Lompatan Panjang Memang Tidak Mudah


Entahlah aku sudah pernah bercerita soal ini apa belum di tulisan sebelumnya. Tapi di sini aku mau cerita bagian terbodohnya aku, bagian tertololnya aku waktu ABG dulu. Bukan, bukan soal cinta, ini soal masa depan. Haha

Jum’at pagi, lupa tanggal. Sekitar Juli 2006, hari itu hari terakhir pendaftaran ulang masuk SMA. Ya, aku masuk SMA 1 Purworejo, SMA tersohor di seluruh jagat Purworejo dan sekitarnya. Tersohor akan prestasinya, tersohor karena alumninya, dan yang penting, punya rating tertinggi (batas minimum masuk waktu itu kalo nggak salah nilai 26,xx dari 30,xx) di Kabupaten ini. Aku masuk, jelas. Nilai aku waktu itu 28,60.

Walau nilai aku tinggi, ya kuakui aku emang orang kampung. Sebagai gambaran, SMPku merupakan SMP pinggiran, ndeso, dan nggak dilalui angkot. Serius! Aku sekolah selalu bersepeda, 5 kilo jaraknya. Tapi SMPku membanggakan. Secara sarana, kita cukup, tapi soal prestasi kita lebih. Kita selalu nyelip diantara kemegahan SMP 2, 3, 1, dan Darul Hikmah. Tren kelulusannya, hanya keempat SMP itu yang bisa mengalahkan SMP kami, itupun karena SMP mereka berada di kota.

Hari jum’at pagi aku masih di SMP buat ngurusin SKHU yang menjadi syarat daftar ulang SMA 1 baru selesai hari itu. Cuma berdua laki-laki yang masuk SMA 1, 8 lainnya perempuan, walhasil kita selalu berdua waktu itu, sahabatku itu namanya Yudha. Setelah selesai aku mau langusng berangkat saja. Aku menuju toilet dekat parkir sepeda dulu. Berkas-berkas daftar ulang aku taruh di sepeda, aku masuk toliet untuk kencing. Setelah itu Yudha sudah siap dengan sepedanya buat ke tempat angkot.

Akhirnya aku langsung cabut. Ke tempat angkot, Pituruh – Kutoarjo, jalur 4 yang lewat Kemiri. Tenang, kita pergi meninggalkan Pituruh. Ketika sampai di Kutoarjo, ramai sekali karena terminalnya memang pasar tradisional. Kami nyebrang pasar untuk dapat angkot jalur A yang membawa ke depan SMA 1.

Kami kebetulan mendapat angkot yang kosong. Ya, alhasil ngetem. Sampai beberapa waktu aku benar-benar udah terlupa oleh apa-apa. Pikiran sudah membayangkan kejadian-kejadian apa saja yang sudah dialami di masa SMP, dan membayangkan apa saja yang akan terjadi di masa SMA nanti.

Sampai akhirnya, seorang lelaki paruh baya masuk. Usianya tak lebih tua dari Bapak, cuma sorot matanya terlalu tajam dan mengindikasikan bahwa ini orang jahat, pikirku waktu itu. Benar, karena duduk kita berhadapan ada hal yang ngeri waktu itu karena dia sering menatap wajahku dan mata kita saling berpandangan.

Hanya mengingat Allah waktu itu yang aku coba lakukan. Memeluk tas erat-erat dan pikiran tetap waspada akan segalanya. Ya, di tasku ada berkas pendaftaran sekaligus uang pendaftarannya juga yang jumlahnya ratusan ribu. Mungkinkah dia mengincar ratusan ribu yang ada di tasku.

Rasa khawatir itu berjalan sepanjang jalan, 10 kilometer Kutoarjo-Purworejo ditempuh setengah jam, dan selama itulah aku baru merasakan yang namanya ancaman. Obrolan dengan Yudha menjadi tidaklah menarik sama sekali.

Sampailah kita di SMA 1, tidak terlalu ramai rupanya, sudah tinggal beberapa saja yang mendaftar ulang. Ya, waktu itu karena memang hari terakhir. Sebelum aku masuk ruangan aku cek dulu berkas-berkas pendaftarannya.

