Untuk Sebuah Senyum


Dengan Astrea Legenda tahun 98 milik temanku aku melaju bersama Nina menuju ke Lembang. Nina pegang tasku yang kugendong dibelakang, itung-itung sebagai hijab. Laju motor tua ini juga memang sudah tak terlalu kencang, cukup rata-rata 40km/jam di jalanan bandung yang kebetulang hari ini tak seramai biasanya.

Sukawana, PTPN VII yang isinya kebun teh itu masih aku rahasiakan buat Nina. Sampai Ledeng kami belok kiri, Jalan Sersan Bajuri yang berkelok-kelok dan semi menanjak kami lalui. Deretan resort dipinggir jalan kami lalui dengan sombong. Kampung Gajah, Rumah Daun, De Ranch, semua terasa biasa saja. Jalan arah Ciwangun ini memang dipenuhi dengan budidaya bunga di sisi kanan kirinya, ada pula buah stroberi yang merah-merah buahnya dibududayakan secara tabulampot(tanaman buah dalam pot).

Setelah belokan sebelum menuju Vila Istana Bunga terdapat plang bertuliskan “Selamat Datang di PT Perkebunan Nusantara VII.” Plangnya sudah usang. Kami lalu belok kanan. Nina masih bertanya-tanya barangkali. Sedih yang menyelimuti Nina perlahan pudar. Hal ini kulihat dari raut muka dibaik spion kanan Legenda ini.

“PTPN VII Nina,” Kataku.
“Ada apa memangnya Kak?” Balas dia penasaran.
“Tunggu saja,” balasku.

Kami berhenti sebentar di portal, pintunya memang selalu dijaga. Seribu rupiah untuk satu motor masuk. Beres, jalan yang kita temui mulai berkelok-kelok dan terjal. Gigi dua sudah tidak naik, gigi satu rasanya terlalu pelan, artinya kami harus sabar. Tapi dibalik itu kebun teh mulai menghampar. Lagi-lagi dari balik spion kulihat Nina mulai tersenyum. Manis sekali.

Tujuan kami adalah Vila Merah, cukup nitip parkir saja di sana. Setelah melobi satpam, akhirnya dibolehkan juga. Kami turun dan mulai jalan. Nina mengenakan sweater biru muda, aku mengenakan jaket tebal biru donker.

Nina berjalan agak lari, aku masih santai, dia di depan agak jauh.

“Lihatlah Nin, hamparan kebun teh. Aku yakin ini yang kedua kalinya kau temui. Dan ini pertamakali bisa menginjak tanah subur buat kebun the ini.” Aku bicaranya sambil teriak.
“Hmm, kok Kakak tahu sih?” Balas dia penasaran.
“Ah, kotamu itu nggak mungkin ada kebun teh Nin, panas kan kotamu itu. Lagipula kamu pernah cerita waktu kita pergi bareng-bareng teman-teman yang lain. Haha” Jawabku sambil lantang juga.
“Oh iya yah,” Jawab dia.
“Nin, kamu kalau ngomong di sini boleh sekeras-kerasnya, jadi ngomonglah sekeras-kerasnya Nin,” Aku memberi saran pada Nina.
“Kenapa kak?”
“Ya ekspresikanlah emosi hatimu melalui ucapan sekeras-kerasnya.”
“Baik kak, “ Jawab dia dengan suara lantang.

Kebun the sukawana milik PTPN VII ini sebenarnya tak seluas Bogor barangkali. Namun keasriannya tak kalah, bahkan pemandangannya lebih bagus. Karena ketika memandang ke arah selatan, akan kita temukan cekungan Bandung, dan di utara Gunung Tangkuban Perahu, sebelah baratnya Gunung Burangrang. Aku berjalan menyusuri jalan-jalan kebun the ini. Nina sudah jauh karena mungkin saking senangnya dia. Dia sudah memotret-motret saja. Memang diantara dedaunan itu banyak terdapat serangga-serangga unik seperti laba-laba, luwing, nyamuk, dan lain-lain. Sepertinya dia suka sekali denga biologi.

“Nina, ke sana yuk!” Ajakku sambil menunjuk ke arah sebuah saung. Saung di ujung pertigaan.
“Ayo kak,” jawab dia semangat dengan suara lantang.

Dia nampak bahagia. Aku tersenyum bahagia.

Sampai aku di saung itu, Nina yang sampai lebih dulu masih menghela nafas kecapekan karena jalannya yang naik tadi. Menghadap ke selatan persis kota ini seperti mangkuk yang ditumbuhi beton-beton warna-warni : Cekungan Bandung.

