Petani Dan Entrepreneur

Petani itu entrepreneur kawan. Jadi jika kalian ingin jadi entrepreneur, jangan jauh-jauh dari petani. Karena dengan itu kita akan lebih tahu.

Mungkin kalian akan sedikit merasa tersinggung atau teremehkan setelah membaca tulisan-tulisan saya berikut ini. Ya baguslah kalau misalnya bisa jadi barang pertimbangan buat kehidupan anda, meski nanti pernyataan saya bersifat antagonis. Ibarat kata Arai, just love me or hate me, but don’t spare me with your indifferent. Mending dibenci daripada diacuhkan bukan? Mending jadi antagonis dibanding gabut atau figuran. Hahaha😀

Ah, gagasan utamanya adalah sederhana. Indonesia agraris. Hanya itu saja. Ya kita tahu sendiri lah kawan-kawan, Indonesia punya apa sesungguhnya, Indonesia tak punya apa sesungguhnya.

Kenapa petani itu entrepreneur? Petani itu mikir, bukan nglakuin. Maaf disini perlu dibedakan buruh tani dengan tani. Orang yang saya maksudkan adalah si petani. Seorang entrepreneur punya perencanaan, ya seorang pengusaha punya bisnis plan, dan petani punya pranata mangsa atau jelas petani punya perkiraan mau nanam apa. Bahkan sesame petani saling diskusi kawan.

Entrepreneur butuh modal? Yah, pengusaha membutuhkan modal. Petani juga butuh modal, petani membeli bibit, membeli pupuk, petani membeli pestisida, petani membeli solar untuk traktornya. Bisa juga petani bersifat kapitalis, layaknya pengusaha pada umumnya.

Entrepereneur ada pengambilan resiko (taking a risk), yap si pengusaha punya banyak pilihan dan harus emilih dari pilihan itu. Petani mengambil resiko dalam penentuan masa-masa dan tahap bertani, menentukan metode penanaman, menentukan perihal kebijakan keuangannya. Petani itu juga yang menentukan perihal penentuan kapan waktu yang tepat menjual hasil panennya, kapan memanen yang tepat.

Entrepreneur bisa menemukan solusi, pengusaha akan melakukan tindakan-tindakan tertentu berkaitan solusi jika terjadi ancaman atau gangguan terhadap usahanya. Petani juga begitu, petani punya solusi jika hama tertentu menyerang, apabila tikus mulai menyerbu, apabila pencurian mulai marak. Mereka tangani dengan pestisida, racun tikus, tunggu atau jaga malam di sawah-sawahnya dengan cara mendirikan gubuk-gubuk di sawah.

Entrepereneur punya perhitungan laba/rugi dan produksi. Yah, pengusaha punya cara tersendiri dan canggih perihal akuntansi dana usaha mereka. Petani dengan cara sederhana dalam pehitungan dana bertani mereka. Setidaknya sekedar pembukuan dalam otak, mereka telah menyimpan data-data berapa kemarin habis modalnya, berapa untung yang dihasilkan, kemudian meghitung untung dan ruginya.

Apalagi jika kita lihat sosok sang petani itu. Ah, sama persis dengan seorang pengusaha. Kita bisa lihat dari jadwal keseharian mereka. Jadwal mereka tidaklah dari jam 7 sampai jam 5 sore, tidak. Mereka bekerja, pergi ke sawah sesuka hati mereka. Mereka kerja bisa jam enam pagi berangkat, pulang jam 10. Kemudian istirahat siang sampai jam 2. Berangkat lagi cuma sampai jam empat sore. Tidak ada waktu buru-buru buat mereka, tidak ada paksaan diantara mereka, jikalau capek mereka istirahat, tidak ada mandor-mandor yang selalu marah-marah, tiada supervisor yang cerewet. Sesama petani kadang mereka beristirahat dibawah pohon rindang, bicara macam-macam. Sambil menikmati makanan kiriman istri digubuk. Bukankah hidup mereka santai? Santai tapi serius mungkin. Analoginya jika seorang pengusaha datang ke kantor dengan baju yang sopan untuk ngobrol bisnis, seorang petani datang ke gubuk diswah untuk ngobrol soal harga pupuk, ngobrol soal harga jual, ngobrol soal solusi hama ini itu, yah sama sebenarnya sih.

Lalu apa bedanya?
Nah mungkin bedanya, pada faktor tenaga. Petani kebanyakan masih mengandalkan tenaganya sendiri, mereka akan meminta tenaga buruh apabila mereka sudah tidak mampu menghandle sendirian. Misalkan pada saat tertentu yaitu saat penanaman. Kemudian saat panen. Untuk perawatan mereka lebih mengandalkan tenaga sendiri, ini karena tidak terlalu memakan tenaga besar.

Contohnya ketika menanam semangka, untuk membarengkan satu sawah ditanami semangka, satu petak sawah 1000 m2 tidak akan selesai sendiri, maka butuh empat atau lima orang. Lalu saat memanen, mereka akan meminta orang lain untuk memanenkannya. Si petani hanya akan berurusan dengan pembeli(tengkulak atau distributor), mereka hanya akan berurusan perihal pengawasan penimbangan hasil semangka mereka. Jadi, enak bukan jadi petani? Bahkan di Amerika pun seorang petani kebanyakan meiliki mobil. Sekiranya mobil seperti Ford Ranger lah.

Jadi siapa mau jadi entrepreneur? Siapa mau jadi petani? Kita semua yang akan berpikir, merencanakan, mengambil keputusan dengan segala resiko, akuntansi sederhana sampai ruwet, kita satu jiwa dengan mereka kawan-kawan. Orientasi tak melulu ke industri saudara-saudara. Atau jika kita mau ekstrim, jauhkan orientasi kita ke Industri Elektronik, Industri Otomotif, industri kimia dan sebagainya. Tapi mari kita orientasikan kita ke industry agraris, industri pengolahan makanan, industri alat penunjag pertanian seperti traktor dan penggilingan, industry pestisida herbal, serta industri perangkat instalasi renewable energy seperti solar cell, kincir pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik pasang surut air laut, pembangkit listrik tenaga arus laut.

Indonesia itu maha luas, Indonesia itu bermacam-macam, potensi Indonesia itu luar biasa banyak, namun ada potensi paling besar, yaitu dari sumber daya alam. Lalu kenapa kita pusing-pusing mikirin yang buatan. Apa kalian iri dengan amerika? Negara nan maju dengan segala teknologinya? Apa kalian ngiri dengan jepang karena industri mereka bisa maju? Bahkan Jepangpun iri dengan kita karena Tuhan anugerahkan tanah yang subur, penuh dengan bahan tambang dan minyak, dan kekhatulistiwaan kita. Sejak jaman dahulu bangsa eropa iri kawan, kenapa mereka selalu kedinginan dikala musim dingin, padahal mereka tak punya rempah-rempah. Melihat kita, melihat bangsa kita, bangsa yang tak pernah kedinginan, namun dianugerahi hasil rempah-rempah yang melimpah. Sadari itu!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s