Tangan membuka tas, mata mengamati seluruh isi di dalamnya. Tak aku temukan sebuah berkas-berkas pendaftaran itu. Aku coba buka ruang satunya, ternyata tetap kosong. Ada apa ini? Kemana berkas-berkas pendaftaranku? Aku coba ulik-ulik lagi, beberapa kali ulik ternyata memang tidak ada. Wajahku mungkin waktu itu langsung padam. Lemas rasanya, tulang-tulang seakan lolos tak tau bagaimana.

Hari ini jum’at pula, daftar ulang hanya sampai jam 11. Besok sudah pra MOS, dan hari ini kehilangan berkas-berkas. Apa mungkin aku akan jadi siswa SMA 1? Otak kacau mengantar pada praduga lelaki dalam angkot telah menghipnotisku. Mungkin saja dia dengan memandangku dengan tajam itu salahsatu triknya. Tuhan, bagaimanan ini? Dunia seakan tak bersahabat, tidak ada yang membantu karena Yudha sendiri masih sibuk mendaftar ulang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Ya, mungkin kekalahan dan siap kena marah. Bukan, bukan karena uang hilang, atau nggak jadi masuk SMA 1. Aku terkenal ceroboh dan hal ini terjadi di detik terakhir yang krusial.

Sepanjang perjalanan hati ini rasanya gundah gulana. Jalur angkot rupanya lupa. Dia hanya belok sebentar, karena asing aku pikir ini salah jalur, padahal tidak. Malu sendiri bertanya sama penumpang lain, betapa culunnya, jalur angkot ini memang semestinya lewat daerah stasiun, tapi aku nggak tau.

Sambil aku pikir-pikir, apa masih mungkin aku coba masuk SMA 1 Prembun? SMA lain yang tak terlalu buruk, hanya kurang tantangan saja. Ah, atau memang sudah seharusnya aku masuk SMA swasta? Waktu itu bapakku pernah menawarkan untuk sekolah swasta dibarengi dengan ngaji (mondok). Astaga aku tak tentu arah begini.

Penyesalan, ini sebuah kekalahan. Aku lewati SMP itu dengan penuh rasa malu. Tapi aku tak menyangka, hari begitu lama hari ini. Aku sampai rumah masih jam setengah dua belas. Aku akan coba terangkan kejadian hari ini setelah jum’atan, pikirku jelang sampai rumah.

Sampai depan rumah, ada keramaian, kegaduhan, kemudian berhenti. Bapak Ibu berkumpul di ruang tamu. Cengari-cengir masuk rumah dan mencoba merahasiakan segala sesuatunya. Namun rasanya aku terlalu polos untuk merahasiakannya. Oke, nampaknya aku harus siap-siap menerima beberapa bertanyaan yang rasanya menjadi sejuta pertanyaan intimidasi.

Intinya ibuku pertama nanyain bagaimana, aku tak bisa mengelak untuk jujur. Aku sudah bersiap membuka kuping lebar-lebar dan mempersilahkan ibu berkata-kata panjang. Kecewa anaknya seperti ini, pelupa yang tak hilang-hilang katanya. Namun tak ada pertanyaan yang bertanya, lantas mau ke mana kalau nggak jadi ke SMA 1? Mengapa?

Akhirnya bapak memulai pembicaraan dengan tanang. Besok pagi kita berangkat lebih awal, katanya. Beliau sendiri akan mengantar sampai SMA dan sekaligus meminta maaf pada panitia penerimaan. Jadi aku selamat? Bagaimana bisa? Berkasnya? Uang pendaftarannya?

Karena sudah jelang Dzuhur dan hari ini hari jum’at, baru aku bertanya bagaimana bisa hal ini terjadi. Pada Ibu tentunya.

Jadi, coba perhatikan paragraf empat. Adakah perilaku yang salah dariku? Tepat! Teledor, iya. Aku tinggalkan berkas-berkas itu di sepeda. Pas selesai dari toilet, lupa nggak diambil lagi karena buru-buru nyusul Yudha ke terminal angkot. Dan pas pulang juga nggak ada memang di sepeda juga.

Ditemukan oleh Bapak Juru Kebon sekolah, aku masih ingat wajahnya, tapi lupa namanya. Pas lagi bersih-bersih dia temukan berkas tersebut sendirian. Setelah dia temukan, dia ambil dan bawa ke kantor Guru. Kemudian dia serahkan berkas itu ke salah seorang guru.

