Backpacking Hari 3 : Puncak Merapi dan Merbabu


Dimulai saat adzan berkumandang. Padahal mata masih mengantuk. Menanti matahari menjelang kami mencoba memberi kabar ke teman-teman yang domisilinya di Solo. Sial rupanya anak-anak solo justru lagi pada balik ke Purworejo. Hanya dua orang yang sekelas yang tinggal di Solo. Eski Shinta (eski) jurusan Matematika ada di solo karena sabtu kemarin dia ada kegiatan dan dia jadi panitia. Charismatika Syntia (Tika) anak Kedokteran karena senin besok mau ada ujian.

Akhirnya kita janjian untuk makan bubur ayam di belakang Fakultas Hukum. Singkat cerita, aku pikir anak-anak UNS paling tidak berubah. Masih sederhana-sederhana. Kebetulan pagi itu kami semua dibayarin Tika. Terimakasih Tika. Oh iya, bubur ayamnya enak lho. Baru kali ini makan bubur ayam seenak ini. Kuahnya pake santan, jadi mantap gitu rasanya.

Sayang sekali Eski dan Tika siang ini mereka lagi full ada acara. Eski sedang ada acara dengan Himatikanya. Tika ada belajar bareng, karena besok ada ujian. Ya acara di solo cukup sarapan dan ngobrol-ngobrol biasa saja. Aku cerita betapa murahnya biaya hidup di Jogja dan Solo. Bahkan lebih murah dibanding Purworejo. Bandung, dengan segala glamuorannya, adalah kota paling mahal.

Eski dan Tika banyak mensugest kami untuk mengunjungi tempat-tempat unik di solo. Tapi nyatanya, tertolak karena kitacuma dua cowok tak dengan cewek. Katanya tempatnya asik buat pacaran atau main bareng keluarga. Antara lain taman, kereta Gatotkaca ataupun Trans Batik Solo. Harusnya kita ke Tawangmangu, tapi jaraknya cukup jauh sekitar satu setengah jam.

“Qul, kamu harus liat Kiai Slamet kalo di Solo” Kata Tika. Dari belakang Eski dan Wahyu cekikian.

“Bentar, kayaknya udah pernah denger deh Kiai Slamet.” Jawabku.

“Apa coba?”

“Hmm.. Oh iya, itu kan Kebo Putih milik keraton. Hahaha” Aku baru sadar.

Sial, pikiran awalku itu kayak orang gila yang sudah terkenal di Solo, kayak Tony Blank di Jogja.

“Hahaha perasaan udah pernah deh kesana,” Aku penasaran kapan itu.

“Hahaha ya pas kelas X dulu, pas ke sagiran.”

“Oh iya ya. Itu udah pas jaman SMA ya..” Jawabku linglung.

Akhirnya cukuplah kita keliling kota solo saja. UNS, Slamet Riyadi yang padet dan keraton pakualaman. Pas lagi di deket keraton, rupanya lagi ada upacara keprajuritan keraton Solo. Area situ menjadi macet. Namun macet pun masih terkendali. Agak panas tapi tak menyengat. Pas lewat jalan benteng keraton, eh tiba-tiba ada razia polisi. Entah kenapa Wahyu sebagai rider ketakutan. Namun kita lolos, berkas-berkas lengkap. Pas aku Tanya ke Wahyu, ternyata dia mengkhawatierkan spion motornya yang Cuma satu akan jadi masalah.

Setelah itu kita berangkat menuju Serabi Notosuman. Serabi ini letaknya memang ada di Jalan Notosuman. Awalnya aku pikir Serabi ini seperti kayak yang di Bandung Surabi Enhai. Beli langsung dimakan disitu. Ternyata, aku salah. Serabi yang disini maksunya Cuma buat oleh-oleh. Jadi, dijual satu kotak 19ribu isinya sepuluh. Aku jadi pikir-pikir lagi nih. Niatnya mau makan di tempat, akhirnya nggak jadi. Parah.

Akhirnya Wahyu mengajakku makan. Kali ini kita ngebakso. Bakso Kadipolo di kawasan sepi kota solo ini rupanya asik tempatnya. Ada tempat duduk kursi, ada juga lesehannya. Aku pilih lesehan saja.
Hmmm
Uniknya bakso ini ada satu yang warnanya putih dan teksturnya kasar. Entah itu bahannya apa, yang jelas juga bukan urat. Kayaknya tulang muda. Soalnya kriuk-kriuk. Enak tapi tidak special memang. Rasa baksonya seperti bisa saja. Nggak kenyang juga. Satu porsi cukup murah Cuma 7,5ribu. Perbandingannya kalau di Bandung harganya bisa sampai 10ribu kayaknya. Yang nggak nahan Es Jeruknya, masa satu gelas 4,5ribu. Untung waktu itu si Wahyu baik, saya nggak perlu bayar.

