Pengabdian Masyarakat


Quote menarik dari salahseorang kawan yang jarang berbicara, mengenai makna pengabdian masyarakat yang biasa atau sering kita eluh-eluhkan.

“Pengmas bukan hanya merasakan iba atas apa yang terjadi di sekeliling kita. Tapi pengmas, kita mengamati bahwa kita bisa tapi mereka tidak bisa, lalu kita membuat menjadi bisa.”

15 Mei 2011.

Ya memang betul, saya merasakan betul ketika saya mengikuti beberapa acara pengabidan masyarakat seperti baksos, saya disitu benar-benar hanya mendapat rasa iba dan memberi ala kadarnya bahkan sekedar materiil. Saya ikut tanpa bisa merasakan bahwa yang sesungguhnya adalah berpikir bagaimana memberdayakan mereka, bukan memberi bantuan saja. Mungkin bisa member pelatihan ini dan itu, atau mungkin bisa memberikan modal yang benar-benar bisa berguna untuk menunjang kehidupan mereka beberapa waktu kedepannya.

Saya tidak tahu, apa cuma saya ataupun teman-teman lain juga merasakan ada kesalahan tafsir. Apa teman-teman benar-benar merasakan bahwa pengmas cukup merasakan iba, lalu menjadi sadar kita perlu “membantu”? Kalau benar seperti itu, kita patut berpikir ulang. Menata kembali definisi kita memahami arti ‘pengabdian masyarakat’ yang menjadi tolak ukur atau landasan langkah kita dalam melaksanakan ‘pengabdian masyarakat. Apalagi ‘pengabdian masyarakat’ termasuk dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pengabdian masyarakat, sudah sepatutnya sebagai wadah kita untuk menyalurkan apa yang kita dapatkan di kampus kemudian diaplikasikan ke masyarakat untuk membawa nilai tambah hidup masyarakat. Misal, kita sudah belajar tentang iklim dan asumsi perubahan iklim benar-benar terjadi dan mempengaruhi pola musim, tapi petani di desa pinggiran sana masih tidak tahu dan terus bergantung pada rasi bintang mapun ramalan kejawen maupun pranoto mongso. Nah itulah gunanya Pengmas. Supaya para petani tahu dan sadar bahwa hasil panen yang menurun bukan hanya disebabkan oelh hama, namun karena iklim yang berubah mengakibatkan musim bergeser dan harusnya diikuti oleh bergesernya musim tanam. Kita memang tidak menyediakan data-data, anjuran-anjuran maupun prakiraan cuaca karena memang itu hak BMKG, nah disini kita menyadarkan mereka betapa pentingnya iklim memberikan info tentang data-data, solusi, dan hasil kajian.

Tentunya metoda penyampaian juga harus cukup oke. Supaya petani-petani tersebut bisa menyerap ilmu ataupun pengabdian yang benar-benar kita lakukan.

Misalkan yang lain, penyuluhan koperasi sebagai simpan pinjam modal yang tidak memberatkan karena dikelola oleh seluruh anggota. Hal ini bisa kita terapkan untuk mengembangkan perekonomian desa, maupun perekonomian kawasan pinggiran.

Begitu saja apa yang saya dapatkan selama 2 hari di Lembang selain sakit dan rasa rindu kepada suasana kampung terutama rumah nenek.

Quote oleh Yohannes Yudha Perwirajaya. Terimakasih juga kepada Abdullah Zuhud dan Rahardian Aji atas ngobrol-ngobrol sedikit soal ini di Aula SOS daerah Boscha minggu kemarin.

Lembang-Bandung, 15 Mei 2011

One thought on “Pengabdian Masyarakat

  1. Dina mengatakan:

    quote yg d ataz sndri itu siapa yg nulis? Sya ijin mw ngutip..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s