Mie Ayam (Catatan Lebaran)


Yap, ketemu lagi di catatan lebaranku. Tahun kemarin aku udah cerita banyak soal lebaran juga. Kali ini kisahnya lain. Judulnya Mie Ayam. Kenapa? Ada hal unik dibalik fenomena lebaran yang berkaitan dengan Mie Ayam.

Mie Ayam sudah biasa kita kenal di kalangan mahasiswa. Mie Ayam sekarang bahkan sudah banyak dikembangkan dan divariasikan. Ya, entahlah makanan ini dari mana datangnya tapi makanan ini punya tempat di hati yang lain di masa kecil anak-anak kampung kami.

Anak-anak kampung kami lahir di sebuah tempat yang jauh dari jangkauan jajanan makan. Bakso, Mie Ayam, Siomay, atau Batagor tidak ada di depan SD kami, yang ada palingan cuma tukang Cilok yang pas jamannya aku sekolah harganya seratus dapet dua biji dan makannya ditusuk. Es lilin yag panjang harganya satu potong panjang dua ratus lebih atau yang seratusan satu potong kecil. Yang lainnya makanan macam gorengan yang dulu seratus dapet dua dan dicocolkan ke sambel buatan tangan sang penjual.

Makanan seperti Mie Ayam atau Bakso paling hanya bisa di makan oleh anak-anak kampung kami ketika mereka diajak ke Pasar oleh orangtuanya. Atau yang nakal ya pas disuruh potong rambut di pasar, minta uang lebih buat pulangnya mampir di Warung Mie Ayam. Bukan mengajari korupsi, karena biasanya orangtua sudah paham. Waktu-waktu lainnya paling ketika musim panen palawija tiba. Kalau kebetulan tidak ada tengkulak, biasanya bapak membawa panenannya ke Kota. Lalu pulang-pulang pasti bawa kalau nggak Bakso ya Mie Ayam. Selain itu tidak ada kecuali pas Lebaran. Khusus buat anak-anak berprestasi di kelas akan ada keistimewaan. Apabila dia sering dibawa lomba ke kecamatan, rejekinya untuk makan Mie Ayam gratis dibayarrin oleh sekolahan. Aku kebetulan orang yang paling sering dibawa ke kecamatan buat ikut lomba. Haha

Aku bilang kecuali pas lebaran, ya begitulah. Ada fenomena unik. Jadi ketika lebaran tiba, anak-anak kampung kami seperti pada umumnya sudah bisa pegang duit besar. Sanak keluarga pastilah banyak yang pulang dan ngasih salam tempel. Semuanya berbahagia. Lalu kemanakah sebagian besar alokasi duit mereka? Yang pertama adalah tukang mie ayam. Di hari pertama lebaran, anak-anak kampung kami takkan telat untuk makan ini. Pernah aku dan banyak teman-temanku keliling kampung, di penghujung kampung kami putuskan untuk silaturahim ke kampung lain. Khusus ke rumah-rumah yang diantara teman-teman kami punya kenalan saja. Dan akhirnya kami tujuan akhir kami adalah pasar. Yeah. Walau perut sudah penuh dengan camilan yang kami makan sepanjang silaturahim ke jalan-jalan akhirnya kami mampir di warung mie ayam itu. Betapa makanan itu luar biasa buat kami, spesial.

Lain kali lagi alokasi duit kami adalah untuk mainan. Pas jamannya tamiya, ya kita beli tamiya, pas jamannya gasing ya kita beli beyblade, pas jamannya Crush Gear, kita beli Crush Gear. Kita belinya di pasar juga, tidak lupa sebelum atau sesudah beli mainan kita mampir ke warung, Mie Ayam. Dan pembelian Mie Ayam itu biasanya sampai hari ke lima bahkan sampai selesai libur lebaran.

Akhir-akhir ini muncul banyak yang membaca peluang di fenomena ini. Kini tiap lebaran paling tidak ada dua tukang Mie Ayam dadakan di kampung kami. Pernah aku merasakan ada tiga tukang mie ayam dadakan. Walaupun rasanya jauh dari yang ada di pasar, tapi mereka tetap diserbu oleh anak-anak kampung kami. Kebetulan tukang Mie Ayamnya bisa berbagi pasar, satunya ada di kapung kami bagian selatan satu lagi bagian utara. Pas ada tiga kebetulan yang ketiga itu ada di tengah.

Bagiku sendiri Mie Ayam adalah makanan spesial juga. Semenjak SMA aku jadi cukup sering jajan makanan ini, apalagi jaman SMA aku ngekos. Ngekos cukup berat kalau kita bikin makanan sendiri dan terlalu bosan kalau tiap hari harus makan di warteg. Salahsatunya yang murah adalah Mie Ayam. Hingga kini aku kuliah, Mie Ayam masih jadi makanan yang menarik, namun kalau makan Mie Ayam di Bandung rasanya beda jauh sekali. Lidahku nggak ada yang cocok dengan bumbu Mie Ayam di Bandung kecuali Mie Ayam yang ada di deket stasiun Kiara Condong. Pemiliknya yang orang jawa memang bumbu-bumbu jawanya tentu njawani. Tidak jarang kalau pas balik ke Bandung dari Purworejo dan turun di stasiun Kiaracondong aku mampir ke sana.

2 thoughts on “Mie Ayam (Catatan Lebaran)

  1. eskishintawati mengatakan:

    mie ayam prapatan kembang..enyak :9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s