Idola

Idola! Hahaha, setiap orang punya idola. Seorang Ahmad Dani sendiri yang dewa sekali di masalah musik punya idola, Queen. Sebentar, pasti ada yang bertanya ‘Kenapa Ahmad Dani?’. Ah kau kawan, terlalu banyak tanya. Aku kan bicara sekenanya saja. Ibarat Ojan yang sangat mengidolakan Rooney atau si Adam yang begitu mengagumi Tiffany dari Girls Generation ‘SNSD’. Sah, setiap orang punya idola itu sah.

Idola tentunya adalah seseorang yang memiliki daya tarik tersendiri bagi kehidupan fansnya. Bahkan harusnya idola itu menginspirasi bagi penggemarnya. Ah, kata gemar tidak pas nih. ‘Tito gemar bermain laying-layang’, berarti Tito adalah orang yang sering bermain laying-layang. Bandingkan, ‘Tito penggemarnya banyak!’. Waw, banyak orang yang sering melakukan sesuatu terhadap Tito. Wah bahaya. Tapi tidak apa-apa. Kan cuman kata-kata.

Agung : Siapa idola loe?
Riki : Wulan Guritno.
Agung : Kenapa Wulan Guritno?
Riki : Ah, loe payah nih. Wulan Guritno itu cantik parah boy. Dia itu wajahnya Indonesia banget. Anggun dan seksi. Udah gitu dia tuh ya, ga pernag digosipin miring sama media. Loe pernah denger ada kasus miring dari media?
Agung : Kagak, kagak tau maksudnya. Emang gue suka liat infotaimen?

Oke, intinya sederhana. Kita harus tahu siapa sebenarnya idola kita. Kamu kenal nggak sama idolamu?
Kawan, menurutmu idola mesti tokoh protagonis ga sih?

Sebagian tidak menjawab harus. Tapi dari semua yang jawab, pastinya tokoh idola mereka adalah seorang protagonis. Ada yang menjadikan sosok Hitler sebagai idola? Mungkin hanya untuk kalangan tertentu saja. Coba tanyakan ke umat muslim di seluruh penjuru dunia, siapa yang tidak mengidolakan Nabi Muhammad? Atau Tanya ke umat Budha, siapa yang tidak mengagumi sosok Sidharta Gautama.

Aku ingin bercerita tentang idolaku. Entah kenapa aku tak punya seorang idola yang cukup bisa bertahan sampai saat ini. Zaman kecil dulu, siapa yang tidak mengenal Power Rangers. Aku salahsatu orang yang rela hari minggunya dihabiskan untuk menyimak episode demi episode sampai akhirnya musuh utama yang paling kuat kalah. Ranger merah adalah idolaku setiap season. Mulai dari yang paling pertama Mighty Morphin, sampai dengan terakhir akau tonton Power Rangers Ninja Storm. Ceritanya aku selalu membeli wayang-wayangan bergambar power rangers tersebut. Wayang disini maksudnya selembar karton A4 yang berisi 36 gambar kecil-kecil tokoh-tokoh yang terlibat dalam film tertentu. Sebatas cerita dalam film dan itu gambar itu saja aku mengenal idola. Namun aku nggak tahu kenapa aku bisa saking bersemangatnya beaksi layaknya power rangers.

Setiap pulang ngaji, dulu aku sering sekali bertingkah layaknya power rangers. Berlari misalnya, entah kenapa aku suka berlari. Layaknya Power Rangers Lost Galaxy, aku berlari sambil merunduk dengan tangan terbuka kedepan sambil pura-pura memegang pedang, kuda-kuda dinamis. Atau ketika dulu masih sering mandi di kali. Aku suka sekali meloncat dari tebing setinggi 2 meteran lalu mendarat di kali yang dalam. Karena aku ranger maka aku harus bergaya layaknya power rangers, sebelum meloncat aku menyerukan kata-kata ‘saatnya berubah!’ dengan diikuti gerakan tangan yang sesuai dengan season yang sedang berlangsung. Dulu aku juga suka membuat pedang-pedangan dari kayu atau bambu bersama teman-temanku. Lalu aku bermain perang-perangan di sawah. Aku sebagai Ranger Merah.

Menginjak remaja, intensitas kanak-kanak makin berkurang. Perhatian mulai beralih ke sepak bola. ower Ranger lama kelamaan luntur dikarenakan sudah tidak patas lagi bermain seperti itu. Malu kan ya, teman-teman SMP sudah pada mulai pacaran, eh aku masih aja hari minggu diisi dengan menonton power rangers.

Walhasil, aktivitas menonton di hari minggu siang beralih agak awal atau agak malam. Biasanya minggu pagi jam 3an bangun untuk menonton Serie-A. Pagi atau sorenya dipakai buat aktivitas bermain bola di lapangan kampong. Atau minggu malam terpaksa tidur agak larut karena paling tidak harus menonton serieA sampai jam 11 malam. Dari serieA, muncul idola baru. AS Roma dan Francesco Totti. Kalau kau tahu kawan, karena tugas membuat kliping bahasa Indonesia, aku menyempatkan diri tiap sore pergi ke Rumah seorang pembuat tempe, utuk mendapatkan informasi seputar olahraga kaki dan AS Roma serta Francesco Totti untuk kemudian dijadikan sebagai bahan kliping.