Kebetulan beberapa guru mengenalku dan tau kalau aku waktu itu sedang di daftar ulang di SMA 1. Guru-guru cekatan SMP 20 memang, tau kondisi seperti ini mereka langsung menelpon SMA 1. Belaiau-beliau langsung advokasi ke SMA 1 kalau salahsatu muridnya ketinggalan berkasnya di SMP. Beliau memohon perpanjangan kasus hari itu supaya aku diberi kesempatan untuk daftar ulang besok hari. Alhamdulillah dikabulkan. Mungkin semenjak ditelpon itu, aku sudah dalam perjalanan pulang.

Pak Kumpul, guru bahasa inggris yang kebetulan tetangga rumah saya, pulang membawa kabar itu ke orang tua. Jadi sebelum aku sampai ternyata Pak Kumpul habis mampir dan menceritakan segalanya.

Ya, tanpa aku tahu sebuah keajaiban dan sebuah kebaikan datang atas kecerobohanku.

Semua selesai, rasa malu menyelimuti hati sepanjang malam. Menanti esok pagi rasanya terlalu lama. Besok, ada apa dengan besok?

Pagi-pagi sekali aku dan bapak berangkat. Jam setengah enam pagi. Dengan Honda Kharismanya waktu itu kita sama-sama menerobos dingin. Beliau terlihat pahlawan sekali di mata bujang kecil ini. Aku lega, dan berterimakasih.

Jam setengah 7 aku sampai di SMA 1. Disambut oleh Bu Astuti(guru Biologi, waktu itu belum tahu namanya) yang dengan sigap melayani pendaftaran ulangku. Aku, Cuma kami berdua, Aku dan Bapakku saja. Memang ini kasus spesial, tidak ada rekan yang dapat kendala sepertiku ini. Luar biasa.

Administrasi tak banyak kendala. Selesai dan aku juga sudah harus segera bersiap mengikuti Pra MOS yang waktu itu dimulai jam setengah 8. Ingat nasihat Bu Astuti waktu itu, “tenang yo nak. Ojo kemrungsung (buru-buru)..” dan ditutup dengan pemberian sebiji permen relaxa. Ah, tau sekali Ibu ini.

Akhirnya Pra MOS dibuka, dan aku sekarang siswa SMA 1 Purworejo. Alhamdulillah.

 

Berasal dari kisah-kisah di atas, aku mau mengingat jasa-jasa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa penting dalam hidupku itu. Ya, masuk SMA 1 menurutku merupakan sebuah fase lompatan yang jauh. Dan proses lompatan yang jauh memang tidak mudah, kita tahu itu.

Bapak, superhero yang tenang. Ibu, ya walau cerewet tapi luar biasa. Bapak Ibu guru SMP N 20, yang baik hati itu, mau mengadvokasi bekas muridnya yang ceroboh, terutama Pak Kumpul yang ternyata beliau paling getol meminta advokasinya. Tak lupa juga Bapak Karyawan juru kebon yang luar biasa tulus hatinya, tak tergoda ratusan ribu didalam map berisi berkas-berkas pendaftaran. Yudha, sahabat perjuangan SMP hingga SMA. Bapak Ibu guru di SMA 1 Purworejo, Bu Astuti yang walau selama 3 tahun di SMA 1 tidak pernah diajarnya, tapi beliau telah memberikan impresi kuat akan SMA 1 ini padaku. Mungkin juga buat penumpang angkot, mohon maaf berprasangka buruk. Tapi aku sadar semenjak itu, orang purworejo baik-baik. Walau muka jahat, ya nggak akan sejahat itu. Buktinya aku bolak-balik berkendaraan umum 30 kilometer rumah-sekolah tak pernah kecolongan/kecopetan.

Haha, teman-teman yang baca ini. Moga dapat mengambil hikmah dari cerita yang mungkin masuk dalam catatan sejarah penting hidupku karena betapa krusialnya masuk SMA 1 ini. SMA yang mengajakku melihat dunia lebih luas, melihat mimpi-mimpi baru yang tinggi, hingga kini berkuliah di Bandung. J

Gerbang Depan SMA 1 Purworejo

Gerbang Depan SMA 1 Purworejo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s