Selesai makan kita balik ke Jogja. Perjalanan pulang tersaji gunung Merapi dan Gunung Merbabu dari perspektif yang bagus. Seperti Raksasa-raksasa batu yang menjulang ke atas dengan congkaknya. Apalagi puncak merapi sekarang lagi lancip-lancipnya. Luar biasa.

Sampai di kosan wahyu, kami menyalakan televisi, dan rupanya upacara keprajuritan di keraton solo yang kami saksikan tadi sang juga ditayangkan di berita Global TV. Hahaha seperti benar-benar wisata.

Menunggu sore kami menonton berita olahraga sampai puas. Hari minggu memang ramai acara highlight olahraga seperti Galeri Sepakbola Indonesia Minggu dan One Stop Football on Sunday. Sampai sore juga ada mancing mania.

Informasi dari Intan Widianto (Wiwit) yang kerja di PTKAI katanya ada kereta malam dari Jogja ke Surabaya. Gaya Baru Malam dari Jakarta jam 9 sampai di Jogja dan melanjutkan ke Surabaya. Aku bisa ikut kereta ini. Aku targetkan untuk berangkat dari kosan Wahyu jam setengah delapan, kasian Wahyu mau belajar karena mau ada Kuis besoknya.

Akhirnya setelah Isya, aku beres-beres. Tak lupa sebelum pergi, kami makan dulu. Karena kosan Wahyu termasuk terpencil di daerah Kalasan, nggak ada tempat makan yang murah, akhirnya kita ngangkring. Makan di angkringan tak jauh dari kosan. Dua bungkus nasi kucing + dua tahu bacem dan dua gorengan cukup buat bekal perjalanan malam menuju Kota Selanjutnya, Sidoarjo. Bayarnya dengan empat ribu saja.

Jam setengah sembilan aku sampai di Stasiun. Masih nunggu sepuluh menit lagi untuk loket pembelian tiket dibuka. Ngobrol-ngobrol bentar dengan sesama calon penumpang ke Surabaya. Rupanya tak terlalu banyak. Ada yang tujuan akhirnya memang Surabaya, ada juga yang tujuan sebenarnya Malang. Hahaha kenapa nggak naik Malabar aja ya itu orang.
Di sisi lain, Tiket Kereta Kahuripan ternyata sudah tertutup.

“Pembelian tiket kereta api Kahuripan tujuan Akhir Padalarang Bandung sudah ditutup sejak di Klaten.” Nampak tak terlalu professional.

“Kenapa nggak dari tadi bilangnya,” Sesal salahsatu calon penumpang.

“Bagi yang ingin bepergian ke Bandung bisa mencari alternatif transportasi lain. Kami sarankan untuk menunggu sampai pagi nanti, naik kereta Prameks jam setengah tujuh ke Stasiun Kutoarjo. Jam setengah tujuh kereta Kutojaya selatan diberangkatkan jam setengah sepuluh pagi dari stasiun tersebut.” Sang penjaga loket member woro-woro untuk segenap calon penumpang Kahuripan.

“Ah, kahuripan memang selalau penuh.“ Batinku.

Sekitar setengahjam lebih kereta Gaya Baru Malam terlambat sampai Jogja. Namun akhirnya aku naik juga. Saran buat para calon penumpang, biasanya gerbong belakang adalah gerbong paling kosong dibanding gerbong lain. Jadi bila teman-teman merasa malas untuk berdesak-desakan, jangan masuk gerbong depan, tapi gerbong belakang. Ya meskipun ramai dan penuh, tidak akan terlalu desak-desakan.

Kereta berjalan tak bersuasana. Aku sudah ngantuk dan enggan bicara macam-macam. Aku berdiri dan kadang duduk lesehan di lantai kalau sepi pengasong. Baru sampai Solo ternyata kereta sudah mulai banyak yang turun. Dari situ aku bisa duduk. Setelah duduk, tak perlu berpikir panjang aku terlelap. Tak peduli dengan orang-orang lain.

Hari ketiga berakhir begitu saja di kereta.

4 thoughts on “Backpacking Hari 3 : Puncak Merapi dan Merbabu

  1. eskishintawati mengatakan:

    ehem2 wah aq gag ikutan nih pas mbakso kadipolo..heheheh

    icul, datanglah lagi ke soloo🙂

    eh kok nginepnya gag di kosan yayung yg d solo aja sii?

    • iqul mengatakan:

      InsyaAlloh es main ke Solo lagi pas ga podo balik.. hehe

      Iku kosanne wahyu sing mbiyen kok, tapi ga neng kamare wahyu, cuma nunut kamare koncone..

  2. charismatic mengatakan:

    kapan2 main solo lagi ‘qul! ntar kalo pas jadwalnya pada kosong, buat list mau kemana aja rame rame pasti asyik😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s