Sampai terakhir kelas 1 SMA aku menggunakan Francesco Totti sebagai bahan kajian tugas, waktu itu deskripsi tokoh idola menggunakan bahasa inggris. Aku mempresentasikannya dengan agak canggung.

“….He is handsome…”

“Like me?” Pak Aziz sebagai guru pembimbing waktu itu mencoba menyambung. Aku agak terkaget karena ada yang menyeru. Lalu aku sadar,

“Oh yes, he’s handsome, like me..”

Hampir satu kelas tertawa, hahaha. Hampir, aku tak bisa memastikan kalau semuanya tertawa. Soalnya aku juga deg-degan.

Kala SMA sendiri, aku mulai berubah. Bukan hanya sepakbola idolaku. Penulis dan tulisannya. Bu Inem penyebabnya. Karena tugas membaca buku minimal 5 buah tiap satu semesterlah lantas aku waktu itu mulai tertarik membaca. SMP aku sempat pernah baca-baca teenlit. Namun karena isinya begitu-begitu saja, aku nggak tertarik, agak sedikit tertarik dengan puisi, karena pas jaman SMP kakakku sering membawa pulang Horizon dari sekolah SMAnya ke rumah, puisi sedikit menarik, tapi lain dengan yang SMA.

Pramoedya Ananta Toer. Sekuel Bumi Manusianya yang membawa aku ke euphoria novelisme. Dan hasilnya luar biasa sekali kawan-kawan: Menulis mulai aku gemari. Dari awal yang cuma cerita aneh tidak jelas arahnya menjadi cerita yang menurutku cukup beralur. Mulanya aku sering berandai-andai.

Kisah yang kutulis biasnya fiktif sekali, sempat sebagai tugas membuat cerpen kutulis cerita cinta tentang seorang remaja yang meninggal karena kebut-kebutan dijalan sehingga menabrak truk. Penyebabnya karena dia patah hati melihat pacarnya diboncengin sampai rumah oleh sahabatnya. Eh, setelah meninggal baru terungkap bahwa ternyata dia dicintai sekali oleh pacar dan sahabatnya itu. Dan yang dia lihat itu memang cuma kesalahpahaman.

SMA aku membaca birunya Mira W, agak saru memang. Tidak lupa dwilogi Jalan Menikung milik Umar Kayam, Ronggeng Dukuh Paruk milik siapa aku agak lupa, Ladang Perminus punya Ramadhan KH, kumpulan cerpen dari Forum Lingkar Pena Jawa Tengah, serta cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma. Menginjak kelas 3, setelah aku tuntas membaca 3 dari 4 sekuel Bumi Manusia, aku membaca Laskar Pelangi dan juga Karya-Karya Habiburrahman El Shyrazi. Ini membawa aku ke aliran yang lebih realis. Bukan sekedar andai-andai ataupun cerita yang berdiksi sulit dipahami.

Catatan buat diriku sendiri, aku tidak terlalu suka membaca Novel terjemahan. White Painted House(Rumah Bercat Putih-John Grisham) menurutku tidak indonesia banget. Walau bagus tetap saja aneh. Ini yang membuatku tidak terlalu suka baik pada The Lord of The Ring ataupun Harry Potter.

Jadi idolaku di masa SMA adalah: Pramoedya Ananta Toer. Walaupun agamanya nggak jelas, gerakan kiri, maupun rokoknya, saya mengidolakan dia sampai saat ini. Mungkin sekarang harusnya membaca karya-karya lain beliau seperti: Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995),Arus Balik (1995), namun keterbatasan dana sehingga nggak mampu membeli. Hahahaha

Kuliah aku benar-benar kehilangan idola. Tak ada sesosok orang atau tokoh fiktif yang inspiratif. Harusnya Andrea Hirata menceritakan Ikal dan Arai saat zaman kuliahnya dulu. Bukan tiba-tiba jleg lulus kuliah kemudian S2. Kemudian jalan-jalan keliling eropa. Ataukah si Habiburrahman menceritakan Fahri, tapi terlalu percintaan itu, apalagi Azzam yang justru kuliahnya kendor gara-gara berjualan Bakso dan tempe. Hahahahaha terlalu banyak alasan sih sebenarnya, bilang aja males. Negeri 5 Menara bercerita mengenai Pondok Madani dan 5CM lebih kearah ‘segalanya indah apabila ada penerimaan’.

Oke, mulai dari Power Ranger, Francesco Totti, sampai Pramoedya Ananta Toer. Lalu siapa idola saya? Siapa? Ah, kenapa tidak mencari idola yang lain? Nicolas Steno mungkin, yang menemukan teori stratigrafi dll di bidang geologi. Atau Ilmuwan lain? Penulis lagi? Atau sekarang ahli ekonomi? Ah tidak… Aku tak punya gagasan. Siapa yang harus kukagumi? Pertanyaan itu mendengung bagaikan petir yang masuk dalam botol.

Lalu aku berpikir dalam. Setelah agak lama, sekarang aku mengagumi diri saya sendiri. Aku ngfans sama diri sendiri, aku ngerasa aku memang pantas untuk diidolakan.

Namun sekarang, baru sekarang. Engkau harus tahu, diri sendiri takkan bisa jadi idola. Karena kita berubah biasanya karena ada perubahan pada idola kita itu. Kalau kita sendiri yang jadi idola, maka kita akan menemukan diri kita dalam bentuk yang sama, tidak ada bentuk perubahan.

Krisis idola, saya rasa saya sekarang krisis idola.. hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s