Biografi Tokoh Favorit

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya guru dan ibunya pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.
Berikut ini riwayat penjara dalm hidup Pramoedya; 3tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang .
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis.
Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.
Tetralogi Bumi Manusia yang membawa pengaruh dalam hidup saya dan itu ternyata sangat inspiratif. Pramoedya melalui tokoh Minke ternyata membawa saya pada sebuah ketertarikan untuk menulis dan membawa saya lebih tau tentang sebuah idealisme. Novel yang menceritakan seorang Minke, seorang jurnalis pertama di Indonesia yaitu pada masa penjajahan Belanda. Minke memperjuangkan bangsa-bangsa ini melalui tulisan-tulisannya, melalui koran terbitan pribumi pertama di jamannya yaitu: Medan Prijaji. Medan Prijaji merupakan sarana yang dibuatnya untuk menyatukan para priyayi yang ada di jawa untuk berkumpul dan bersatu menentang belanda, jauh sebelum Boedi Utomo lahir.
Selain Tetralogi Bumi Manusia ini saya juga membaca karya-karya lainnya seperti Gadis Pantai, Larasati, dan lain-lain. Karya-karyanya banyak digunakan sebagai kritik kepada pemerintahan, sampai-sampai Beliau di lempar ke penjara karena kritik-kritikannya baik pada masa Kolonial, Orde Lama, Maupun Orde Baru. Dari novel itu saya jadi terpengaruh oleh-oleh tulisannya.
Beliau harusnya menjadi kebanggan bangsa Indonesia, namun karena tulisan-tulisannya pula dia oleh pemerintahan menjadi orang yang terlupakan. Tulisannya diterjemahkan ke 36 bahasa asing namun peredarannya di Indonesia sendiri justru dilarang pada waktu itu. Saya bersyukur terlahir pada tahun 1992 dimana saat saya masuk umur remaja buku-bukunya sudah tidak dilarang lagi. Jika kita membaca JK Rowling kita cuma akan mendapat fantasinya, namun membaca Novel Pramoedya kita akan mendapat berbagai kisah, fantasi jaman 1910an, nilai perjuangan pergerakan, dan nilai sejarah yang menunjukan siapa sejati kita sesungguhnya.

Thoriqul Huda
Meteorologi 09
FITB 09
16309157

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s