Backpacking Hari 1 : Ngayogyokarto


Hari pertama dimulai hari jum’at. Jam setengah lima sore saya berangkat dari rumah. Mengejar Prameks untuk ke Jogja yang berangkat jam enam maghrib. Maklum lah, rumah ke stasiun cukup jauh.

Sampai di stasiun jam lima lebih tujuh. Terlalu awal sih, masih menunggu sampai jam enam. Cukup membosankan, di stasiun Kutoarjo memang tidak ada yang saya kenal. Kereta Prambanan Ekspress datang jam setengah enam. Menurunkan penumpang yang sudah sejam dua jam yang duduk dari Solo dan Jogja.

Naik turun penumpang terjadi, pas mau duduk, terlihat seseorang hendak turun. Aku sangat mengenalnya. Yap, dia Suci Malwaa(Uci), teman sekelas di SMA. Dia tetap cantik, hahaha beruntung katanya Farid (teman sekelas SMA juga) yang sekarang jadi pacarnya.

‘Tepat waktu pukul enam sore, Kereta bisnis Prambanan Ekspress tujuan Jogja sampai Solo di berangkatkan dari jalur 2” Suara PPKA member informasi. Pengatur Perjalanan Kereta Api itu nampaknya bangga karena kereta tidak terlambat keberangkatannya.

Derik gesekan rel dengan roda sangat miris, namun kondisi dalam kereta tidak semiris itu. Banyak tempat duduk menganggur, banyak orang-orang berbaju rapih, kulit kuning, bahkan kebanyakan pasti orang-orang terpelajar. Mahasiswa-mahasiswi dan pegawai-pegawai negeri dan swasta dari dan di Purworejo.

Sejam berlalu, kereta sampai di Stasiun Tugu. Wajah yang sepi lambat laun meramai. Puluhan orang masuk gerbong kereta. Ada beberapa mudi seksi nan modis masuk. Namun yang lebih cantik adalah orang yang berbusana sederhana. Ya, ini bukan Bandung yang glamour. Jogja cantik karena kepolosan, Bandung cantik karena polesan.

Sepuluh menit dari stasiun Tugu sampailah pada stasiun Lempuyangan. Stasiun dimana saya harus turun. Karena saya cuma bayar sembilan ribu dan terlebih saya memang berniat ke Jogja, bukan Solo apalagi Surabaya. Tak sabar buru-buru saja saya turun. Saya pikir Wahyu Nugroho Hadi (Panggil Wahyu) sudah menunggu di luar stasiun.

Sampai luar stasiun, saya bengong. Wahyu rupanya belum sampai, bahkan setelah saya SMS, dia bilang dia baru jalan dari kosannya. Sial, aku pikir udah ada di depan. Ini udah ada di luar stasiun, ditawari ojek ini itu. Ujung-ujungnya bengong. Anak itu memang belum berubah.

Setelah setengah jam bolak-balik halaman stasiun kayak orang hilang akhirnya orang yang dinanti datang. Dengan motor Supra X 125 yang jadi andalannya waktu SMA, kami meluncur keliling Jogja malam hari. Malam sabtu rupanya masih sepi-sepi saja. UNY, UGM, Galeria, Ambarukmo, Kali Code, Kali Gendol, Tugu, dan lain-lainnya. Ujung-ujungnya adalah kosan Theresia Ifi dan Nurul Endah (Chonk dan Tiyul). Kebetulan mereka yang ada di Jogja dan tidak pulang libur akhir pekan.

Haha, ramai sekali. Saling curcol mereka karena sampai saat ini masih menjomblo. Kalau Tiyul malah baru saja menjomblo dan masih menggalau. Overall banyak yang berubah, tapi katanya aku yang paling tidak berubah. Masih kurus dan jelek. Hahaha

Obrolan kita dilanjutkan di Warung Burjo ‘Ciremai’. Aha, kami berempat memesan intante(Indomi Rebus Tanpa Telor) dan es jeruk. Sama semua, Kecuali Tiyul tanpa Es dan Wahyu nambah nasi.

Warung Burjo adalah warung orang-orang Kuningan, Jawa Barat. Saya jadi teringat Dida Abdillah Fadjrin (Dida) teman di Meteorologi. Mungkin kalau saya bilang, Burjo adalah warteg versi sunda. Menu khasnya adalah Indomi. Nggak apa-apalah sebut merek, kenyataannya memang begitu. Hehe

Uniknya Warung Burjo ini menyebar di mana-mana. Satu komplek ada lebih dari lima warung burjo ini, kadang-kadang malah berhadapan. Padahal di Bandung sendiri yang sesama urang sunda malah jarang. Di Taman Hewan nggak ada, di Plesiran cuma ada satu, nggak tahu kalau di Cisitu.

