Backpacking Hari 5 : Kopma ITS dan Cakcuk


Sembari menikmati segelas teh dan gorengan kami bersepakat pagi ini akan jalan-jalan ke Surabaya. Yap, tujuan utama kita adalah ITS dan Cakcuk. Mumpung ada motor dua buah, kita naik motor. Ya, ini kali kedua setelah di Jogja juga keliling kota pakai motor. Keunggulan kita naik motor, kita akan tahu jalan, palagi kalau jadi drivernya. Sayangnya aku nggak berani jadi driver, soalnya memang belum punya SIM dan Sidoarjo – Surabaya trafficnya padat.

Jam sembilan setelah kita semua mandi dan sarapan pagi cabut. Jalanan Sidoarjo – Surabaya sungguh macet, berbeda dengan ketika kita masih kecil dulu, cerita Kindi. Jalanan masih lancar. Pas masuk Surabaya, gila padat sekali bung, motor pun bisa kejebak lampu merah duakali satu tempat.

Setelah sampai ITS, wah ITB luasnya seperberapanya ITS ya? Gerbang yang megah dan ada bundarannya. Masuk ITS ternyata tak sesecure di ITB. Semua kendaraan boleh masuk dengan bebas. Namun rupanya ITS jauh dari tempat pemukiman umum, tak seperti di ITB yang sampingnya ada Tamansari. Sepanjang keliling pinggir kampus masih semak-semak hijau.

Saya heran, kenapa di setiap kampus teknologi, jurusan Teknik Sipil selalu letaknya ada di paling depan. Ah berarti sudah kodratnya karena jurusan tertua barangkali. Sepertinya ITS tak sebanyak ITB jurusannya. Di sini memang barangkali tak ada natural sceincesnya seperti SITH dan FITB di ITB. Atau jurusan cewek juga sangat minim di sini. Tak terlihat ada Farmasi di sini. Ah betapa gersangnya kampus ini, beruntung jejaka ITB yang masih ditemani SITH, SF dan SAPPK. Hahaha

Akhirnya kita putuskan untuk parkir. Kami parkir di depan masjid agungnya. Nampaknya masih sepi masjidnya. Mungkin karena kampus ini memang sedang ada Ujian. Begitulah kabar yang bberapa waktu lalu terdengar. Oh iya, di sini kantor rektorat ada di tengah kampus lho, seperti di UNS.

“Wah enak mereka kantor rektoratnya ada di tengah kampus, kalau SPP naik, mahasiswa tak perlu turun ke jalan. Di ITB mahasiswanya males, takut bikin macet Dago atau Tamansari.” Kata Mas Kun.

Kita hendak mencari souvenir dari ITS. Eh sebenarnya aku nggak terlalu suka dengan souvenir. Tapi aku tertarik dengan Kopmanya. Mas Kun dan Kindi ingin dapat dua-duanya. Setelah bertanya-tanya akhirnya kita sampai di tempatnya. Waw, kantin yang luas dan mencil satu spot souvenir khas. Kantinnya pun mirip foodcourt, kami jadi teringat kantin yang kami miliki, KBL tak seluas dan sebagus ini. Konsep yang oke.

Kami akhirnya ke pojok souvenir, kecil tempatnya, diberinama Cicak. Aku jadi ingat Tokema. Sayang souvenir yang ada cuma sedikit. Karyawannya ada dua, perempuan semua. Mas Kun dan Kindi memilih-milih souvenir dan menanyakan kaos, namun sayangnya kaosnya sedang habis. Disitu Cuma ada sticker dan gantungan kunci.

Gantungan kuncinya hampir setipe, logam segitiga, segiempat sampai segi enam. Kindi dan Mas Kun ambil masing-masing satu. Tak ada brand khusus seperti di Tokema, misalkan kertas buat ngegantung maupun barcode. Sistemnya masih manual dan display sederhana, maklum cuma beberapa meter persegi.

Kami tanyakan dimana sekretariat Kopmanya. Kami ditunjukkan di sebuah gedung tak terurus, mirip Ex MKOR, lebih mendingan ini tapi dari luarnya. Gedung IT, sebuah penghargaan bagi seorang insinyur ITS yang berkontribusi untuk dunia IT di ITS. Namun gedungnya sudah tak terpakai. Lantai bawahnya cukup sepi dan berdebu, kosong.

Sekretariatnya ada di atas, lalu kami naik. Sebuah tempat terbuka, diberi sekat dua membagi tiga. Ada BEM di paling barat, tengah Kopma, dan dan paling timur Mapala. Kami hampiri yang tengah. Ada bisik-bisik dari dalam, lalu kita ucapkan salam.

Kami disambut oleh dua mahasiswi, lalu kami ditemukan dengan seorang karyawannya. Jadi teringat dengan Teh Nani di sekre. Kami dipersilahkan duduk, dan kami memperkenalkan diri. Kokesma ITB kami bawa namanya. Mohon maaf untuk pak ketua Kokesma, tanpa izin. Tapi sungguh tidak bermaksud untuk macam-macam.

Dua mahasiswi yang pertama tadi nampak bisik-bisik bingung. Si karyawan menyarankan untuk memanggil salahsatu pengurus intinya. Kalau di sana pengurus inti disebut direktur, Bang Andi banget lah Direktur KBL.

