no 2. Begitu juga untuk calon yang lain. Figur orang terpandang di himpunan sangat mempengaruhi suara.

Pada akhirnya memang yang terpilih adalah calon no urut 1. Perolehan suara yang cukup signifikan, 3000an : 2000an. Tepatnya kalau tidak salah 3006 : 2022.

Ada sesuatu yang mengganjal di otak saya waktu melihat hasil rekapitulasi akhir. Agak tercengang bahwa dikebanyakan jurusan angka partisipasi pemilunya dibawah 50%. Apalagi beberapa himpunan tersebut merupakan himpunan yang bia dibilang himpunan bermassa besar. Dari total 9ribuan mahasiswa yang tercatat di DPT(Daftar Pemilih Tetap), yang memilih hanya sekitar 5ribuan. Hasilnya angka rata-rata partisipasi satu ITB hanya mencapai 55.3%.

Sangat ironis sekali kita sebagai mahasiswa melihat kenyataan-kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran demokrasi ini yang katanya seorang mahasiswa itu idealis, tanggungjawab, kritis, intelek, dll tidak bisa memilih salahseorang saja untuk jadi pemimpin di antara mereka. Padahal kalau kita lihat media penyampaian untuk mengetahui salahsatu calon sudah dibuka besar-besaran. Hearing, pamflet, media internet, dan kawan-kawannya. Waktu pemilihan juga dibuka sampai 4 hari.

Beginikah nasib kemahasiswaan kita? Bukan masalah siapa pemimpinnya, tapi partisipasi tiap-tiap entitasnya mana? Apakah layak seseorang yang tidak berpartisipasi dalam hajatan besar itu sebagai entitas kemahasiswaan kampus ini?

Cari aman
Barangkali mereka enggan bertanggungjawab atas apa yang mereka pilih, makanya mereka tidak memilih dengan Banyak alibi. Tidak beranikah orang-orang yang tidak memilih itu memikul tanggungjawab? Masa iya? Katanya hidup itu pilihan, memilih salahsatu adalah sebuah langkah dewasa. Bertanggung jawab atas apa yang dipilih adalah sebuah kedewasaan. Apakah dia mahasiswa-mahasiswa cari aman itu?

Menyedihkan teman-teman, di tengah banyaknya kritik dan singgungan-singgungan yang sering mereka lontarkan, ada ke-takpedulian masa depan sebuah kemahasiswaan. Benar mungkin, mereka adalah manusia-manusia bayak alibi. Himpunan besar, himpunan juara, himpunan yag paling lama ospeknya, himpunan yang terkenal karyanya. Himpunan yang besar dan sukses acara-acaranya. Tapi untuk memilih saja partisipasinya kecil.

Saya bersyukur, labtek biru tidak termasuk yang saya omongkan diatas. TPS labtek biru selalu ramai, hasilnya rata-rata mereka memiliki partisipasi yang lebih dari rata-rata seluruh kampus(55.3%).

Di sini, di kampus ini kita belajar. Memilih salahsatu pelajarannya. Karena kita kelak di masyarakat juga dihadapkan dalam pilihan. Memilih walikota, gubernur, presiden.Kita diwajibkan memilih pemimpin. Saya heran dengan mereka-mereka yang berpikir tentang kepentingan. Terlalu dangkal kah pemilu itu hanya sebatas kepentingan? Ya, seharusnya kita memilih karena dengan pilihan kita akan mendapat beban tanggungjawab. Tanggungjawab yang nantinya menjadi barang yang kita pikul sehari-hari dalam masyarakat.

Ayo kita belajar berpartisipasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s