Sekedar Otobiografi Saya


Sedikit berbicara soal latar belakang, mungkin saya termasuk jauh berbeda latar belakang dibanding teman-teman. Dalam hal ini soal pendidikan.

Saya tumbuh di tempat yang jauh dari peradaban maju. Saya lahir waktu itu masih dibantu seorang dukun beranak, jauh dari teknologi rumahsakit seperti yang teman-teman rasakan. Seperti anak-anak lingkungan lain kami, ritual-ritual jawa masih saya rasakan. Meski tak ingat, setidaknya ada cerita. Soal puputan (pupak puser) sampai tedak siten (turunan).

Jaman kecil saya pernah merasakan kampung tanpa listrik. Sedang televisi dulu saya lihat di rumah kakek yang hitam putih menggunakan aki serta penontonnya satu ruang tamu penuh. Ya, waktu dulu kita ramai-ramai nonton Jiban. Entah lupa itu tahun berapa,mungkin 95. Beruntung saya punya kakek yang bisa disebut priyayi kampung ini.

Tak lama dari tahun itu, diputuskan kami sekampung menyalur listrik. Sumber listrik kampung kami dari kampung tetangga yang sudah terlistriki terlebih dahulu. Peradaban maju mulai masuk, televisi menjamur di kampung kami. Yang punya kini golongan menengah kampung kami, orang-orang seperti Bapak saya mulai bisa membeli kotak bergambar.

Setahun paling berselang, era 97 baru tiang-tiang listrik masuk. Tiap-tiap rumah terinstalasi 450 Watt. Cukup untu menyalakan TV dan membuat anak-anak jaman saya mulai berkurang bermain di luar rumah malam-malam. Lagipula kini rumah lebih terang dibanding Padang Bulan. Tak ada lagi nyanyian seperti ini,

Yo ‘pra kanca dolanan ing jaba
padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane e sing awe-awe
ngelingake aja padha turu sore
Yo ‘pra kanca dolanan ing jaba
rame-rame kene akeh kancane
Langite pancen sumebyar rina
yo padha dolanan sinambi guyonan
.

Saya bersyukur, saya masuk SD tahun 97 dan mulai tahun itu listrik menjadi konsumsi publik, kami belajar dengan tenang tanpa terbatuk-batuk akibat asap lampu teplok. Seperti yang pernah dialami oleh Kakak-kakakku.

Jaman SD, bayar sekolah saya cukup 3 ribu rupiah per bulan. Biasanya Bapakku merapel bayara sekolahku setelah panen cabai di bulan Juni, tepat sebelum ujian akhir Cawu III atau semester II. Begitupula dengan teman-teman lainnya. Jumlah satu kelas cukup banyak, empatpuluhan. Sampai lulus cukup 35 saja, ada yang putus sekolah, ada yang meninggal karena malaria.

Teman-temanku ini kebetulan tak ada yang orangtuanya PNS, orang-orang cendekianya termasuk anak-anak biasa saja. Kalau kakak-kakak kelas kami, biasanya yang pintar-pintar cuma anak guru atau anak pegawai negeri. Mungkin makanan mereka lebih terjamin, bergizi dan bermultivitamin seperti iklan di TV itu. Kalau melihat keseluruhan, kami angkatan termiskin.

Kami samasekali tak pernah mengenal mainan digital. Barang supermario pun tidak pernah kami dengar. Mainan kami cukup mencari jangkrik, bermain layang-layang mortas (potassium) ikan di sumur dan empang orang, main bola di Santiago Berdebu kebanggan, main kelereng, Wayang (kertas gambar tokoh kartun atau pahlawan ex : Power Rangers, Kamen Rider, dll), mandi di kali, bendung-bendungan, bikin rumah-rumah-rumahan dengan kayu bakar dan karung bekas pupuk, dan mainan aneh dan kampung lainnya. Beda sekali bukan?

Lulus dengan nilai terbaik, aku masuk SMP negeri 20 Purworejo, SMP kebanggan warga kecamatan Pituruh. Karena rangking kelulusannya selalu masuk 5 besar kabupaten, meski letaknya terasing di sebelah barat.

Kutemukan teman-teman baru, semuanya pintar-pintar, jungkir balik untuk bisa bertahan, dan beruntung 3 tahun eksis di kelas favorit. Aku punya banyak sahabat disini. Teman-teman luarbiasa, bukan hanya pintar namun penuh perjuangan hidup. Tak ada kesombongan yang terpancar, kami semua ke sekolah naik sepeda, angkotpun tidak apalagi sepeda motor. Semuanya bersahaja, dengan seragam lusuh namun rapih. Golongan anak PNS/Guru sekitar 25%, sisanya anak petani dan pedagang. Anak-anak yang tak mampu membayar BP3 sebesar 25 ribu/ bulan banyak mendapat keringanan.

Geng kami berisi anak-anak dari kalangan marjinal. Keterbatasan, kekurangan, kemiskinan, kesederhanaan, kebaikan, keikhlasan. Sering aku berkunjung ke rumah temanku itu, rumah berdinding seng dan berpasak kayu itu. Tak pernah tidak selalu dijamu makan siang, walau kadang Cuma sekedar Mi Instan polos tanpa nasi. Luar biasa.

Sering juga aku bermain ke teman, dia paling kocak, paling berisik, berbakat dan asik. Anak seorang mantan gitaris grup dangdut terkondang di Kecamatan pada zamannya. Kini orangtuanya cuma jadi tukang bengkel, dan buruh tani. Cerita-cerita unik, tentang tetangga-tetangganya yang aneh-aneh saja tingkah lakunya, tentang dirinya yang kocak juga pernah dia cerita. Dia jadi sahabat yang paling mampu membuat ketawa saat sedih. Dia orang sanguinis total pertama yang kuketahui.