Akhirnya datang beberapa orang menyusul, prempuan semua. Setelah berkenalan, mereka ada satu orang yang Direktur, yaitu direktur PSDA. Ada Asisten Direktur juga dibelakanganya, dipanggilnya Asdir. Asdir selevel staf kalo di kita. Di tempat yang nggak kalah sederhananya dengan sekre kita, kita memulai pembicaraan. Karena ada PSDA jadi kita pertama-tama ngomongin kaderisasi. Jadi di sana cukup koperasi dibanding kita, ya secara entah konten yang nggak tahu. Jadi dari anggota biasa mereka membuka rekruitmen untuk diklatsar. Sistemnya sukarela, yang mau ikut ya mangga, yang nggak ya masih bisa beraktivitas, katanya. Kelebihannya yang ikut diklat mereka boleh menjadi staf (selevel maganger).

Setelah diklatsar, mereka ada diklat menengah atau dikjmen (ah diklat aja udah singkatan masih disingkat pula), haha. Di Dikmen ini salahsatu syarat menjadi asdir. Jadi kita sebelum jadi staf harusnya sudah mengikuti diklat lagi.

Nah, selanjutnya adalah Dikjut, atau diklat lanjutan. Ini menjadi syarat untuk menjadi Direktur. Tapi katanya teman-teman, Dikjut ini nggak mesti buat calon Direktur, semua Asdir boleh ikut Dikjut ini asal memenuhi kriteria.

Secara rancangan mereka sih sudah sesuai dengan yang dari pusat canangkan, namun nggak tahu aplikasinya. Sedangkan kalau di kita, kita secara aplikasi sebenarnya sudah melakukan di Dikmen,yakni melalui program magang yang disitu terdapat program-program tiap divisi mau kayak gimana. Tapi kalau Dikjut entahlah, karena di tataran staf aku ngerasa nggak ada nilai apa-apanya, kita lebih diseringkan oleh kerjaan dan tugas.

Setelah itu hadir lagi Direktur, kali ini cowok. Pemikiran bahwa jangan-jangan Kopma di sini antara cewek dan cowok dipisah putus. Haha kali ini beliau adalah Direktur Cicak, mirip Tokema lah. Akhirnya ada kesempatan buat ngobrolin usaha.

Kenyataan yang kita dapet, kantin yang tadinya kita anggap milik kopma ternyata bukan, itu milik salahsatu unit usaha ITS. Ya Cicak intinya nyewa tempat di area tersebut. Jadi usaha mereka ternyata juga tak seberuntung kita. Bukan hanya di relokasi usaha mereka, melainkan dibubarkan malah. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Rektoratnya kurang mengehendaki kegiatan usaha oleh mahasiswa kayaknya.

Usaha mereka ditopang oleh pembuatan Jas Almamater yang mereka pegang. Jadi karena faktor historis dan kepercayaan, pembuatan jamal diserahkan ke kopma. Tidak seperti di ITB yang ditenderkan dan mahasiswa nggak boleh ikut. Dari keuntungan itulah mereka mendapatkan sumber penghidupan buat organisasi.

Ya kalau mau lihat kopma yang bagus, ya lihatlah Kopma UGM, didukung oleh rektorat melalui fasilitas yang bagus. Ya kalau mau melihat kopma yang senasib ya bisa lihat ke Kopma ITS.

Setelah itu masih banyak obrolan yang lain, termasuk guyon-guyonan khas jawa timuran, maklum sebagian besar anak ITS ya anak-anak jawa timur. Tetap teman-teman, di Kopma yang orang cari ya suasana kekeluargaannya di sini memang tercipta, ya terlihat bagaimana kita disambut, padahal kita juga ibaratnya nggak sengaja buat datang.

Di akhir perjumpaan, kita sempatkan untuk berfoto dan bertukar kartu nama. Sayangsekali, kartu namanya pake tulisan tangan dan dibuat pada waktu itu juga. Hahaha. Kita bertiga dikasih oleh-oleh berupa pin, wah asik nih dapet souvenir dari ITS, padahal nggak niat beli. :p

Setelah keluar kampus ITS kami pergi ke Cakcuk yang dekat dengan Unair. Agak capek muter-muter juga sih, soalnya Kindi juga nggak terlalu hafal tempatnya. Tapi akhirnya nyampe juga. Wah, ternyata Cakcuk tak seramai yang aku bayangkan. Pertama lihat kaos salahseorang teman, Cakcuk itu seperti Joger. Tempatnya luas, eh ternyata Cuma kayak distro kecil. Tapi desainnya bro, buanyak.. Nggak tanggung-tanggung disini, kata-kata yang dipakai juga nggak kalah seru. Binal lah ini kaos.

Aku nggak beli, karena sadar dompet nggak bakal cukup. Yang beli lagi-lagi mereka berdua. Harganya mahal cuy, satu kaos 63ribu. Kualitasnnya sama dengan kaos Tokema, sablonnya bagusan Tokema malah.

Kita sampai rumah Kindi lagi ternyata sudah jam setengah dua, padahal kereta secara jadwal jam setengah tiga. Kita belum makan siang dan sholat. Kita langsung bergegas. Tak perlu banyak nyantai untuk urusan waktu mepet ini.
Setelah beres, kita berangkat. Dari kompleks rumah Kindi ke naik angkot kita lakukan dengan jalan kaki. Yap, this is backpacking. Here I come to you Lombok. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s