Esok Hari

Esok Lagi

Senja tenggelam terganti malam,

seorang lelaki melintas dalam malu,

menyimpan perih.

Mencoba melawan ragu, malam ini.

Berharap malam ini sang gadis tau.

Namun dijerat lagi rasa itu,

dalam sunyi hingga esok,

hingga esok tak berubah.

Bintang dilangit kasihan juga,

Rembulan purnama tertawa,

Burung hantu hanya termangu kedinginan,

Lentera dimatikan,

Esok hari diulangi lagi,

Sampai rembulan tiada,

Sampai burung hantu kepanasan dalam panggangan.

Saat lilin benderang menyinari keningnya,

Keningnya yang memar ditonjok cinta dari dalam.

(Terinspirasi dari lagu ‘Laki-laki Pemalu- Efek Rumah Kaca’)

Eh, bener aku ga bisa nulis dengan sudut pandang orang lain. Susah juga ternyata yaa. Awalnya plagiatin lagu orang lain baru bisa nyambungin pake kata-kata sendiri.hehe

Esok Lagi

Senja tenggelam terganti malam,

seorang lelaki melintas dalam malu,

menyimpan perih.

Mencoba melawan ragu, malam ini.

Berharap malam ini sang gadis tau.

Namun dijerat lagi rasa itu,

dalam sunyi hingga esok,

hingga esok tak berubah.

Bintang dilangit kasihan juga,

Rembulan purnama tertawa,

Burung hantu hanya termangu kedinginan,

Lentera dimatikan,

Esok hari diulangi lagi,

Sampai rembulan tiada,

Sampai burung hantu kepanasan dalam panggangan.

Saat lilin benderang menyinari keningnya,

Keningnya yang memar ditonjok cinta dari dalam.

(Terinspirasi dari lagu ‘Laki-laki Pemalu- Efek Rumah Kaca’)

Eh, bener aku ga bisa nulis dengan sudut pandang orang lain. Susah juga ternyata yaa. Awalnya plagiatin lagu orang lain baru bisa nyambungin pake kata-kata sendiri.hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s