Konkritkan Lombok : Warung Jawa di Kuta


Tak jauh dari dusun Sade kita sampai di Kuta. Lima kilometer ditempuh seperempat jam lebih lah. Karena jalannya naik turun. Kabar gembira itu datang ketika kita melihat plang bertuliskan Bypass Kuta Lombok. Akhirnya kita sampai brur, kataku menceracau.

Ah, ada satu hal yang harus kamu tahu. Perjalanan kami menembus jalan-jalan sepanjang Cakranegara sampai Kuta, kami tak menjumpai suhu udara yang sepanas di Jawa. Udara demikian sejuknya sehingga aku lupa bercerita hal ini dari tadi. Tidak seperti di Jawa, apalagi Jakarta atau Surabaya. Semuanya begitu tentram dan menyejukkan. Cuma was-was yang kurasakan tadi.

Kami masuk kawasan Kuta. Bundaran di Bypass ini mengaruskan kita belok kanan. Cuma 200 meter dari situ kita langsung disambut gebyuran ombak yang pecah duluan dari kejauhan lalu tinggal kecil di bibir pantai. Inilah Kuta yang katanya elok itu. Benar-benar elok. Sepanjang pantai itu ada juga jalan horizontal yang terbentang. Kami ikuti jalan itu, sampai tak berujung. Sampai daerah itu sepi kembali, lalu balik lagi.

Tujuan kami memang bukan mau langsung menikmati pantai. Namun kami cukup melihat dan melirik-lirik penginapan. Adakah penginapan dengan harga miring di sini? Adakah yang di bawah 100ribu/kamar untuk 3 orang? Sepanjang jalan tadi memang kami rasa tidak ada. Soalnya tepat di pinggir jalan pantai itu yang tinggal bule-bule saja adanya.

Singkat cerita kami dapat sebuah penginapan murah. 70ribu/kamar untuk 3 orang. Letaknya ada di luar kawasan pantai. Yaitu di setelah bundaran bypass Kuta. Agak rumit juga sih, Tanya sana sini, agak muter-muter nggak jelas. Kita ketemu penginapan ini juga Cuma ngelihat plang di bundaran. “Penginapan murah, familiar, bagus : Qurnia Homestay”.

Agak rebek juga obrolan tawar-menawarnya. Tadinya itu 90ribu karena nambah bed, tapi kami putuskan nggak usah nambah bed jadi kita tetap 70ribu. Yang penting aman buat kita, barang kita dan motor kita. Karena parkirinya luas boi. Maklum masih tahap
pengembangan ini homestay.

Beres naroh-naroh barang dan sholat dhuhur, kita cabut. Jam setenga dua lebih kami berangkat. Atas saran pemilik homestay tadi, makan yang murah ada di “Warung Jawa”. Kita ikuti petunjuk bapak pemilik homestay tadi. Akhirnya nyampe di “Warung Jawa” tadi.

Suasananya tidak lebih dari tenda pecel lele di Jawa. Lantainya tanah, mejanya seadanya saja. Ada botol kecap dan saos disertai toples kerupuk. Tabel menu juga ada, agak lusuh juga rupanya. Kali ini bahasanya lain sama yang tenda pecel lele, kali ini menggunakan dua bahasa, indonesia dan inggris, oh iya ada juga deskripsi sederhana. Soalnya juga banyak orang asing yang ikut makan di sini.

Aku lihat menunya, hargaya memang mahal-mahal bung. Over 10ribu semua. Ya paling yang biasanya dimakan ya nasi campur. Kami bertiga memang makan yang itu saja. Nggak mau nyoba yang aneh-aneh dulu. Walhasil nasi campur kami ya berisi nasi, sayur campur dan lauknya ayam goreng ditambah satu tahu atau tempe. Porsinya lumayan besar sampai akhirnya lumayan kenyang.

Kami sempat ngobrol dengan pemilik warungnya. Orang Banyuwangi ternyata yang punya. Jawa bagian ujung timur sekali. Obrolan kami jadi pake bahasa Jawa saja. Kami bertanya-tanya tentang Kuta, Lombok ataupun Pantai Mawun. Tentang kenapa pemilik warung itu sampai di sini juga.

“Sudah satu setengah tahun Mas di sini.” Katanya,

“Belum lama juga ya,”

“Keluarga di bawa Pak?” Tanya kami karena melihat usia bapak pemilik warung ini sudah tidak muda lagi.

“Iya lah, di sini kan lumayan bisa bantu-bantu di belakang.”

Lain lagi kita ngobrol soal Pantai Mawun.

“Mawun sih jauh mas. Saiki jalannya rusak parah. Saranku jangan kesana mas.” Kata dia ketika kita tanyai petama kali soal Mawun.

“Kenapa pak?”

“Jalannya rusak, naik turun, trus pantainya sekarang sepi.”

“Oh, tapi nggak rawan kan pak?”

“Asal jangan pulang malem aja sih.”

“Oke Pak.”

“Atau naik ke bukit itu aja mas, disitu ada penambangan emas. Ya oleh warga sih.” Sambil menunjuk kea rah bukit sebelah barat.

“Oke Pak, terimakasih. Coba deh nanti kalau masih ada waktu.”

Lain lagi pembicaraan soal Kuta ini sendiri.

“Kuta ini dulu sepi banget Mas. Tapi memang karena pantainya bagus banget, sekarang mulai ramai. Ini masih terbilang sepi, kalau kesini coba bulan-bulan Agustus atau September, wuih rame.”

“Ini dikelola pemerintah nggak Pak?”

“Wah, sayangnya itu mas. Di sini yang punya sudah orang-orang bule semua.”

“Maksudnya?”

“Ya itu, hotel-hotel, resort yang punya orang bule semua.”

“Oh..”

Kawan, sampai aku lupa. Qurnia Homestay juga katanya itu investasinya orang luar. Itu lho tempat penginapan yang kita tinggali untuk malam ini. Orang-orang lokal hanya menjadi tangan-tangan yang bertanda tangan di atas kertas. Samping Homestay kita juga tadi nampak orang-orang bule sedang sibuk mengukur macem-macem, pembabatan semak-semak, pengerukan tanah dan lain-lainnya. Sektor pariwisata pun di gondol asing. Ini lho teman-teman, melek lah! Bangun!

Harga jual jasa dan kebutuhan makan jadi dikontrol asing di sana. Dan kau tahu, cuma warung jawa ini satu-satunya yang masih murah. Kata orang di Homestay tadi begitu. Cuma warung kecil seperti ini yang mandiri dan bisa mengontrol harganya sendiri. Entah apa maksudnya, apakah orang-orang kita pada tidak punya modal buat mengembangkan sendiri? Ataukah mental kita yang mental pekerja atau buruh saja.

Kami sudah tak punya waktu lagi untuk banyak nongkrong di warung jawa ini, jam sudah dua lewat. Kami memburu Mawun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s