Ada juga anak seorang penganggur, kerjanya serabutan disana-sini. Tak punya sawah atau ladang barang sejengkal pun.

Ketika teman-teman di kota sana sedang bersibuk-sibuk dan euphoria internet, masa SMPku adalah rasa takut memegang komputer. Pelajaran TIK kami cukup membebani sekolah karena kami dijejali seusatu yang belum pernah kami kenal itu. Mungkin jaman SMP di kota lain sudah bisa main musik, lihat gambar dan video, main game, sumpah mati kami baru mengenal Microsoft Excel dan Word.

SMP hobi kami semua adalah Touring, bukan menggunakan sepeda motor tapi menggunakan speda saja. Menjelajah, Goa Gong, Sungai Berbatu, Waduk Wadaslintang, Curug Loning, Pasar Malam, sampai SMA Negeri 7 Purworejo yang jaraknya 30 kilometer lebih kami tempuh dengan sepedea, tanpa motor.

Berbekal nilai UAN tertinggi satu SMP aku masuk SMA N 1 Purworejo. Kali ini sekolah kebanggan masyarakat Purworejo. Kepolosan yang dibawa sejak SMP berakibat aku harus mengakselerasikan budaya dalam kehidupan sekolah. Pola makan dan jajan, pola pikir, serta hati terombak di masa SMA, apalagi karena kondisiku yang tinggal di kos-kosan.

Rohis cukup membuka wawasanku soal agama, pola pikir maju dituntut disini. Mimpi-mimpi tak boleh hanya kecil dan satu. Mimpi harus besar dan banyak. Kehidupan percintaan dirasa berpengaruh sekali. Mulai dari pacaran lalu putus dan patah hati.

SMA 1 sudah tidak bisa disebut sebagai representasi masyarakat Purworejo. Karena orang pintar dan bernyali dan dukungan lebih lah yang nampaknya bisa masuk sini. Pintar syarat pertama, bernyali karena kami disiapkan untuk persaingan yang ketat. Dukungan adalah latar belakang orangtua, banyak teman-teman SMP segeng itu mampu masuk SMA 1, namun karena alasan dana dan masa depan mereka lebih memilih SMK, SMK negeri 1 Purworejo. Buat apa masuk SMA apabila nantinya juga tak mampu melanjutkan kuliah.

Teman-teman SMA kini adalah anak-anak pejabat dari segala tingkat. Mulia dari sekedar pejabat desa seperti bapak saya, sampai anak Bupati ada disini. Di sinilah kemewahan itu semua muncul, pegaulan yang sebelumnya tak pernah saya alami. Mulai dari pola makan yang seminggu sekali hedonis sampai perayaan ulangtahun di kafe atau resto terpandang di Kota ini. Awalnya aku menentang, lama kelamaan tak bisa dipungkiri hal ini mesti terjadi demi kelancaran kehidupan sosial.

Keluar malam adalah hal biasa, karena memang tak terpantau oleh orangtua. Puasa-puasa sehabis tarawih kami habiskan buat nonton konser Sheila on Seven. Kebiasaan Touring bukan lagi menggunakan sepeda onthel, namun kini menggunakan Sepeda Motor.Pantai Glagah Kulon Progo DIY, Goa Seplawan, Curug Kaligesing, dan lain-lain.

Hanya ada 10% siswa yang orangtuanya tak mampu di SMA ini, setidaknya itu yang berdasakan pengamatanku. Berbeda sekali dengan dua jenjang sebelumnya. Secara ekonomi sebenarnya aku sudah tak lagi bergantung pada orangtua, karena memang biaya sekolah sudah ditaggung oleh Kakakku. Orangtua cukup memnuhi kebutuhan ketika di rumah saja. Atau apabila kebutuhan tambahan yang tak bisa dipenuhi oleh yang lain.

Namun tanpa SMA 1 barangkali aku tak mampu bermimpi besar, sampai saat ini menempuh studi di ‘institut terbaik bangsa?’ tersebut. Ketika SD dulu aku tak berani bermimpi, cukup saja hidup mengalir. Adapun mimpi hanya mimpi yang aman. Kugantungkan satu diotakku, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Namun SMA 1 adalah pameran dan bazaar mimpi, aku bisa bebas mengambil mimpi-mimpi temanku. Mimpi-mimpi menjadi penulis terkenal, mimpi-mimpi menjadi seorang insinyur, mimpi menjadi ahli hukum, kedokteran, dan lain-lain.

Sedikit Resume
Benar kata Rendra dalam sajaknya ‘Sajak Sebotol Bir’,


Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
dan alpa terhadap peradaban di desa ?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran ?

Tahun 97 bahkan, kampung saya tak semaju kampung kalian. Kami baru masuk listrik, dua tahun sebelumnya kami cuma menyalur kabupaten sebelah. Kini, masih banyak penduduk Indonesia yang belum lekas menikmati cahaya terang lampu ciptaan Alfa Edison tersebut. Terutama Indonesia timur. Apa orientasi pembangunan sebenarnya?
Orang seperti saya, rupanya cukup jadi orang yang peradabannya terakselerasi. Jauh-jauh dari kampung ujung, masuk ke kampus teknologi, pikiranku tak semudah itu bicara pengembangan, pikiranku kini bagaimana penyebaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s