Harganya sebenarnya murah, masa intante dan es jeruk cuma 4500. Tapi kalau dibandingin sama warung tegal di Jogja, masih terbilang lebih mahal. Kalau di Bandung, ya tahu sendiri lah disana, Intante empat ribu, es jeruk dua ribu, jadi enam ribu.

Selang beberapa waktu berselang, Wahyu pergi menyusul Tunggul Triyoga (Tunggul) yang jauh-jauh datang dari Banjarnegara untuk sekedar bertemu denganku. Ketua kelas dua tahun berturut-turut ini rupanya memang orang gila. Memang dia baru kasih kabar setelah bakda maghrib. Jam sembilan malam udah ada di Jogja.

Limabelas menit saja Wahyu sudah membawa Tunggul. Akhirnya kita seru-seruan bercanda di halaman depan kosan Chonk dan Tiyul. Sudah gede-gede semua mereka. Tunggul sudah berpenghasilan, polisi kita dia. Wahyu, sebentar lagi selesai pendidikan D1 STAN, Tiyul, Chonk masih beberapa tahun lagi di UGM, sama seperti aku masih beberapa tahun lagi di ITB.

Jam sepuluh malem, Kosan Chonk dan Tiyul ditutup. Mau nggak mau kita harus kabur, akhirnya disepakati untuk jalan-jalan bareng saja besok paginya. Aku mengusulkan Parangtritis, semuanya setuju. Dengan syarat, jam 11 harus sudah balik karena Tiyul akan ada praktikum lapangan. Ah, anak UGM masih pada sibuk praktikum dan ujian, ITB udah lama libur. Nggak adil rasanya.

Jam sepuluh lewat kami meninggalkan kosan mereka berdua. Aku Tunggul dan Wahyu bergerak menuju suatu tempat, menerobos kegalauan malam dan sebagainya. Kali Code yang nuansanya begitu damai terkewat. Akhirnya sampai di Tugu. Ah, ngopi adalah pilihan tepat. Parkir dan akhirnya kami berputar-putar dulu, aku dan tunggul sebenarnya sudah kebelet kencing. Namun toilet nampak jauh. Jadilah kita mampir di tengah. Lesehan di trotoar digelar. Kanan kiri kami muda-mudi penikmat malam Jogja. Damai dan keluarga.

Kopi joss atau sering disebut kopi areng disajikan. 3 gelas untuk 3 orang. Ngobrol-ngalor ngidul. Orang-orang dewasa kini mereka. Soal pola pikir jodoh dan pernikahan mereka lebih matang.

“Gampang kalau mau deketin cewek, asal kamu udah punya pekerjaan atau penghasilan.” Kata Tunggul.

“Yaelah, yang udah punya penghasilan. Trus kamu udah dapet belum Nggul?”

“Hahaha, akunya yang belum ingin nyari. Nanti nunggu teman-teman udah pada kerja. Kalau punya istri ya setidaknya juga bekerja, jadi ada rusuk cadangan apabila ada masalah keuangan.”

“Hahaha, benar-benar.” Wahyu mengiyakan.

“Ah, kamu juga Yu, setahun lagi lah udah cukup penghasilanmu.”

“Santai Qul, ntar ada waktunya giliranmu.”

Percakapan dalam bahasa jawa itu terasa begitu ringan, dewasa, kekeluargaan, dan santai. Pandai si penjual kopi itu mensuasanakan kehidupan di daerah Tugu yang ramai.
Kopi Joss sebenarnya sama dengan kopi biasa saja. Cuma ditambah arang kayu bakar. Nggak tahu kalau ada yang merasa beda dengan rasanya. Kopi hitam rasanya sama dimana-mana, tinggal komposisi gula, kopi dan air panasnya doang. Yap, 3 ribu pergolas kami bayar beserta suasana yang menenangkan.

Hari pertamaku ditutup di jam dua belas kurang seperempat malam WIB. Lepas dari minum kopi areng, kami memang tak kemana-mana lagi, langsung ke kosan Wahyu. Kami tidur bertiga dalam satu kamar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s