“Kau tahu sekarang kita ada di ketinggian berapa Nin?”
“enggak kak, emang berapa?”
“seribu empat ratusan. Kampus kita di ketinggian seribuduaratusan.”
“Kalau menurut Buys Ballot, berarti tempat ini lebih dingin dua derajat celcius.” Jawab dia dengan puas. Pelajaran geografi kelas satu SMP masih melekat di otaknya, anak pintar.
“Iya Nin, namun kenyataannya mungkin lebih besar Nin, karena Kota Bandung sekarang sudah jadi urban, kalau teman-temanku menyebutnya Urban Heat Island. Tataguna lahan yang tak terkendali, kendaraan bermotor, makin membuatnya jauh lebih panas dibanding sini.” Uraiku.

“Ternyata kampus kita kecil sekali ya, dari sinipun gedung PAU tak terlihat.” Kata dia. Gedung PAU adalah gedung tertinggi di kampus kami.
“Iya, padahal menurutku Bandung kota kecil loh. Berarti memang kampus kita yang kecil sih. Haha”

Dia diam, sedang mecari-cari sesuatu jauh di Bandung sana. Aku terpaku dijarak 2 meter sampingnya. Wajahnya memang sempurna. Sayang hatinya mudah tersakiti. Begitu banyak hal yang membuat dirinya sedih, termasuk laki-laki. Andai aku laki-lakinya kelak, akan jadi sebuah anugerah sekaligus ujian yang berat. Hahaha.

“Masih sedih Nin?” Tanyaku.
“Nggak usah dipikirin dulu kali ya Kak. Hahaha”
“Jangan begitu, kamu harus berani melawan persoalan dan menyelesaikannya. Hahaha ”
“Terus gimana dong Kak?”
“Ungkapkan, jangan biarkan sisi buruk melankolismu menguasai dengan banyak memendam.”
“Caranya?”
“Teriak sekenceng-kencengnya.. hahahaha“
“Bisa gitu cukup dengan teriak sekenceng-kencengnya?”
“Cobalah..”
“Teriak apa nih Kak?”
“Aaaaa…………..” Aku berteriak sekencang-kencangnya.
“Aaaaaaa……” Dia berteriak juga.
“Gimana?”
“Bebaaaaaass kakkkkkkk….” Dia lalu tersenyum.
Aku lalu tersenyum optimis.
“Kakakkkkkkk……” Teriaknya.
“Ninaaaaaaaaa………….” Aku membalasnya.

Kami berdua saling berteriak, membicarakan sesuatu secara lantang. Sampai obrolan umum habis. Dia capek barangkali. Dia lalu tertegun. Mungkin ada yang mau dia keluarkan.

“Nin, kalau kamu merasa butuh sesuatu untuk kamu keluarkan, keluarkan saja.”
“Aku takut kak,”
“Terserah kamu saja sih, tapi kalau masih malu, aku tutup kupingku sekenceng-kencengnya biar aku nggak denger deh..” Sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum semanis mungkin.
“Janji kak, kalau tetap denger kakak janji bakal ngerahasiain kalau aku pernah mengeluarkan kata-kata seperti ini ya. ”
“Oke, cantik.. “

Aku tutup kupingku sekuat-kuatnya, dia berteriak sekencang-kencangnya, masih terdengar sebenarnya. Tapi biarlah aku menyimaknya.

Aku tahu, aku tahu kamu pasti sakit Nin. Aku tahu rasanya bagaimana berada dalam ambang ketidakjelasan seperti itu. Aku harap kamu mampu melupaknnya saja, tak usah kamu pikirkan lagi laki-laki macam itu. Ambillah bahagiamu sendiri. Kalau dia memang tidak mencintaimu, kamu tak perlu mencintanya juga. Kalimat tersebut mengalir dalam hati.

Lalu aku berbalik, kemudian duduk menghadap Tangkuban Perahu. Nina ikut duduk di sampingku. Dia bercerita panjang, dia curhat.

“Kamu masih muda Nin, jangan terlalu banyak mikir yang seperti ini. Laki-laki, nilai akademik, adalah hal dunia. Kamu seharusnya mampu menikmati ini. Yakinlah suatu saat pasti ada laki-laki yang dengan hormat menyatakan mempersuntingmu. Lebih baik dari dia barangkali. Masalah nilai, aku tak bisa berkata banyak, tapi aku bilang begini saja padamu. Aku pernah terpuruk, indeks prestasiku terjun sampai dibawah 2,5. Di saat-saat seperti itu, aku beristighfar, lalu aku berpikir. Itulah jerihpayahku selama satu semester. Mungkin ujian ini salahsatu terberat, tapi aku bisa terima itu. Apalagi kamu cuma dapet jelek di satu matakuliah saja. Semangatlah! ” Nasihatku selesai dengan menyenggol pundaknya dengan pundakku. Aku senang dia langsung menoleh ke arahku lalu tersenyum yang semanis-manisnya.

“Terimakasih Kak. Kak Nino gimana? Kak Nino juga suka galau nih. Emang siapa perempuan yang kakak maksud? Hehehe“
“Mau aku certain nih? Hahahaha” balasan aku usahakan semembuat penasaran mungkin.
“Mau mau mau Kak.. Eciee“
“Dia sekarang di Austria. Seumuran kamu, sudah berapa lama aku merindukannya. Namun cukuplah sebagai pengharapan terakhir. Karena di sini masih ada kamu, ataupun yang lain yang barangkali suatu saat nanti mau menerimaku. Haha kamu mau nggak?” mukaku sambil ketawa.

