Opini : Kaderisasi Pengobyek


Fenomena ngobyek di even kampus semakin menguat. Hal ini cukup menggelitik dan unik untuk dituliskan. Terutama jika dikaitkan dengan mental para pemimpin kita. Ya, mental para menteri dan wakil rakyat kita yang sukangobyek proyek pemerintah.

Sudah setahun saya menjadi staf souvenir Tokema, kerjaan saya mencari proyek pembuatan souvenir di even-even kampus. Hasilnya tidak memuaskan, atau memang usaha saya yang masih kurang jadi proyek yang bisa saya tangani baru beberapa saja. Kendala yang saya hadapi paling banyak ada di internal kepanitiaan itu sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan, soalnya ada di luar sistem.

Kepanitiaan sebuah acara setingkat mahasiswa akan jadi obyek nomplok bagi beberapa ENTREPRENEUR MUDA kampus ini. Ambil saja kasusnya pengusaha pembuatan kaos atau merchandise. Acara kampus pastilah menjadi sasaran empuk percobaan diri menjadi pengusaha tingkat pembuat kaos.

Ketika saya coba tawarkan Tokema sebagai vendor pembuatan atribut kegiatan atau identitas, seringkali jawaban yang saya dapat dari divisi produksinya sudah mendapat vendor. Tergelitik merasa penasaran, brand manakah yang mampu mengalahkan pamor Tokema di kampus ini? #sombong

Telisik mengusut, ternyata ada oknum tertentu dalam internal kepanitiaan yang sudah pasang badan di depan divisi produksi “saya bisa bikin tuh kaos”. “Saya punya brand, bisa murah dan hasilnya oke”, katanya. Pas saya tanyakan apakah ada semacam buka tender buat vendor produksi tersebut? Jawabnya mengecewakan. Untuk kegiatan kecil mungkin bisa ditolerir, tapi untuk yang skalanya nasional atau menyangkut hajat hidup seluruh massa kampus, ternyata tidak ada open tender. Padahal dari tetua dulu bilang biasa kita Tokema masuk tender produksi, walau kadang kalah oleh produsen sebelah, tapi setidaknya ada.

Mungkinkah fenomena pemimpin yang suka ngobyek adalah hasil dari masa muda yang seperti ini? Sering kita mendapat laporan kalau proyek-proyek milik pemerintah menjadi makanan empuk perusahaan milik pemimpin-pemimpinnya. Inikah fenomenanya?

Hukumnya ngobyek itu apa saya juga kurang tahu. Haram seperti korupsi, atau mubah? Mungkin jika memang dia jujur ngobyek untuk kepentingan umum dan tidak mengambil keuntungan pribadi mungkin itu boleh, tapi tidak jarang saya pikir ada penambahan nilai atau marginasi harga. Lebih oke lagi kalau bilangnya itu harga dari produsen, tapi nantinya dia dapet insentif khusus dari produsen. Ya yang cukup parah ya apabila perusahaan yang menanganinya memang perusahaan milik salahsatu panitia, persis para dewan-dewan yang duduk di kursi panas senayan pastinya. Seperti proyek-proyek pembangunan fasilitas macam WC, gedung baru dan lain-lain.

Mental. Semuanya kembali pada mental bangsa kita, manusianya. Mental yang dibentuk di jaman kuliah adalah mental pengobyek, tidak bisa disalahkan bila nanti dia memegang jabatan di eksekutif atau legislatif mereka akan menjadi manusia-manusia penggerogot anggaran. Bahkan bila memang menggiurkan, cara-cara seperti suap menjadi alternatif mendapatkan obyekan.

Segalanya masih penuh misteri, apakah iya mental pengobyek tersebut sudah tumbuh sejak masa kuliah kini? Saya pikir iya. Inilah pembelajaran yang mesti kita pertanyakan. Kadang pembelajaran menjadi pengusaha di kampus begitu kuat, tapi ketika mereka sudah menjalankan bisnisnya, mereka akan bertemu dengan fenomena-fenomena semacam ini. Lalu apakah mereka akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ringan? Lalu enteng-enteng saja menerobos demi kelangsungan bisnisnya? Atau berpikir panjang dulu, merasa menjadi sebuah beban dosa?

Kepada manusia yang mengaku entrepreneur muda, apakah kalian memahami ini? Ini bukan hal yang remeh, ini soal moral dan mental. Semoga kalian menjadi orang yang bijaksana menentukan pilihan. Mari kita hidup dalam sebuah kejujuran dan keterbukaan, menyambut indonesia yang jujur, tanpa obyek mengobyek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s