Nonton Final AFF di Kampung

Akhirnya, setelah di bandung didera ujian sama aktivitas yang supersibuk, aku bisa pulang ke kampong halaman dengan bersiap dengan aktivitas rumahan. Hal yang paling aku tunggu yaitu nonton bareng final AFF dengan teman-teman SMA di alun-alun.
Kemarin itu harusnya aku melakukan hal itu. Namun karena gerimis dan orangtua agak melarang, serta akunya yang tidur siang kelampau jauh jam setegah lima sore padahal jam 5 janjian di sekolah akhirnya niatan nobar temen SMA aku batalin. Sedih juga.
Namun, keadaan itu bisa diatasi. Di sinipun dekat rumah yaitu kebetulan rumah paman ada TV lumayan besar, ternyata ramai juga yang ikut nonton. Ya bisa disebut nobar juga. Ketemu dengan sepupu-sepupu, haha asik lah. Komentar-komentar unik ala orang udik bermunculan sepanjang pertandingan. Misalnya begini, “Wah dukunnya kurang ni Garuda. Banyak dukun yang di sewa oleh Malaysia. Asal dikasih makan pasti mau mereka.” Aku berkesimpulan, yang harus dipupuk nnasionalisme yang tinggi tidak hanya para mahasiswa, tapi juga murid-murid dukun yang nantinya bakal menjadi generasi penerus perdukunan. It just a kid.

Yap, saya akui final yang luar biasa bagi kedua kubu. Indonesia yang sudah sekian kali tampil di final AFF berharap besar bisa mencuri trofi mumpung musuhnya ‘Cuma’ Malaysia. Namun ternyata Malaysia tak tinggal diam, dengan sederet pemain muda mereka tampil mengesankan setelah takluk 5-1 dari Indonesia di babak penyisihan. Pertemuan kedua Negara di final semakin membuat panas hubungan keduanya. Saling klaim, ejek-ejekan di media memenas lagi karena begitulah sepakbola yang memang sangat sensitive sekali buat mempertaruhkan harga diri.

Meski pada final leg 1 yang di gelar di kandang Malaysia, Indonesia mengalami kekalahan telak 3-0 harapan besar untuk bisa menjuarai AFF masih menderu dalam hati. Semuanya benar-benar menyimpan harapan. Pemain Indonesia harus benar-benar berjuang habis-habisan untuk membalikkan keadaan akibat kekalahan telak 3-0 itu.

Babak pertama diakhiri dengan skor 0-0. Cukup mengecewakan memang melihat waktu untuk mengejar ketertinggalan 3-0 tinggal 45 menit. Semangat pendukung yang sedang nonton barengpun mulai mengndur. Aku bisa merasakan betapa frustasinya para pemain timnas yang bertubi-tubi melakukan serangan ke gawang Malaysia berujung tanpa gol. Pinalti dari Firman Utina gagal dan itu memang amat sangat memukul mental para pemain, namun salut babak pertama mereka tetap menampilkan permainan menyerang.

Babak kedua dimulai, semuanya dengan hati-hati menyaksikan. Tiap-tiap peluang yang dihasilkan oleh Indonesia pasti diakhiri dengan helaan panjang, sebuah celaan mualai muncul. Ibarat petaka, hal itu datang juga. Safee Sali mendapat operan terobosan dari kawannya dan akhirnya dia ceploskan bola dengan kencengnya di gawan Markus. Semua terhenyak, kecewa, bingung. Tak terlihat sorai dari kubu-kubu manapun di sisi penonton. Dapat kulihat melalui kamera yang dilayangkan sebentar oleh cameramen kea rah penonton. Yap semuanya takkan menyangka bluder Maman berakibat fatal.

Sudut pandang lain kudapatkan ketika kamera menyorot ke bangku pelatih malaysia. Aku tiba-tiba tercengang melihat mereka berangkulan dan saling memeluk. Rajagopal yang dari mukanya terlihat pasti orang India berangkulan dan berpelukkan dengan asisten pelatih dan kru yang jenisnya juga berbeda yaitu melayu dan cina. Aku jadi iri pada mereka. Menunjukkan bahwa dengan sepakbola mereka bisa tunjukkan persatuan dan kesatuan mereka. Aku jadi iri.

Sedikit OOT, kita bisa melihat bahwa perkembangan pembangunan di Malaysia tak lepas dari kontribusi semua manusia yang hidup ditanah mereka, entah Melayu sebagai bangsa local, india maupun cina sebagai mayoritas pendatang. Bayangkan mereka sudah punya perusahaan mobil sendiri yang lumayan punya taji di dunia otomotif dunia, perusahaan minyak mereka yang bisa sampai mensponsori salahsatu tim F1 beberapa tahun terakhir.Kental sekali kontribusi pendatang buat Negara Malaysia, termasuk Indonesia sebagai pemasok TKI terbesar bagi negara mereka.