“Ah Kakak emang misterius nih, sukanya malah membalikkan pertanyaan.” Balasnya sambil pukul-pukul pundakku.

Sambil bangkit dari duduk aku menjawab, “ Di dunia ini masih terlalu banyak perempuan, masih banyak yang rupawan. Biarkan aku menjadi pengagum masing-masing mereka. Di jalan, di mall, di kampus, di gunung ku temukan banyak yang rupawan, lalu kenapa aku mesti khawatir. Biarkan saja aku menggalau dengan perasaan-perasaan ini. Aku tetap mengagumi kalian kaum perempuan, termasuk kamu Nin. ”

“Kakak pasti bingung, kakak nggak punya satu orang yang benar-benar kakak sayang ataupun cintai. Kakak tidak menghargai perempuan dong? Bagamana nasib seseorang yang mengharapkan kakak?”

“Aku dulu punya banyak harapan, namun dia tak pernah membalas harapanku. Aku kecewa lalu aku sadar, bahwa memang di usia semuda ini, tak layak kita bicara soal harapan dan komitmen. Terlalu mudah terbantahkan Nin.”

“Hidup memang rumit, aku jadi sadar. Di luar sana mungkin banyak seseorang yang mengharapkanku, tapi aku terpaku pada egoku yang berharap banyak pada seseorang. Akan ada yang tersakiti apabila aku hanya terus bersedih dan kecewa pada satu orang. Namun apa iya banyak yang mengharapkanku?”

“Pasti ada. Kamu kan mendekati sempurna. Lagipula sebelum ada ijab dan qobul, tak ada orang yang mengharamkan untuk mendekat.”

Kami bicara panjang lebar, kami terlelap oleh argumen-argumen. Dari atas langit awan cumulonimbus semakin mendekati kita, Bandung dari arah Timur. Artinya sebentar lagi cekungan ini akan diguyur hujan deras. Aku mengajak Nina kembali ke vila merah.

Pembicaraan tadi berhenti begitu saja tanpa kesimpulan. Lalu aku ajarkan dia soal macam-macam jenis awan dan metode sederhana perkiraan cuaca. Kita harus tahu ilmunya, namun selanjutnya yang tidak kalah penting adalah insting. Seperti dalam film Twister beberapa tahun yang lalu, sang tokoh utama mempunyai isting yang luar biasa terhadap tekanan, bahkan dijuluki barometer manusia. Dia bisa merasakan adanya divergensi tekanan yang secara teori berpotensi menimbulkan si twister tersebut.

“Nin, nampaknya hujan datang setengah jam lagi. Dan kira-kira hujan turun paling tidak sejam lah. Jam lima baru kita bisa kembali ke Bandung.”
“Oke nggak apa-apa Kak.”
“Kamu laper?”
“Emang ada tempat makan?”
“Deket situ ada warung kelontong, barangkali kita bisa beli mie instan di situ.”
“Masaknya?”
“Ntar kita beli aja empat bungkus, masaknya dalam vila, sogok mereka pakai makan mie ini barang-bareng.” Mukaku sambil tersenyum menyimpan rencana licik. Seolah-olah bertanya, do you want to join me?
“Laksanakan kapten.” Sambil mukanya tersenyum lebar.

Rencana berjalan lancar. Kita lari terburu-buru ke warung kelontong. Setelah kita dapet bahan makanan itu, kita menuju pos satpam. Sambil ngobrol santai aku mencuri-curi untuk mengarahkan pembicaraan ke sebuah tawaran. Come and join with us! Seperti dalam brosur-brosur bimbel. Belum sampai kita mendapat izin menggunakan dapur vila hujan mulai turun beserta angin yang berhembus kencang. Terimakasih atas kondisi yang tepat, sang satpam juga tergoda oleh tawaran kami setelah hujan turun dengan angin yang membawa udara semakin dingin.

Tulisan ini murni cerpen fiktif belaka. Kebetulan settingnya penulis dapet pas lagi eksursi di Sukawana Lembang. Ya karena suasananya pas jadi oke-oke aja.

Cerpen ini pernah diikutkan di Lomba Menulis Cerpen Remaja 2011. Tapi sayangnya belum mampu meraih juara. Tidak apa-apa lah. Hehe latihan aja.

2 thoughts on “Untuk Sebuah Senyum

  1. wahjoee mengatakan:

    bagus kawan! like it deh!

  2. Ramdani Rendi Mulya mengatakan:

    “Pasti ada. Kamu kan mendekati sempurna. Lagipula sebelum ada ijab dan qobul, tak ada orang yang mengharamkan untuk mendekat.”

    saya suka kalimat yg itu,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s