Chili dan Blekberi

Aku datang di dunia,

di antara dua golongan yang terpisahkan.

Selalu menjadi orang yang berpikir lain.

Kerasnya mengarungi dunia menjadi yang kecil,

ketakutan akan monarki,

keberanian berkumandang.

Kemegahan yang di institusi,

membuatku sendiri.

Kepalsuan hak milik,

aku tak tau mesti menyesal atau bersyukur.

Hidup dimana ketidak umuman menjadi barang pasaran.

Kuingat, roket yang mengantar cabai,

ke harga tertingginya dalam sejarah.

Semua berkokok komentar.

Orang seperti tetangga desaku,

sampai mahasiswa yang ngga doyan pedes.

Suatu ketika

ramai layanan blekberi mau diblokir.

Satu sisi orang berkomentar dan protes.

Satu sisi siapa peduli.

Pada suatu ketika lagi,

aku ditunjukan kelakuan seorang anak.

Dia bersaksi pada orangtuanya,

bahwa handphone nokianya hilang,

padahal tidak.

Demi blekberi baru.

Sebegitukah daya tarik blekberi?

Orang-orang buru-buru punya,

meski baru SMA,

yang masih meminta-minta ke orang tua.

Orang kecil bersibuk-sibuk membuat sambel terasi,

orang kaya membeli saus produk luar negeri.

Orang besar sibuk BBM-an,

orang kecil cari-cari gratisan sms,

pakai HP cina.

Oh, sama.

Hanya dibolak-balik saja rupanya.

Wajah ini wajah Indonesia.

Teman, apa gunanya kita bicara banyak soal blekberi. Toh dia hanya rugikan sebagian kecil diantara kalian. Barangkali memang transaksi haram banyak ada disitu. Mulai dari korupsi pejabat disitu, sampai berbagi jawaban soal ujian oleh siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi. Sebegitu banggakah kalian dengan produk itu?

Jika mau protes, proteslah pada ahli informatika, elektronika, mikroprosesor. Lebih banyak bukan dibanding ahli pertanian dan kebumian? Merekalah pelayan kepuasan kalian. Mintalah mereka buat produk, jaringan, dan service di negeri sendiri. Biar kalian bangga gunakan produk sendiri.

Hai orang-orang kecil, orang yang lebih beruntung dari kalian sedang beribut-ribut soal yang namanya layanan, blekberi namanya. Yang ikut bicara sampai menteri. Tapi tak usahlah kalian ikut ribut. Aku beri informasi saja buat kalian, cuaca ekstrim masih terus berlanjut. Waspadai saja. Kalian banyak-banyaklah cari informasi. Oh ya, mungkin bisa kubilang : Pranata Mangsa sudah tidak berlaku lagi, sekarang saatnya kalian maju dan melek. Ya meski kominfo kita lebih suka berdebat soal blekberi itu dibanding nyampein informasi cuaca dan iklim dari BMKG atau solusi dari departemen pertanian dan departemen kelautan dan perikanan.

Aku? aku akan tetap menjadi orang yang berada di dua tempat ini. Menjadi orang yang selalu dinilai aneh lewat tulisan-tulisannya. Sampai nanti aku akan bertemu takdirku, apakah akan bergabung ke golongan yang beruntung atau kembali ke muasal yang kecil. Tapi karena do’a dan harapan orangtua untuk jadi yang pilihan pertama, aku berusaha. Kalaupun tidak, aku percaya Allah selalu baik kepada ciptaanNya. Karena memang dia yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

‘Aku utusan yang kecil, dari golongan orang kecil, yang selalu kesepian dengan pemikiran-pemikiran emosional’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s