Konkritkan Lombok : Monyet Indonesia


Ba’da jum’atan kami tidak lupa untuk makan. Kali ini kita makan di warungnya bapak petugas keamanan masjid yang malam-malam itu cerita. Letaknya pas tepat di depan masjid. Aku dan Mas Kun memesan gado-gado, Kindi memesan soto lagi. Ah anak itu tak kapok apa makan soto yang hambar ala Lombok lagi? Haha

Semua diluar dugaanku. Gado-gado kami ternyata lumayan enak, soto kindi juga katanya oke. Bahkan di habis, ya meski emang porsinya tak sejumbo yang di warung sederhana seberang. Mungkin juga karena kami lapar soalnya tadi pagi kami memang jujur tidak sarapan, milo segelas apa-apaan sih.

Harganya, kalau dibilang murah, tentu saja. Ini lebih murah dibanding di Bandung malah. Ya, agaknya jangan dibandingkan dengan Jogja. Satu porsi gado-gado dibayar enam ribu, tambah sesisir pisang ambon jadi tujuh ribu. Kekenyangan meliputi keadaan siang ini.

Jam dua kurang seperempat kita jalan. Tujuan kami tentu bukan Senaru, tapi Bangsal. Ada dua jalur, yang pertama lewat gunung pusuk, yang kedua lewat pinggir pantai senggigi, batu bolong dan seterusnya, pokoknya lewat pinggir pantai saja. Kami memilih lewat hutan gunung pusuk. Ya dari peta infonya disitu adalah daerah wisata juga, yaitu konservasi monyet.

Kembali dengan berbekal peta besar dan peta kecil pulau lombok kami memulai backtouring kami. Aku gunakan istilah ini, sebuah touring di dalam backpacking. Mngendarai motor, namun membawa tas punggung penuh dengan perlengkapan hidup.

Baru sampai Mataram kami sudah kebingungan. Ya kita lewat jalan yang tadi menyasarkan kita, jalan lurus searah, seperti Slamet Riyadi di Solo saja. Lagi-lagi kami harus bertanya. Peta tidak cukup membantu di jalan yang rumit ini. Peta cuma jadi ancer-ancer benar atau tidaknya jalan ini. Pada kenyataannya, peta yang kami pegang juga tidak benar, bahkan peta besarnya pun.

Kali ini kita lewat jalan di taman kota. Ancer-ancernya benar, depan adalah Bandara Selaparang. Dari situ harusnya belok kanan lalu kiri lalu kanan lagi. Nah di peta nunjukinnya bisa langsung diterobos, ada jalan lurusnya. Itu yang membuat sebal kali ini. Di sisiku, aku sebagai anak kebumian, mau tak mau kudu percaya peta. Dan aku suda melakukan itu dengan baik. Namun ternyata peta ingkar pada kebenaran. Si pembuatnya punya kesalahan. Di sisi lain, ada orang yang punya insting soal jalan, ketika ada kondisi seperti ini, maksudku kebingungan terhadap jalan mana yang akan dilewati, akan menimbulkan berbagai perdebatan.

Keluar kota aku yakin kembali pada peta. Ketidakdetailan di daerah Mataram sudah berlalu menjengkelkan. Kali ini kita sudah masuk daerah pegunungan. Udara mulai dingin dan segar. Kanan kiri kami pohon-pohon besar, lebat dan hijau. Gunung Pusuk masih jauh. Apalagi jalannya yang naik, setengahjam kita akan melewati jalan naik turun yang mirip jalan Tangkuban Perahu ke Ciater. Bedanya kalau ke Ciater adalah kebun the di sini hutan lebat.

Jalanan asik ini cukup merefresh semangat kami setelah kejadian bodoh pagi tadi di Cakranegara. Kali ini kita harus menikmati alam. Udara segar, pandangan mata hijau, jalanan mulus belak-belok naik. Ahh…

Puncak Pusuk mudah kami jangkau, cuma limabelas menit barangkali. Hutan hijau ini konon banyak hewan-hewan berkeliaran, salahsatunya monyet. Monyet yang di maksudkan belum nampak juga rupanya. Atau memang harus turun dan masuk dalam hutan? Wah, tidak ada waktu lagi kalau begitu.

Setelah puncak kosong tidak ada satwa yang dimaksud jalanan kini menurun. Ah, setelah berbelok-belok itu aku mendengar jeritan-jeritan monyet itu. Pada akhirnya didepan sebelah kiri kami sedang bergelantungan monyet-monyet warna putih dan berambut mohawk. Welcome to the jungle! The real jungle.

Kanan kami tebing, kiri kami jurang. Turun lagi satu belokan nampak satu sudut ramai sekali oleh monyet-monyet itu. Sisi kiri kami sebelum jatuh ke jurang ada tempat agak lapang, disitu berserakan kulit kacang. Di ujungnya ada beberapa orang bule yang sedang asik bermain dengan monyet itu. Lalu kami turun di tepi jalan dekat tempat lapang tersebut.

Seekor monyet di hutan pusuk

Seekor monyet di hutan pusuk


Monyet dan bule

Monyet dan bule


Monyet itu lalu semburat menjauh dari arah kami. Orang asing masuk dalam area mereka, pikir mereka barangkali. Aku yang terdepan di antara bertiga langsung berpose. Ah cekatan, Mas Kun dan Kindi langsung keluarkan kamera mereka. Lalu aku jongkok, mengamati tingkah laku satwa mirip manusia ini. Memang mirip, apalagi buat anak dengan mode rambut mohawk dan dicat putih.