Lalu kita refleksikan ke Negara kita. Agak sedih melihat kenyataan memang, melihat nasionalisme yang masih lemah diantara insan-insan didiknya. Aku sedih melihat ras-ras non pribumi yang kuliah bareng di satu kampus, ternyata mereka lemah dalam pergerakan. Eksistensi dalam kemahasiswaan(maaf apabila frontal) baik di himpunan maupun terpusat masih lemah sekali. Padahal bisa kita rasakan betapa pentingnya kemahasiswaan demi memupuk nasionalismemelalui idealisme yang terbentuk dari proses kaderiasasi yang tak pernah berhenti di kemahasiswaan.

Melihat jejak-jejak merekapun masih langka sekali, jarang sekali atau bahkan belum pernah aku melihat sosok seorang keturunan cina duduk sebagai aktivis kemahasiswaan. Ketua himpunan, presiden KM, ketua unit. Padahal mereka juga masa depan bangsa. Mereka lahir dan hidup di Indonesia, sudah sepatutnya mereka berbakti ke tanah lahir dan hidup.

Aku terheran-heran apabila melihat ras mereka bercakap-cakap. Tak pernah lepas dari kata impian mereka untuk bekerja di perusahaan asing, Sclumberger, Hariburton, Total, dll. Dalam hati aku selalu menggerutu,”Ah dasar orang ….”. Aku sangat berharap bertemu dengan teman seorang suku non pribumi yang punya mimpi lain, namun belum pernah bertemu. Ingin aku sampaikan salam semangat mengabdi buat dia. Ya namun belum pernah kutemukan dia.

Apabila menilik kondisi persepakbolaan Indonesia, aku belum pernah melihat seorang pemain berkewarganegaraan Indonesia namun dia keturunan Cina. Aku melihatnya justru dikubu Malaysia, sang kiper yang mukanya putih sipit dan rambutnya lurus, disana sepakbola menjadi olahraga semua ras. Dan di sana semuanya berpelukan.

Orang cina itu, di Indonesia paling-paling menjadi pedagang, kalau tidak ya mereka bikinn perusahan, atau mereka dengan kepintarannya mereka memimpin perusahaan-perusahaan asing. Mana ada orang Indonesia keturunan cina memimpin sebuah parpol, mengsung dirinya sebagai wakil rakyat bahkan presiden barangkali. Bosan aku melihat celoteh-celoteh di parlemen yang cumin diisi oleh orang jawa dan batak. Harusnya semua elemen masuk dong, toh mereka juga orang Indonesia, KTP mereka, ya kalau KTP pastinya harus orang Indonesia dong.

Yaa maaf apablia saya terlalu rasis, dan cuma menyoroti bagian cina saja. Memang orang cina kan yang paling dominan sebagai penduduk non pribumi. Ya moga saja tulisan saya disini mendapat respon positif lah ya. Apabila kemarin saya diajarkan mengenai makna ‘satu’ itu melalui berangkul dan melompat-lompat bersamaan, aku ingin sekali merangkul dan berlompat bersama semua orang dari seluruh penjuru Indonesia, baik pribumi maupun non pribumi. Aku ingin menularkan nasionalisme dan semangat mengabdi pada bangsa kepada teman-teman yang lain.

Kembali ke pertandingan, gol yang tercipta dari Malaysia pun tidak terlalu mengganggu konsentrasi pemain seperti yang kukhawatirkan sebelumnya. Punggawa-punggawa timnas berubah menjadi lebih beringas. Ahmad Bustomi yang tampil heroik, M Nasuha yang berkali-kali overlapping, Masuknya Bambang Pamungkas dan Eka Ramdani membawa angin segar stamina yang nampaknya mulai kendur.

Inilah hasilnya, dari pergerakan Ahmad Bustomi yang tak kenal lelah akhirnya gol tercipta dari kaki M Nasuha. Seluruh pendukung terhentak dan bersorak-sorai. Masih ada kesempatan lagi Garuda. Empat gol lagi. Berkali-kali usaha mereka bisa ditahan dan keluar sasaran. Semangat tak pernah padam pemain timnas membuat semua tak putus arang, akhirnya gol kedua tercipta. Melalui kaki M Ridwan akhirnya gol itu tercipta. Semua bergempita menyambut kedua itu.

Sampai pertandingann usai, ternyata tak ada gol lagi yang tercipta. Meskipun gagal juara, ternyata ada kebanggan sendiri terhadap timnas, karena bagaimanapun itu mereka telah berusaha sekuat tenaga, sampai akhir semua bertarung dengan beringas. Pertandingan luar biasa, aksi heroik yang belum pernah kusaksikan di liga manapun bahkan di piala dunia. Faktor GBK juga barangkali, luarbiasa disana menjadi lautan merah.
Lalu usai pertandingan, bisa kusaksikan respon positif dari teman-teman di facebook dan twitter. Ya seperti biasa, world Trending Topic itu dipenuhi dengan hashtag dari supporter Indonesia. #supportindonesia #loveindonesia #garudafightsback Ahmad Bustomi. Semua memberi apresiasi yang luarbiasa.

2 thoughts on “Nonton Final AFF di Kampung

  1. andihendra mengatakan:

    duh dek, tulisanmu karena terlalu kecil jadi g enak dibaca😀
    terus, antar paragraf mending kasih enter lagi deh, biar kelihatan agak renggang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s