Rasanya iri melihat orang asing itu lebih dekat dengan monyet-monyet ras indonesia ini. Bagaimana bisa seorang yang entah dari benua mana bisa-bisanya mau bermain dengan mereka, sedangkan kita yang masih satu negara saja malah dijauhi.

Pikiranku mengawang kemana-mana, aku menerka-nerka apa yang sebenarnya mejadi penyebab orang asing itu dekat dengan monyet-monyet kita. Yang pertama mereka lebih mirip dengan si monyet dibanding kita orang indonesia. Ya, orang asing itu kulitnya kan putih, rambutnya juga putih atau pirang dan ada juga yang kaki dan tangannya berbulu lebat, atau bahkan karena potongan rambutnya mohawk? Sedangkan kita orang asli indonesia kulitnya coklat, bulu di tangan dan kaki tidak lebat, rambutnya lurus atau keriting dan tidak mohawk. Ah serasis itukah monyet-monyet itu?

Yang kedua adalah, orang asing itu punya kacang dan permen. Seperti tadi sudah kubilang, spot ini ramai dengan monyet juga karena banyak kulit kacang disini. Mereka (bule) itu yang membawa kacang dan kulitnya di sini. Bersama dengan monyet-monyet itu mereka memakannya. Baik, ya maaf kalau kami lupa bawa kacang Nyet. Dasar monyet otaknya perut doang, nggak ada sebersit rasa nasionalisme sedikit saja di otak mereka. Mereka tinggal di Indonesia, berpijak dan bernafas di tanah Indonesia. Adakah teman-teman yang mau saya samakan dengan monyet ini? Tak punya nasionalisme dan cenderung cuma mikirin perut?

Yang ketiga adalah bahwa kami diblacklist karena kami orang Indonesia. Cap yang menempel dalam tubuh kita yang mereka lihat adalah cap manusia-manusia pembawa kerusakan. “Orang-orang kulit coklat dan rambut hitam itu orang Indonesia, kerjaannya memburu teman-teman kami dan membunuh teman-teman kami untuk diambil organ otaknya lalu dijual entah kemana. Duitnya dimakan sendiri.” Begitu doktrinasi yang mereka percayai barangkali. Padahal kalau kalian tahu, yang makan otak-otak teman-teman kalian adalah juga orang-orang yang berkulit putih dan berrambut putih atu pirang itu Nyet.

Monyet-tetaplah monyet, semirip apapun dengan manusia, mereka takkkan mampu berpikir secerdas manusia. Mereka tak perlu peduli tinggal dimana dan harus berwatak apa, nasionalisme bukan apa-apa yang seharusnya mereka punya, karena mereka Cuma berpikir bagaimana bertahan hidup untuk dir sendiri dan keluarganya, iming-iming kacang dari tangan asing pun mereka terima. Alasan nomor dua menjadi yang paling masuk akal. Nyet Nyet, sekali lagi adakah dalam jiwa teman-teman yang masih seperti Monyet? Maaf kalau tersungging.

Kami melanjutkan perjalanan, kenangan bersama monyet-monyet tadi hanya terabadikan oleh sebuah kamera handphone Android milik temanku itu. Tak ada foto berpelukan, tak ada foto bermesraan, bahkan bergandeng tangan pun tidak. Sedih sekali.

Jalanan menujukkan kesegaran udara yang terus menerus. Jalanan yang sepi, namun tak sesepi jalanan ke Kuta. Sebelah kiri jalan terdapat banyak tiang-tiang untuk lampu penerangan jalan. Walaupun memang ada banyak yang rusak. Maksudku rusaknya karena dirusak manusia, dicolong kabel dan lampu-lampunya. Hutan Pusuk, selamat tinggal.

Di ketinggian sekitar 50 meter dpl kami bertemu dengan pemandangan menakjubkan, jauh mata memandang, nampak dua pulau berjajar di sebelah kiri kami. Kami dari bukit bisa merasakan betapa indahnya pulau itu. Ya, itulah Gili Trawangan dan Gili Meno. Akhirnya kita sampai juga di Bangsal. 10 menit dari palabuhan kira-kira.

Biaya masuk pelabuhan ke Bangsal dihitung per motor, karena kita menggunakan dua motor, kita bayar dua ribu. Hawa laut mulai terasa, namun kita masih mampir dulu di warung, barang membeli air mineral, ancang-ancang barangkali di dermaga atau di Gili Trawangannya lebih mahal. Air yang khas, mereknya Narmada. Sebuah produk lokal yang memonopoli, hmm baguskah? Tentu.

Sesampainya di pantai peyebrangan kami parkir, bukan sembarang parkir karena jam-jam segini namanya bukan parkir lagi tapi penginapan motor. Nama tempat parkirinya “Ojo Lali”. Dalam bahasa jawa artinya jangan lupa.. Jangan lupa untuk parkir dan nitipin motor di situ barangkali.

Hal yang terlupa adalah membeli nasi bungkus. Yap, beruntung ada warung yang jualan makanan disitu. Harganya takkan semahal di Kuta. Cukup dengan 3ribu perbungkus. Yap murah sekali bukan? Tinggal empat bungkus kebetulan, kami borong semuanya itu. Sembari bertanya-tanya sama yang punya warung dan orang lokal situ mengenai penyebrangan ke Gili Trawangan ataupun Gili Meno.

Hasil pembicaraan kami adalah bahwa di Gili Meno yang katanya lebih murah panganannnya ternyata lebih mahal dibanding Gili Trawangan. Lagipula Perahu penyebrangan publik (kedepannya kami sebut ‘publik’ saja) sudah tidak ada. Karena ke Gili Meno cuma dua kali publik. Dengan informasi itu sah kita akan ke Gili Trawangan saja malam ini. Hell yeah!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s